POJOKSATU.id, WALI KOTA Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa setiap pendatang baru yang ingin menetap di Kota Bandung pascalebaran harus memiliki pekerjaan atau keahlian yang jelas. Hal ini dilakukan untuk mencegah meningkatnya jumlah pengangguran di kota yang sudah padat penduduk.
“Pendatang baru boleh ke Bandung, tapi harus punya pekerjaan. Jangan ke sini jadi pengangguran, nanti repot. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti, ini kenyataan,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Senin, 7 April 2025.
Menurutnya, Kota Bandung tetap terbuka bagi masyarakat dari luar daerah, namun hanya bagi mereka yang siap berkontribusi secara produktif.
Baca Juga: Sering Disebut Pakai Orang Dalam, Beginilah Kenyataan Penentuan Kelulusan Akhir Sekolah Kedinasan
“Kalau datang ke Bandung untuk berkreasi dan menjadi produktif, silakan. Bandung adalah tempatnya orang-orang kreatif di Indonesia,” katanya.
Untuk mengantisipasi lonjakan pendatang baru, Pemerintah Kota Bandung menggelar operasi yustisi di dua terminal utama, yakni Terminal Cicaheum dan Terminal Leuwipanjang, pada 7–8 April 2025. Pemeriksaan akan difokuskan pada kelengkapan administrasi kependudukan dan tujuan kedatangan.
“Urbanisasi ini selalu terjadi setiap tahun. Berangkat dua, balik bisa lima orang. Karena itu, di setiap pintu masuk kendaraan umum, kami lakukan pemeriksaan dan pelaporan khusus,” ujar Farhan.
Baca Juga: Di Balik Percepatan Pengangkatan CASN, Ada Peran Ketua DPR Dasco yang Tak Kenal Lelah Memperjuangkan
Plt Kabid Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Kota Bandung, Yan Raspati, menyebutkan bahwa sejak Senin pagi hingga siang, petugas telah mendata 12 orang pemudik yang tiba di Terminal Cicaheum, yang terdiri dari delapan mahasiswa dan empat pencari kerja.
Yan juga mencatat sejumlah pemudik memilih turun sebelum terminal untuk menghindari pemeriksaan petugas.
“Banyak yang turun di tengah jalan, diduga untuk menghindari operasi yustisi, sehingga jumlah yang terdata di terminal menjadi sedikit,” ungkapnya.
Baca Juga: Iseng Masukan Alat Vital ke Dalam Bibir Botol, Remaja Asal Wonogiri Dievakuasi Damkar Setempat
Farhan menekankan bahwa upaya ini bukan untuk membatasi mobilitas, melainkan menjaga keseimbangan sosial dan ekonomi Kota Bandung yang semakin kompleks. ***



