POJOKSATU.ID- Fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, sejauh ini masih menjadi momok menakutkan yang menghantui para pekerja di Indonesia.
Dilansir dari keterangan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Ida Fauziyah, mengatakan bahwa tingkat PHK di Indonesia pada periode Januari-Agustus 2024 sudah mencapai 46.240 pekerja.
Diketahui, ada 3 sektor industri yang memiliki tingkat PHK paling besar.
3 sektor industri tersebut yaitu adalah sektor manufaktur, sektor teknologi, hingga sektor perbankan.
Menurut keterangan Ekonom sekaligus dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, alasan terbesar dibalik mengapa 3 sektor ini menjadi sektor paling terdampak adalah karena penurunan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Ais Anis
Serta peningkatan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam berbagai sektor pekerjaan.
"Kalau manufaktur, kita ini sudah lama tidak melakukan kebijakan industri yang tepat, sehingga 15 tahun terakhir sudah terjadi demanufacturing. Artinya, kontribusi sektor manufaktur kepada pertumbuhan ekonomi itu terus turun," jelas Achmad ketika dihubungi oleh Disway pada Jumat 20 September 2024.
Dari sektor teknologi sendiri, Achmad menjelaskan bahwa saat ini masih banyak lulusan atau pengusaha di bidang teknologi yang bergantung pada modal atau investasi demi keberlangsungan usaha mereka.
"Banyak lulusan teknologi ini yang bergantung pada investasi pada modal. Kalau mereka kalah modal, ya mereka gak bisa bersaing. Dan kelihatannya modal yang diperoleh oleh perusahaan-perusahaan teknologi kita sepertinya cukup mahal, Itu yang menurut saya cukup mempengaruhi," jelas Achmad.
Sementara dari sisi perbankan, Achmad mengungkapkan bahwa digitalisasi memiliki peran yang signifikan dalam tingkat PHK.***



