POJOKSATU.id - Kisah memilukan datang dari seorang perempuan paruh baya bernama Ibu Juju, sosok sederhana yang sehari-hari bekerja membantu pekerjaan rumah tangga.
Di balik sikapnya yang selalu terlihat sabar dan tulus, tersimpan cerita getir tentang bagaimana ia diduga dieksploitasi oleh pihak yang mempekerjakannya.
Cerita itu ia sampaikan sambil menahan tangis, seakan selama ini beban yang dipikulnya terlalu berat untuk ditanggung seorang diri.
Baca Juga: Legislatif Temui Kapolresta Serang, Soroti Keamanan dan Layanan Publik
Setiap hari Ibu Juju bekerja tanpa henti dari pagi hingga sore, mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah tangga yang memerlukan tenaga.
Mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah, hingga pekerjaan lain saat diminta.
Ia melakukannya di tengah panas dan lelah, tanpa pernah menuntut lebih meski kondisinya tidak selalu sehat.
Baca Juga: Sudah Berekspetasi Naik, Tapi Gaji Pensiunan Masih Mengacu PP 8/2024, Cek Daftar Besarannya!
Namun yang mengejutkan, dari semua jerih payah itu Ibu Juju hanya menerima upah sebesar Rp 50.000 per bulan.
Jika dibagi menjadi hitungan harian, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp 1.666 per hari.
Angka yang bahkan tidak cukup untuk membeli minuman kemasan di banyak tempat.
Baca Juga: Swadaya Warga RT 019 Plawad Berbuah Manis, Kas Sosial Terkumpul Rp 7 Juta Lebih
Saat ditanya mengapa ia tetap bertahan, jawabannya membuat hati siapapun langsung runtuh
“Asal dikasih makan dan tempat tinggal setiap hari, saya sudah bersyukur,” ucapnya lirih
Bukan karena ia benar-benar rela, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain.
Kemiskinan dan tekanan hidup membuatnya merasa terpaksa menerima kondisi yang tidak manusiawi tersebut.
Baca Juga: Legislatif Temui Kapolresta Serang, Soroti Keamanan dan Layanan Publik
Baginya, makan dan tempat tinggal adalah kebutuhan paling mendasar yang harus dipenuhi, meski harus dibayar dengan tenaga dan martabatnya sendiri.
Di balik kalimat penuh kepasrahan itu, Ibu Juju mengaku sering merasa tidak dihargai.
Ia merasa tenaganya diperas jauh lebih besar daripada upah yang diberikan.
Baca Juga: Sudah Berekspetasi Naik, Tapi Gaji Pensiunan Masih Mengacu PP 8/2024, Cek Daftar Besarannya!
Namun ia tidak punya keberanian untuk menolak atau melawan, karena takut kehilangan tempat tinggal yang menjadi satu-satunya pegangan dalam hidupnya.
Kondisi seperti ini bukan sekadar persoalan “rela atau tidak rela”.
Ini menyangkut keadilan dan hak asasi manusia yang seharusnya dilindungi oleh siapa pun yang mempekerjakan orang lain.
Baca Juga: Sudah Berekspetasi Naik, Tapi Gaji Pensiunan Masih Mengacu PP 8/2024, Cek Daftar Besarannya!
Setiap pekerja, apapun jenis pekerjaannya, memiliki martabat dan berhak mendapatkan upah yang layak.
Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan pemberian upah sekecil itu kepada seseorang yang bekerja setiap hari.
Kisah Ibu Juju hanyalah salah satu potret dari banyak nasib serupa yang mungkin terjadi di berbagai tempat di Indonesia.
Banyak pekerja rumah tangga dan buruh harian yang masih mengalami ketidakadilan, bekerja keras dalam diam namun tidak mendapat penghargaan dan perlakuan manusiawi.
Kisah ini seharusnya menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa setiap tenaga yang diberikan oleh seorang pekerja memiliki nilai.
Bahwa mereka bukan sekadar “pembantu” atau “pekerja harian”, tetapi manusia yang memiliki hak untuk dihargai dan diperlakukan dengan layak.
Baca Juga: Legislatif Temui Kapolresta Serang, Soroti Keamanan dan Layanan Publik
Harapannya, cerita ini menjadi pintu pembuka agar kasus-kasus serupa mendapat perhatian lebih luas.
Semoga Ibu Juju dan banyak orang lain yang bernasib sama dapat memperoleh hak yang seharusnya mereka terima.
Karena setiap manusia berhak hidup dengan martabat, tanpa harus mengorbankan harga diri hanya demi bisa bertahan.***




