POJOKSATU.id – Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,12 persen.
Namun, ada satu angka lain yang menarik perhatian: konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen.
Data tersebut disampaikan Kementerian Keuangan dalam laporan perekonomian triwulan II 2026.
Baca Juga: Bukan Sekadar Naik Status, 500 Ribu Formasi PNS Bisa Jadi Pertaruhan Baru bagi PPPK
Artinya, di tengah konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06 persen, pemerintah juga memainkan peran cukup besar melalui belanja negara.
Belanja negara ikut menggerakkan ekonomi
Kementerian Keuangan menyebut konsumsi pemerintah yang tumbuh tinggi mencerminkan belanja negara yang tetap ekspansif untuk mendukung pembangunan dan stabilitas ekonomi.
Pertumbuhan tersebut antara lain didukung percepatan belanja barang dan belanja pegawai.
Program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, Desa Nelayan dan Sekolah Rakyat juga disebut ikut mendorong aktivitas ekonomi.
Baca Juga: RUU Perampasan Aset Dikebut, 15 Desember Jadi Garis Finish, DPR Pertaruhkan Kredibilitas
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah akan terus memperkuat mesin pertumbuhan.
“Pemerintah akan terus memperkuat mesin-mesin pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan dan reformasi struktural,” ujar Purbaya.
Tantangannya: jangan sampai pertumbuhan bergantung pada belanja negara
Di sinilah persoalan yang menarik untuk dibaca.
Pertumbuhan ekonomi yang kuat memang positif. Namun, pemerintah tetap perlu memastikan mesin pertumbuhan dari sektor swasta dan konsumsi masyarakat terus menguat.
Investasi, konsumsi rumah tangga, ekspor dan industri harus mampu mengambil peran lebih besar secara berkelanjutan.
Baca Juga: Belum Ada Keterangan Gubernur Pramono Terkait Tewasnya Bambang Diduga di Tangan Ormas
Kementerian Keuangan mencatat investasi menjadi salah satu pendorong penting pertumbuhan triwulan II. Sektor konstruksi tumbuh 6,68 persen, perdagangan 6,39 persen, sedangkan informasi dan komunikasi tumbuh 6,97 persen.
Dengan demikian, angka 5,29 persen bukan akhir cerita.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah pertumbuhan tersebut mampu bertahan ketika dorongan belanja pemerintah tidak lagi sekuat periode tertentu.***



