POJOKSATU.ID - Bencana banjir dan longsor yang menghantam 17 wilayah di Sumatera Utara.

Meninggalkan luka yang belum sembuh, namun respons pemerintah kembali menjadi sorotan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia turun ke Desa Garoga, Tapanuli Selatan, Selasa 2 November 2025 sore.

Kehadiran ini seharusnya memberi harapan, tetapi justru meninggalkan pertanyaan besar tentang keseriusan pemerintah menangani bencana dengan skala sebesar ini.

Baca Juga: TelkomGroup dan Pemerintah Genjot Pemulihan Jaringan di Aceh dan Sumatra Pasca Bencana

Dalam kunjungannya, Bahlil datang bersama Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri dan Dirut PLN Darmawan Prasodjo.

Namun bantuan yang dijanjikan justru dianggap tidak sebanding dengan besarnya krisis.

“Tadi Bapak Kepala Desa meminta kebutuhan sebanyak 250 tenda. Minggu depan, akan kami serahkan langsung ke sini,” ujar Bahlil, dikutip dari Kompas, 2 Desember 2025.

Pernyataan itu langsung memicu komentar tajam dari warga maupun warganet. Pasalnya, jumlah pengungsi mencapai 538.792 orang.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Siapkan Lahan 5.000 m² untuk Gedung PN Baru, Pelayanan Peradilan Bakal Lebih Dekat

Janji memberikan 250 tenda tampak seperti solusi tambal sulam di tengah bencana berskala raksasa.

Data terbaru BPBD Sumatera Utara menggambarkan situasi jauh lebih kelam.

Hingga Selasa 2 Desember 2025 pukul 08.00 WIB, korban meninggal dunia mencapai 290 jiwa, sementara 154 orang masih hilang.

Sebanyak 614 warga luka-luka, dan lebih dari setengah juta orang harus mengungsi.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, menegaskan bahwa tragedi ini bukan bencana kecil.

“Masih ada 17 daerah yang terdampak,” ujarnya.

Lokasi terparah adalah Kabupaten Tapanuli Tengah, dengan 86 orang meninggal, 508 luka, 85 hilang, serta 7.382 pengungsi.

Disusul Kabupaten Tapanuli Selatan, tempat Bahlil berkunjung, mencatat 79 korban meninggal, 38 hilang, dan 5.366 pengungsi.

Baca Juga: Polres Karawang Selidiki Penemuan Jasad di Apartemen PP Urban Town

Kota Sibolga juga tak kalah memprihatinkan 47 korban meninggal, 12 hilang, dan hampir 18 ribu warga harus mengungsi.

Angka-angka ini menunjukkan besarnya bencana yang terjadi. Namun respons pemerintah dinilai tidak sebanding dengan darurat yang dihadapi.

Selain janji tenda, Bahlil juga meminta agar ESDM dan perusahaan tambang membersihkan material banjir dan longsor menggunakan alat berat PT Agincourt Resources.

“Saya minta ESDM membersihkan semua kayu-kayu ini,” katanya.

Baca Juga: Dinkes Tangsel Raih Prestasi Besar di KIPP Banten 2025, Inovasi Layanan Kesehatan Diapresiasi

Instruksi ini dianggap terlalu sederhana untuk medan bencana yang luas, rumit, dan penuh reruntuhan.

Warga menilai kehadiran pejabat pusat seharusnya membawa keputusan strategis, bukan sekadar imbauan teknis yang bisa dilakukan pemerintah daerah.

Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil juga menyampaikan belasungkawa.

Namun di lapangan, warga lebih membutuhkan tindakan nyata dibandingkan pernyataan dukacita politis.

Dengan jumlah korban yang terus bertambah dan pengungsi yang begitu banyak, bantuan logistik, dapur umum, tenaga medis, dan perlindungan darurat menjadi kebutuhan mendesak.

Tetapi hingga kini, belum ada pernyataan tentang percepatan status bencana nasional, langkah mitigasi lanjutan.

Atau penanganan skala besar yang mampu mengimbangi kerusakan yang terjadi.

Di tengah situasi genting ini, janji menyerahkan tenda "minggu depan" terasa lambat dan minim sense of urgency.

Baca Juga: Operasi Zebra Jaya 2025 di Tangsel, 735 Pelanggar Ditindak Polisi

Warga yang kehilangan rumah, keluarga, dan tempat tinggal membutuhkan kepastian penanganan cepat, bukan sekadar janji simbolis.

Bencana Sumatera Utara adalah tragedi kemanusiaan besar. Namun hingga kini, respons pemerintah pusat masih dinilai jauh dari sepadan.

Publik menunggu aksi konkret, bukan kunjungan seremonial yang tidak menjawab kebutuhan di lapangan.***