POJOKSATU.id - Tragedi kebakaran yang menewaskan 22 orang di gedung Terra Drone Indonesia di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, tidak hanya menyisakan duka mendalam.
Tetapi juga menyeret perhatian publik pada rekam jejak perusahaan teknologi pemetaan tersebut.
Salah satu fakta yang kembali mencuat ke permukaan adalah keterlibatan Terra Drone dalam aktivitas pemetaan lahan perkebunan skala besar.
Termasuk lahan sawit di wilayah Sumatera.
Informasi ini tidak muncul tanpa dasar. Data resmi yang dipublikasikan perusahaan melalui laporan yang dikutip media kredibel menunjukkan bahwa Terra Drone Indonesia.
Sebelumnya dikenal sebagai PT Aero Geosurvey Indonesia, telah mengerjakan survei udara untuk berbagai sektor.
Baca Juga: Ribuan Guru Lulus PPG tapi NRG Tak Kunjung Terbit! Ini Akar Masalahnya
Termasuk pertambangan, konstruksi, minyak dan gas, hingga perkebunan dan agrikultur.
Dalam lima tahun terakhir, perusahaan ini tercatat telah melakukan survei terhadap lebih dari 600 ribu hektare konsesi serta ribuan kilometer koridor jaringan.
Keterlibatan Terra Drone dalam pemetaan perkebunan di Sumatera menjadi relevan karena pulau tersebut merupakan wilayah dengan luasan perkebunan sawit terbesar di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lebih dari separuh perkebunan sawit nasional berada di Sumatera.
Dengan skala operasi Terra Drone yang mencakup ratusan ribu hektare konsesi perkebunan.
Aktivitas pemetaan lahan sawit di Sumatera menjadi bagian yang logis dan sesuai portofolio perusahaan.
Dilansir Tribunnews dalam laporannya juga menyinggung bahwa Terra Drone pernah terlibat dalam pemetaan lahan sawit di Sumatera.
Penyebutan ini sejalan dengan layanan resmi perusahaan yang memang menyediakan survei udara untuk kebutuhan perkebunan.
Termasuk pemetaan multidimensi yang digunakan untuk manajemen lahan, identifikasi batas konsesi, pemodelan topografi, hingga pemantauan kesehatan tanaman.
Munculnya kembali informasi mengenai aktivitas pemetaan ini beriringan dengan proses penyelidikan penyebab kebakaran gedung Terra Drone pada 9 Desember 2025 lalu.
Baca Juga: Wacana TPG Bulanan Makin Kuat! Begini Dampaknya, Pro-Kontra, hingga Tantangan Validasi Dapodik
Kebakaran yang diduga bermula dari baterai drone di lantai satu tersebut mengakibatkan penyebaran asap cepat ke lantai atas.
Menjerat puluhan pegawai yang berada di dalam gedung.
Total 22 orang dilaporkan meninggal dunia akibat sesak napas dan terjebak dalam kepulan asap, sementara lebih dari 50 orang berhasil dievakuasi.
Hingga kini, kepolisian dan tim forensik masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran, sembari memastikan apakah ada faktor kelalaian atau aspek teknis lain yang berperan.
Kementerian Sosial telah turun melakukan pendataan terhadap korban dan ahli waris, memberikan dukungan sosial, serta menyiapkan langkah perlindungan bagi korban selamat.
Di tengah proses tersebut, sorotan publik bergeser dari sekadar tragedi kebakaran menjadi penelusuran rekam jejak perusahaan.
Fakta bahwa Terra Drone memiliki portofolio besar di sektor pemetaan perkebunan.
Termasuk lahan sawit, menambah dimensi baru dalam pembahasan mengenai skala besar operasi mereka di Indonesia.
Meski perusahaan tidak merinci klien atau lokasi detail karena sifat industri yang tertutup.
Baca Juga: Wacana TPG Bulanan Makin Kuat! Begini Dampaknya, Pro-Kontra, hingga Tantangan Validasi Dapodik
Data resmi menunjukkan bahwa aktivitas pemetaan sawit di Sumatera adalah bagian dari rangkaian proyek mereka.
Dengan kompleksitas aktivitas dan teknologi yang digunakan
Investigasi terhadap kebakaran ini diprediksi membuka diskusi lebih luas mengenai standar keamanan penyimpanan baterai drone.
Prosedur operasional, hingga perlindungan keselamatan pekerja di industri pemetaan udara yang berkembang pesat di Indonesia.
Kasus Terra Drone kini bukan hanya tentang kebakaran
Tetapi juga tentang bagaimana sebuah perusahaan teknologi dengan rekam jejak besar dalam pemetaan lahan termasuk sawit di Sumatera.
Berada di bawah sorotan publik untuk memastikan transparansi, tanggung jawab, dan peningkatan standar keselamatan di masa mendatang.***




