POJOKSATU.id - Ketika mendengar peristiwa 10 November di Surabaya, sebagian besar dari kita mungkin langsung teringat aksi heroik para pejuang yang merobek bendera Belanda.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi simbol perlawanan yang menggelora.

Namun, di balik aksi tersebut, terdapat banyak fakta menarik mengenai pertempuran epik ini.

Baca Juga: Hari Pahlawan, WARGA LAMPUNG WAJIB TAHU! Ini 5 Pahlawan Nasional Asal Lampung dan Sepak Terjangnya, Ada yang Mulai Berjuang di Umur 16 Tahun

Tak hanya membuat Inggris terkejut, tetapi juga menginspirasi perjuangan di seluruh Indonesia.

Surat kabar The Times mengabarkan bahwa Inggris mengerahkan kekuatan militer yang luar biasa besar dalam pertempuran ini.

Mereka membawa 37 tank, termasuk tank Sherman yang terkenal tangguh, didukung empat kapal perang Destroyer, serta 12 pesawat jenis Mosquito.

Baca Juga: Jangan Ngaku Gen-Z Revolusioner Kalau tak Berani Cosplay Pahlawan Nasional di Hari Pahlawan, Ini Tips dan Perlengkapannya

Jumlah pasukan pun tak main-main, lebih dari 15.000 tentara pilihan dikerahkan untuk menghadapi rakyat Surabaya yang hanya bersenjatakan senapan tua, keris, dan bambu runcing.

Bagi pasukan Sekutu, khususnya Inggris, peristiwa ini adalah salah satu kekalahan paling memalukan.

Di kota Surabaya inilah untuk pertama kalinya mereka harus mengibarkan bendera putih, meminta bantuan pemimpin Indonesia agar menghentikan pertempuran.

Baca Juga: Para Pahlawan Ini Tidak Diketahui Makamnya, Jasadnya Belum Ditemukan, Begini Kisah Pencarian Sang Pahlawan, Tetap Bergelar Pahlawan Nasional

Hal ini membuktikan betapa gigihnya perlawanan rakyat Surabaya, yang bahkan menyebabkan Inggris kehilangan dua jenderal perangnya.

Pengalaman tempur rakyat Surabaya memang jauh dari standar militer modern.

Banyak pejuang yang awalnya tidak terbiasa dengan persenjataan baru.

Sebagian dari mereka bahkan mengira granat bisa meledak jika hanya dibenturkan ke tembok atau tanah.

Saking minimnya pengetahuan, kode bunyi pun digunakan untuk memperkirakan jarak ledakan.

Baca Juga: Indentik dengan Hari Pahlawan 10 November, Ini Sosok dan Peran Bung Tomo di Surabaya

Jika terdengar suara "sweet," berarti bom masih jauh.

Sedangkan bunyi "wesewes" menandakan bom sudah dekat dan segera meledak.

David Wehl dalam bukunya 'Bed of Indonesia', menggambarkan betapa dahsyatnya suasana pertempuran di pusat kota Surabaya.

Baca Juga: 10 Pahlawan Bangsa yang Jarang Dikenal, Dari Aceh Hingga Papua, Mana yang Belum Anda Ketahui?

Mayat manusia dan hewan tergeletak di selokan, pecahan kaca berhamburan, kabel telepon putus bergelantungan.

Sementara suara tembakan serta ledakan bergema di setiap sudut kota.

Pertempuran ini bukan sekadar pertempuran sehari semalam, melainkan berlangsung selama tiga minggu.

Baca Juga: Pertempuran Surabaya 10 November Bentuk Semangat Tak Padam Cikal Bakal Hari Pahlawan Nasional

Selama itu pula, pertempuran tersebut telah menciptakan kerusakan luar biasa dan menelan banyak korban jiwa.

Hingga kini, jumlah pasti korban dari kedua belah pihak masih belum bisa dipastikan.

Pertempuran Surabaya disebut-sebut sebagai perang terbesar dan terberat dalam sejarah Indonesia.

Melibatkan keberanian luar biasa dari rakyat biasa yang mengangkat senjata demi mempertahankan kedaulatan.

Inilah alasan mengapa 10 November dikenang sebagai Hari Pahlawan Nasional di Indonesia.

Perjuangan rakyat Surabaya menjadi simbol kekuatan dan ketangguhan bangsa yang tak pernah gentar melawan kekuatan asing yang lebih unggul dari segi persenjataan dan strategi militer.***

Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:

VERSI ANDROID

VERSI iOS