POJOKSATU.id – Fenomena tidak biasa terjadi di Stasiun Cikarang dalam beberapa pekan terakhir.
Ratusan penumpang, mulai dari buruh pabrik hingga pekerja harian, terlihat menghabiskan malam dengan tidur beralaskan lantai di area stasiun.
Sebagian bersandar di dinding, sebagian lain menumpuk tas sebagai bantal, sambil menunggu kereta pertama yang baru beroperasi dini hari.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 1.300 Brand Lokal Gantikan Jualan Baju Bekas Impor
Pemandangan ini menuai perhatian publik. Banyak yang bertanya-tanya.
Apa yang sebenarnya membuat begitu banyak penumpang memilih bermalam di stasiun.
Bahkan ketika pihak operator telah menegaskan bahwa stasiun seharusnya steril setelah operasional kereta terakhir?
Baca Juga: UMK 2026 Jatim Menghangat! Buruh Minta Kenaikan 8–10%, Pemerintah Soroti Dialog Tripartit
Fenomena ini bermula dari semakin padatnya aktivitas industri di kawasan Cikarang yang bekerja dengan sistem shift, terutama shift malam.
Para pekerja yang baru selesai bekerja sering kali keluar pukul 23.00 hingga lewat tengah malam.
Namun, pada jam tersebut, KRL relasi CikarangJakarta sudah tidak beroperasi lagi.
Kereta terakhir biasanya berangkat sekitar pukul 23.00 WIB, sementara kereta pertama baru datang sekitar pukul 04.00 WIB.
Kesenjangan waktu inilah yang membuat buruh dihadapkan pada dua pilihan menunggu kereta pertama sambil beristirahat di stasiun.
Atau mengeluarkan ongkos tambahan untuk transportasi lain yang biayanya jauh lebih tinggi dari tarif KRL. Banyak buruh memilih opsi pertama.
Di sisi penumpang, alasan yang sama juga diutarakan.
Seorang penumpang harian yang bekerja hingga larut malam mengatakan bahwa tidur di stasiun dianggap.
“lebih hemat” dibanding membayar ojek malam hari yang tarifnya bisa tiga hingga empat kali lipat.
Baca Juga: UMK 2026 Jatim Menghangat! Buruh Minta Kenaikan 8–10%, Pemerintah Soroti Dialog Tripartit
Namun, membludaknya penumpang yang menginap di stasiun tidak selalu berjalan mulus.
KAI Commuter menegaskan bahwa stasiun sebenarnya harus steril setelah kereta terakhir selesai beroperasi.
Pada jam tersebut, petugas melakukan pembersihan, perawatan jalur, hingga pengecekan fasilitas.
Karena alasan inilah, pihak operator tidak menyarankan adanya aktivitas bermalam di area stasiun.
Di sisi lain, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa pemerintah sedang mengkaji.
Kemungkinan penambahan jam operasi atau skema layanan baru untuk mengakomodasi kebutuhan pekerja malam.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 1.300 Brand Lokal Gantikan Jualan Baju Bekas Impor
Meski begitu, ia menyebut keputusan tersebut harus mempertimbangkan efisiensi biaya dan kesiapan operator.
Operasional 24 jam, menurutnya, tidak bisa serta-merta diberlakukan tanpa perhitungan matang.
Pengamat transportasi memandang fenomena ini sebagai “sinyal ketimpangan mobilitas”.
Aktivitas pekerja di kawasan industri yang berlangsung hampir 24 jam tidak diikuti ketersediaan transportasi umum yang memadai.
Solusi yang disarankan pun beragam, mulai dari penambahan satu dua perjalanan tambahan setelah jam operasi normal, hingga pengadaan kereta khusus buruh dengan tarif terjangkau.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 1.300 Brand Lokal Gantikan Jualan Baju Bekas Impor
Hingga kini, belum ada keputusan final terkait perubahan jam operasi KRL.
Namun yang pasti, semakin banyaknya penumpang yang menginap di Stasiun Cikarang.
Menjadi gambaran bahwa kebutuhan transportasi malam hari di kawasan industri tidak bisa diabaikan lagi.
Baca Juga: UMK 2026 Jatim Menghangat! Buruh Minta Kenaikan 8–10%, Pemerintah Soroti Dialog Tripartit
Fenomena sosial yang muncul ini bukan sekadar persoalan tidur di stasiun, tetapi cerminan nyata tantangan mobilitas ribuan pekerja setiap harinya.***




