POJOKSATU.ID - Insiden nyaris tergulingnya truk pengangkut galon Aqua di jalur ekstrem Ciater berbuntut panjang.
Bukan hanya karena kendaraan tua itu tidak kuat menanjak dan mundur menghantam batu, tetapi juga karena Kepala Dinas Perhubungan.
KDM langsung datang ke TKP melakukan inspeksi mendadak (sidak).
Aksi sidak itu terjadi setelah percakapan viral warga dan sopir mengungkap dugaan kelalaian serius dalam uji KIR kendaraan berat.
Baca Juga: Wakapolri Turun ke Lokasi Bencana Alam di Sumbar, Cek Peninjauan Posko DVI untuk Pendataan Korban
Dalam video yang diunggah oleh akun YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL pada 3 Desember 2025 itu viral.
Lantaran sopir berusia 65 tahun tampak kewalahan setelah truk besar bermuatan galon itu nyaris terguling.
Warga menegur keras, mengingatkan bahaya yang mengintai jalur Ciater.
“Yang mahal itu nyawa, Pak. Bukan mobilnya,” kata seorang warga.
Baca Juga: Nenek Penjual Makanan di Cikarang Ditipu Uang Rp 50 Ribu Palsu, Warga Geram Tangkap Pelaku
Saat sidak berlangsung, KDM ikut memeriksa kondisi fisik truk yang tampak kedodoran, kelebihan beban, dan terlihat tidak laik jalan.
Situasi memanas ketika KDM menanyakan soal uji KIR kendaraan tersebut.
Di sinilah pengakuan mengejutkan keluar.
“Waktu KIR, kendaraan diperiksa enggak?” tanya KDM.
Sopir menjawab pelan, “Enggak.”
“Yang diperiksa apa?” “Suratnya.”
KDM langsung terkejut, warga yang mendengarnya spontan mencaci sistem KIR yang selama ini dinilai “asal lolos”.
KDM kemudian menegaskan bahwa jika benar kendaraan tidak diperiksa fisik, maka ada indikasi kuat praktik KIR bodong atau uji kelayakan hanya formalitas di atas kertas.
Ketika KDM bertanya apakah truk ini bisa lulus KIR jika benar-benar diuji sesuai standar, sang sopir kembali mengakui:
Baca Juga: Viral! Jalan Diblokade Pakai Kayu, Warga Dipalak Rp30 Ribu di Tengah Bencana, Netizen Tuai Kecaman Ini Krisis Moral!
“Moal… moal lulus.”
Sidak yang dilakukan KDM mengungkap kondisi lebih parah.
Truk Aqua keluaran tahun 2000 itu memuat galon dalam jumlah besar hingga warga terpaksa ikut membantu menurunkan barang.
Tidak ada petugas bongkar-muat, dan sopir lansia itu bekerja sendirian.
Baca Juga: Serang Gandeng Dua Daerah Demi PSEL Cilowong, Target Selesai Awal Desember
KDM menyebut kondisi ini berbahaya dan tidak sesuai aturan.
Karena jalur Ciater tidak diperkenankan dilewati kendaraan besar bertonase tinggi tanpa kontrol kelayakan ketat.
“Ini bukan sekadar masalah sopir,” ujar KDM di TKP.
“Ini masalah pengawasan lalai, KIR tidak benar, dan muatan berlebih yang dipaksakan.”
Warga pun menambahkan bahwa jika truk sebesar Aqua saja nyaris terguling, maka risiko untuk pengendara lain jauh lebih besar.
Jalur Ciater selama ini menjadi kawasan rawan kecelakaan maut.
Sopir juga mengungkap kerugian pribadi. Biasanya ia mendapat Rp150 ribu bersih per rit. “Sekarang mah enggak dapat, tekor,” keluhnya.
Insiden ini memicu kritik publik terhadap sistem pengawasan kendaraan berat.
Banyak yang mendesak agar Dinas Perhubungan Subang dan Bandung Barat melakukan audit total terhadap seluruh praktik uji KIR.
Sidak KDM di TKP semakin menguatkan dugaan bahwa sistem KIR selama ini hanya formalitas, bukan pengujian teknis yang menjamin keamanan jalan raya.***




