POJOKSATU.id, JAKARTA-- Farah Savira menepis kabar bahwa banyak siswa SMAN 72 Kelapa Gading Jakarta Utara minta pindah usai insiden ledakan bom yang terjadi Jumat (7/11) di sekolah itu.

Menurut Farah Savira yang merupakan anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta ini, hanya ada satu permohonan pindah atau mutasi dari siswa dan itupun disampaikan secara lisan saja.

“Terkait dengan permohonan banyaknya mutasi siswa pasca peristiwa peledakan itu tidak benar. Sampai saat ini hanya ada satu permohonan mutasi yang disampaikan orang tua secara lisan,” tegas Farah Savira, Senin (17/11).

Baca Juga: 10 Rekomendasi Universitas Jurusan Gizi Terbaik di Indonesia

Justru, kata Farah, sebagian besar siswa sudah kembali beraktivitas seperti biasa, mulai dari salat berjamaah hingga olahraga bersama.

Ia berharap ritme kegiatan ini membantu mempercepat pemulihan psikologis para pelajar.

Menurut Farah, Dinas Pendidikan tetap membuka layanan bagi mereka yang mempertimbangkan untuk pindah sekolah.

Namun prosesnya tetap akan dicek kembali dengan pihak sekolah, karena fokus utama saat ini adalah pemulihan psikis siswa.

Baca Juga: Meski Masih Trauma Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Hari Ini 69 Persen Siswa Kembali Bersekolah

“Fokus utama adalah pemulihan pasca insiden ledakan, baik secara psikis, fisik, maupun lain-lain. Yang kedua kita meminimalisir proses mutasi itu. Tetapi kembali lagi kepada orang tua (siswa),” ucapnya.

Farah mengatakan pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan pihak sekolah.

Dan memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar sudah kembali berlangsung, meski dengan skema hybrid atau campuran luring dan daring.

Baca Juga: Pembelajaran SMAN 72 Jakarta Berjalan Campuran Luring dan Daring, Dikarenakan Trauma yang Belum Pulih

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan bahwa hari ini SMA 72 telah melakukan pembelajaran secara luring. Yang belum bisa hadir secara luring bisa melalui daring,” ujar Farah.

Menurut laporan yang diterimanya, sekitar 69,44 persen siswa sudah hadir mengikuti pembelajaran tatap muka. Sisanya tetap diberikan akses untuk belajar dari rumah.

Pendampingan psikologis juga terus dilakukan sejak pagi hingga siang hari agar siswa tidak merasa sendirian dalam masa pemulihan.


Farah menegaskan bahwa DPRD dan Dinas Pendidikan sejalan dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yang kembali kondusif.

Sementara itu, penanganan aspek hukum sepenuhnya diserahkan kepada aparat berwenang.

Ledakan bom di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara terjadi saat khutbah Salat Jumat pada Jumat (7/11). Ada dua lokasi ledakan, di dalam masjid dan di dekat bank sampah di sekolah itu.

Pelaku Fadel Nazriel yang merupakan siswa di sana meledakkan bom rakitan memakai remote kontrol.***