POJOKSATU.id - Bagi perempuan, haid atau menstruasi adalah siklus bulanan yang tak terpisahkan dari kodratnya.

Namun, ketika datang di bulan Ramadhan, tak jarang menghadirkan rasa sedih karena tidak dapat menunaikan puasa sebulan penuh dan menjalankan ibadah tertentu seperti biasanya.

Dalam kitab Taqrib dijelaskan bahwa terdapat delapan ibadah yang dilarang bagi perempuan yang sedang haid atau nifas.

Pelarangan tersebut yakni: (1) Salat, (2) puasa, (3) membaca Al-Qur’an, (4) menyentuh dan membawa mushaf, (5) masuk masjid, (6) thawaf, (7) jima’, serta (8) bersenang-senang di sekitar organ kemaluan.

Mayoritas ulama madzhab Syafi’iyah menganut pendapat delapan larangan tersebut.

Meski demikian, para ulama berbeda pandangan dalam beberapa poin.

Baca Juga: Pastikan Operasional dan Keselamatan, Pertamina Regional JBB Tinjau Langsung FT Tanjung Gerem

Madzhab Maliki secara mutlak memperbolehkan membaca Al-Qur’an, sedangkan madzhab Hambali memperbolehkan i’tikaf di masjid.

Perbedaan ini menunjukkan keluasan khazanah fiqih Islam dalam merespons kondisi perempuan.

Ramadhan dikenal sebagai bulan pelipatgandaan pahala.

Walau ada batasan tertentu, perempuan yang haid atau nifas tetap memiliki banyak pintu ibadah yang terbuka lebar. Berikut empat amalan yang bisa dilakukan:

1. Mencari Ilmu
Mencari ilmu memiliki cakupan luas, baik dengan membaca buku, mengkaji kitab, maupun menghadiri majelis ilmu. Hukum mencari ilmu adalah fardhu ‘ain dan bernilai ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لِلهِ خَشْيَةٌ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ، وَمدَارَسَتَهُ تَسْبِيحٌ، وَالْبَحْثُ عَنْهُ جِهَادٌ

Artinya, “Belajarlah ilmu, sesungguhnya belajar ilmu karena Allah adalah bentuk ketakwaan. Mencari ilmu adalah ibadah, menelaahnya adalah tasbih, dan mengkajinya adalah jihad.” (HR Ad-Dailami).

Baca Juga: Hukum Kepemilikan Buah yang Menjalar atau Berada Diatas Lahan Tetangga

2. Berdzikir
Dzikir dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja, termasuk perempuan yang sedang haid. Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan, “Perumpamaan antara orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan yang tidak, seperti antara orang yang hidup dan yang mati.”

Tasbih, tahmid, takbir, hauqalah, mengikuti majelis istighotsah atau tahlilan termasuk bentuk dzikir. Terlebih di malam Lailatul Qadar, perempuan haid tetap dianjurkan memperbanyak doa.

Sayyidah Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa terbaik saat Lailatul Qadar. Beliau menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî.”
Artinya, “Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku.” (HR Ibnu Majah).

3. Berdoa
Doa adalah inti ibadah (mukhkhul ‘ibadah). Perempuan haid tetap dapat berdoa dalam bahasa apa pun dan kapan pun. Doa menjadi bentuk ikhtiar spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon kebaikan dunia akhirat.

Baca Juga: Dampak Penutupan Selat Hormuz, DPR Minta Pemerintah Antisipasi Potensi Kenaikan Harga Minyak Dunia

4. Melakukan Kegiatan Sosial
Ibadah tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga sosial. Menanam pohon, berbagi takjil, memberi makan fakir miskin, mengajar, hingga menyiapkan hidangan berbuka untuk keluarga adalah bentuk ibadah bernilai pahala.

Puasa mengajarkan empati kepada mereka yang menahan lapar dan haus.

Semangat itu tetap bisa dihidupkan melalui aksi sosial, meskipun tidak sedang berpuasa.

Lalu, bagaimana hukum membaca Al-Qur’an saat haid? Ulama berbeda pendapat.

Madzhab Syafi’i melarang menyentuh atau membawa mushaf. Namun sebagian madzhab lain memperbolehkan membaca tanpa menyentuhnya, dengan niat berdzikir, berdoa, atau menjaga hafalan.

Dalam kitab I’anatuth Thalibin dijelaskan bahwa apabila seseorang membaca dengan tujuan berdzikir, berdoa, mencari berkah, atau menjaga hafalan—bukan berniat membaca Al-Qur’an sebagai tilawah—maka hal tersebut tidak diharamkan.

Baca Juga: Sebelum Pencairan THR, Ternyata Pemerintah Telah Mmeberikan Stimulus Ekonomi Berikut!

Perbedaan pendapat ini menjadi ruang kelonggaran yang bisa disikapi dengan bijak sesuai keyakinan dan bimbingan guru masing-masing.

Haid bukanlah penghalang untuk meraih cinta Allah di bulan Ramadhan.

Justru di balik keterbatasan itu, terdapat banyak kesempatan untuk memperdalam ilmu, memperkuat dzikir, memperbanyak doa, dan menebar kebaikan.

Sebab sejatinya, nilai ibadah tidak hanya terletak pada ritual yang tampak, tetapi pada keikhlasan hati yang terus terhubung kepada-Nya.***