POJOKSATU.ID - Pernyataan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian terkait bantuan dari Malaysia kembali menjadi sorotan publik.
Kali ini, kritik datang dari mantan Menteri Luar Negeri Malaysia yang menyinggung persoalan etika, tata bicara, hingga pentingnya menjaga hubungan baik antarnegara bertetangga.
Eks Menlu Malaysia tersebut menyampaikan keprihatinannya atas pernyataan Mendagri Indonesia yang dinilai meremehkan nilai bantuan.
Menurutnya, sikap seperti itu tidak mencerminkan budi bahasa yang seharusnya dijunjung tinggi oleh negara serumpun.
Baca Juga: Mendagri Tito Angkat Bicara soal Bantuan Beras 30 Ton UEA yang Dikembalikan Pemkot Medan
“Kami menerima dengan dukacita reaksi Menteri Dalam Negeri rakan kita di seberang, yang diumumkan sebagai perkara kecil dan sumbangan yang tak berpatutan,” ujarnya dalam pernyataannya, dikutip dari Instagram pojoksatu.id.
Ia menegaskan bahwa persoalan bantuan tidak semestinya diukur dari besar kecil nominal.
Bahkan, bantuan dalam jumlah kecil sekalipun tetap harus dihargai sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas.
Baca Juga: Formasi CPNS 2026 Fokus Pendidikan, Peluang Guru dan Tenaga Kependidikan Kembali Terbuka
“Ini bukan soal berbudi bahasa sebenarnya. Apabila rakan atau jiran membantu, walau RM60 sekali pun, harus diucapkan terima kasih,” ucapnya.
Eks Menlu Malaysia itu juga menyinggung pernyataan yang disampaikan ke ruang publik internasional, yang menurutnya justru menimbulkan kesan kurang elok di mata dunia.
Ia menyayangkan narasi yang seolah-olah menilai bantuan sebesar 60.000 dolar AS sebagai sesuatu yang tidak berarti.
“Dengan kenyataan umum yang dibuat kepada dunia, seolah-olah Malaysia menyumbang sedikit. Ini menunjukkan masalah komunikasi dan bahasa,” katanya.
Lebih jauh, ia menyarankan agar pejabat yang bersangkutan kembali mempelajari cara berkomunikasi dengan negara tetangga.
Menurutnya, tata bahasa dan pilihan kata memiliki dampak besar dalam menjaga hubungan diplomatik.
Baca Juga: Ketua DPD Golkar Sumut Musa Rajekshah Diganti, Periodenya Memang Sudah Habis, Dipilih Musda 2020
“Menteri berkenaan harap bersekolah dulu dalam bentuk perkataan, komunikasi atau bahasa kepada sesuatu jiran,” sindirnya.
Eks Menlu Malaysia itu juga mengaitkan persoalan ini dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu bangsa di kawasan Asia Tenggara.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki akar budaya yang sama, yang menekankan pentingnya adab, empati, dan rasa saling menghargai.
Baca Juga: Benda Mirip Bom di Depan Gereja GKPS ITC Bandung Ternyata Kayu, Polisi Telusuri Pelaku
“Kita diajarkan petua-petua nenek moyang sebelum merdeka. Bila orang memberi, kita merasa. Bila orang merasa, kita pun bersukacita,” tuturnya.
Pernyataan tersebut langsung menuai perhatian luas di media sosial.
Banyak warganet menilai kritik tersebut sebagai pengingat pentingnya menjaga etika diplomasi, terutama di tengah hubungan Indonesia–Malaysia yang kerap naik turun.
Di sisi lain, sejumlah pihak menilai polemik ini seharusnya menjadi momentum refleksi bersama agar komunikasi antarpejabat publik lebih berhati-hati, khususnya saat menyangkut bantuan kemanusiaan dan hubungan internasional.
Hingga kini, pernyataan eks Menlu Malaysia tersebut terus menjadi perbincangan, sekaligus menegaskan bahwa dalam diplomasi, kata-kata memiliki makna dan dampak yang tak bisa dianggap sepele.***




