POJOKSATU.id, JAKARTA- BMKG menyatakan warga RI tahun ini bakal mengalami kemarau yang lebih panjang, yang diperkirakan terjadi mulai akhir Mei sampai September. Akibatnya suhu Jakarta terasa panas dan gerah.
Namun Suhu udara di aplikasi lebih tinggi dari laporan BMKG. Kok bisa seperti itu? Lantas apa penyebabnya ya?
Dalam beberapa hari terakhir, BMKG melaporkan suhu udara di wilayah Jabodetabek rata-rata 33 derajat Celsius.
Dikutip dari berbagai sumber, hasil data observasi suhu udara rata-rata di wilayah Jabodetabek adalah 33 derajat Celsius.
Sementara itu, kelembapan suhu relatif berkisar antara 60-75 persen di wilayah Jabodetabek, termasuk dalam kategori normal.
Bila dibandingkan dengan suhu udara di aplikasi smartphone lebih tinggi dan terasa (feels like) lebih tinggi daripada yang dilaporkan BMKG.
Nah, pengukuran suhu yang terasa pada aplikasi di aplikasi online cenderung menggunakan konsep Heat Index.
Heat Index menggunakan kombinasi pengukuran kelembapan udara dan suhu udara.
Heat Index atau juga disebut suhu semu merupakan perkiraan suhu (dalam derajat Celsius) yang juga akan mempengaruhi tubuh pada kelembapan normal (sekitar 20 persen).
Misal, bila suhu sebenarnya adalah 35°C dengan kelembapan udara 40 persen, indeks panasnya adalah 38°C, yang berarti suhu yang tampak terasa seperti 38°C bagi tubuh.
Maka, hasil suhu terasa pada aplikasi lebih besar dibanding dengan suhu udara pengukuran sekitar 33-34 derajat Celsius.
Hal diakibatkan dari kelembapan udara yang juga cenderung rendah berkisar 60-70 persen, sehingga suhu udara yang terasa akan lebih tinggi.
Sementara itu, Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini mengindikasikan cuaca panas yang tidak biasa di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Cuaca panas yang tidak biasa dapat merujuk pada situasi di mana suhu udara di suatu daerah naik di atas rata-rata untuk musim atau waktu tertentu.
Misalnya, jika suhu udara di suatu kota biasanya berkisar antara 28-32 derajat Celsius pada bulan Maret, tetapi kemudian mencapai suhu yang lebih tinggi dari itu seperti 35-37 derajat Celsius di bulan berikutnya, maka ini dapat dianggap sebagai cuaca panas yang tidak biasa.
Namun, cuaca terik sudah mengurung wilayah Indonesia sejak beberapa pekan terakhir karena femonena gerak semu matahari. Siklus tahunan tersebut berdampak pada wilayah Jawa.
Temperatur sedikit naik pada bulan April dan Mei, lalu suhu kembali memuncak di bulan Oktober. Pada bulan selain itu, temperatur akan menurun.
"Menurun tapi tentunya tidak seperti di wilayah lain seperti di Eropa dan Amerika yang mencapai 20-an derajat (Celcius)," ujar Kepala Pusat Layanan Iklim Terapan BMKG Ardhasena Sopaheluwakan.
Editor : Adhey



