POJOKSATU.id - Langit akan dihiasi berbagai fenomena astronomi sepanjang April 2026.

Sejumlah peristiwa langit diprediksi muncul dan bisa menjadi momen menarik untuk diamati, mulai dari bulan purnama hingga puncak hujan meteor.

Menariknya, beberapa fenomena astronomi tersebut dapat disaksikan secara langsung dari Indonesia tanpa alat bantu khusus.

Baca Juga: Daftar Film Bioskop Terbaru April 2026, Dari Horor Mencekam hingga Drama Menyentuh

Hal ini tentu menjadi kesempatan langka bagi pecinta langit malam untuk menikmati keindahan alam semesta secara lebih dekat.

Agar tidak terlewatkan, berikut fenomena astronomi April 2026 yang patut untuk dicatat dan diamati.

Pink Moon, Bulan Purnama Awal April
Fenomena Pink Moon akan menghiasi langit pada 1 dan 2 April 2026. Pink Moon merupakan sebutan untuk bulan purnama yang terjadi setiap bulan April.

Baca Juga: 5 Motor Listrik 2026 Paling Worth It? Nomor 3 Bikin Pengendara Motor Bensin Mulai GoYang!

Meski disebut “Pink Moon”, bulan tidak benar-benar berubah warna menjadi merah muda.

Nama tersebut berasal dari bunga liar yang mekar pada awal musim semi di Amerika Utara bagian timur, yaitu Phlox subulata yang dikenal sebagai creeping phlox atau moss phlox.

Bunga ini sering disebut “moss pink” karena warnanya yang khas, dan biasanya mekar bertepatan dengan fase bulan purnama di bulan April. Dari situlah istilah Pink Moon kemudian digunakan untuk menamai fenomena ini.

Baca Juga: Kasat Narkoba Polresta Pekanbaru Dicopot, 6 Anggota Ikut Terseret Kasus Dugaan Penyalahgunaan Wewenang

Selain Pink Moon, bulan purnama April juga memiliki berbagai nama lain dari budaya masyarakat asli Amerika.

Misalnya, “Breaking Ice Moon” dari suku Algonquin dan “Bulan Saat Sungai Kembali Dapat Dilayari” dari Dakota, yang merujuk pada mencairnya es serta meningkatnya aktivitas alam setelah musim dingin.

Ada juga sebutan lain seperti bulan tunas tumbuhan dan semak dari suku Tlingit serta bulan rumput merah muncul dari Oglala yang menggambarkan mulai tumbuhnya vegetasi di musim semi.

Bahkan, beberapa nama juga berkaitan dengan perilaku hewan, seperti bulan saat bebek kembali (Lakota), bulan saat angsa bertelur (Dakota), dan bulan katak (Cree).

Baca Juga: Infrastruktur Starlink Milik Elon Musk Bakal Dirudal, Iran Sebut Instrumen Intelijen dan Informasi

Fenomena ini bisa disaksikan dengan mudah di Indonesia selama cuaca cerah, terutama saat malam hari ketika bulan tampak bulat sempurna di langit.

Puncak Hujan Meteor Lyrids
Selain bulan purnama, langit April 2026 juga akan diramaikan oleh hujan meteor Lyrids yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 22 April 2026.

Fenomena ini terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan oleh Komet Thatcher (C/1861 G1).

Baca Juga: Israel Cuci Tangan, Klaim Hizbullah yang Serang Konvoi dan Markas TNI yang Sebabkan 3 Prajurit Gugur

Partikel-partikel kecil dari komet tersebut kemudian masuk ke atmosfer Bumi dan terbakar, sehingga tampak sebagai garis cahaya atau meteor yang melesat di langit malam.

Hujan meteor Lyrids termasuk dalam kategori moderat, namun dalam kondisi tertentu dapat menghasilkan jumlah meteor yang cukup banyak dalam satu jam.

Kilatan meteor yang muncul secara tiba-tiba menjadi daya tarik utama fenomena ini.

Fenomena ini dapat diamati baik dari belahan bumi utara maupun selatan.

Baca Juga: 7 Motor Listrik Terbaik 2026 yang Lagi Diburu! Sekali Cas Bisa Jalan Seharian

Namun, intensitasnya cenderung lebih tinggi di belahan utara karena posisi titik radian berada lebih tinggi di langit.

Meski begitu, masyarakat di Indonesia tetap bisa menikmati hujan meteor ini.

Waktu terbaik untuk melakukan pengamatan adalah pada dini hari, sekitar pukul 02.00 hingga 04.00 waktu setempat, saat langit berada dalam kondisi paling gelap.

Pada saat puncak, fase bulan berada dalam kondisi waxing crescent dengan iluminasi sekitar 33 persen, sehingga cahaya bulan tidak terlalu mengganggu visibilitas meteor di langit. ***