POJOKSATU.id, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, mengultimatum kepada pihak kepolisian melakukan razia untuk mengantisipasi aksi tawuran di wilayah Jabodetabek.
Hal ini karena ada salah satu pelajar yang putus, akibat aksi tawuran yang terjadi di flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Minggu 28 Januari 2024.
Aksi tawuran yang seringkali terjadi pada malam hari, menjadi ketakutan masyarakat untuk beraktivitas pada malam hari.
"Belakangan ini rasanya hampir setiap hari ada laporan masuk soal tawuran di Jakarta. Aksinya pun semakin sadis-sadis, kayak udah enggak ada hukum di jalanan," kata Sahroni melalui siaran pers, Selasa (30/1/2024).
Baca Juga : Duh Ngeri Tangan Seorang Pelajar Putus, Usai Menjadi Sasaran Aksi Tawuran
Dia mengultimatum kepada pihak kepolisian, agar melakukan razia lebih intensif dan juga masif. Selain itu juga, dapat memberikan hukum yang lebih berat kepada para pelaku aksi tawuran.
Selain itu, kerja sama sengan sekolah-sekolah juga perlu lebih ditingkatkan, demi memberi pengawasan yang lebih ketat pada aktivitas siswa yang mengarah pada tawuran.
"Saya minta Polda Metro Jaya koordinasikan seluruh polres dan polsek, untuk lebih komprehensif melakukan pencegahan. Ini sudah mengganggu kamtibmas, masyarakat jadi resah kalau keluar rumah. Jakarta sudah darurat tawuran,” tegas dia.
Baca Juga : Sudah 4 Remaja Aksi Tawuran Di Ciduk, Polisi Terus Memburu
Politisi Partai Nasdem juga meminta kepolisian berlaku tegas kepada pelaku aksi tawuran. Bahkan untuk memutus rantai tawuran, kata ‘korban’ harus mulai diganti dengan ‘pelaku’ bagi semua yang terlibat tawuran.
"Mereka-mereka semua yang melakukan aksi tawuran adalah pelaku pelaku kekerasan, bukan korban," ucap dia.
Oleh karena itu, dia ingin perspektif penegak hukum dalam melihat para pelaku tawuran juga harus mulai digeser.
Baca Juga : Duh Gara-gara Membuang Benda Ini, Membuat Perjalanan KRL Terganggu
"Kalau tidak, ini akan terus berlanjut dan seakan-akan kita berkompromi dengan aksi kekerasan," ucap Sahroni.
Di sisi lain, Sahroni meminta seluruh pemangku kepentingan turut mendukung aspek pencegahan tawuran, karena bagaimanapun, para pelaku adalah juga penerus bangsa yang perlu diarahkan pada kegiatan positif.
"Catatan paling penting yaitu soal pencegahan. Semua pihak, baik polisi, sekolah, murid, orang tua, dan sebagainya, harus duduk bersama membuat komitmen pencegahan," tutup Sahroni.***




