POJOKSATU.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Israel, Amerika Serikat dan Iran, belum mengganggu stabilitas keuangan Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah menyentuh level 80 dolar AS per barel.
Meski berada di atas asumsi makro dalam APBN 2026, pemerintah menilai kondisi fiskal nasional masih dalam batas aman.
“Harga minyak sudah ke 80 dolar AS per barel. Saya hitung sampai 92 dolar AS per barel pun kita masih bisa kendalikan anggarannya, jadi tidak masalah,” ujar Purbaya, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, Kementerian Keuangan telah melakukan simulasi dan penghitungan terhadap berbagai skenario lonjakan harga minyak dunia.
Hasilnya, anggaran negara masih mampu bertahan hingga harga menyentuh 92 dolar AS per barel.
Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan UM Metro: Dari Merger STIE hingga Buka Prodi S2 dan Sains Biomedis
Lonjakan harga minyak mentah global terjadi setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap fluktuasi harga energi dunia.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pihaknya masih menghitung dampak kenaikan harga minyak terhadap APBN 2026.
Sebab, harga minyak saat ini sudah melampaui asumsi yang ditetapkan dalam perencanaan anggaran tahun depan.
Sebagai negara pengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari, Indonesia berpotensi menghadapi tekanan pada belanja subsidi energi jika harga minyak terus naik.
Kenaikan harga minyak mentah dapat meningkatkan beban subsidi BBM dan kompensasi energi yang harus ditanggung negara.
Namun demikian, Purbaya menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak juga memberikan sisi positif bagi penerimaan negara.
Indonesia tetap memperoleh tambahan pendapatan dari sektor migas ketika harga minyak dunia meningkat.
Baca Juga: 5 Motor Yamaha 2026 yang Cocok untuk Lebaran, Bikin Silaturahmi Makin Stylish dan Percaya Diri
Artinya, terdapat keseimbangan antara potensi kenaikan beban subsidi dan tambahan penerimaan negara.
Pemerintah pun terus memantau perkembangan situasi global guna memastikan kebijakan fiskal tetap adaptif dan responsif terhadap dinamika yang terjadi.
Dengan perhitungan yang telah dilakukan, Kementerian Keuangan optimistis stabilitas fiskal nasional masih terjaga meski tekanan global meningkat.
Baca Juga: Bangun Ruang Tumbuh Ide, GIK UGM Cari Social Media Specialist hingga Fotografer, Ini Syaratnya
Pemerintah menegaskan akan terus melakukan evaluasi berkala untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk apabila konflik berkepanjangan memicu lonjakan harga energi yang lebih tinggi.***




