POJOKSATU.id - Menteri Keuangan sekaligus ekonom senior, Purbaya Yudhi Sadewa.
Dalam sebuah forum resmi, ia secara terbuka mengakui bahwa banyaknya warga negara Indonesia (WNI).
Yang bekerja di luar negeri merupakan cerminan kegagalan pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja yang memadai di dalam negeri.
Baca Juga: Demi TPP 13 dan 14 ASN Tetap Cair, Pemprov Kepri Tancap Gas Kejar Pendapatan PAD di 2026
Pengakuan ini menjadi sorotan publik karena jarang sekali pejabat setingkatnya berbicara seblak-blakan soal kondisi ketenagakerjaan nasional.
Purbaya menyampaikan hal tersebut merespons data meningkatnya jumlah pekerja migran pada tahun-tahun terakhir.
Ia menegaskan bahwa fenomena masyarakat yang memilih bekerja di luar negeri bukan semata pilihan, melainkan lebih sering terjadi karena ketiadaan peluang kerja yang cukup di dalam negeri.
Baca Juga: Heboh Tumbler Hilang! Petugas KRL Dipecat, Pasutri Viral Tersedu Minta Maaf
Dalam pernyataan aslinya yang diberitakan Detik, Purbaya mengatakan,
“Banyak anak yang kerja di luar negeri itu karena kegagalan kita menciptakan lapangan kerja di dalam negeri."
"Waktu pertumbuhan ekonominya lambat seperti itu, kemarin-kemarin ya, iya seperti itu.”
Kutipan ini menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan karena merefleksikan realitas yang dirasakan masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 diketahui melambat hingga kisaran 4,87 persen, angka terendah setelah masa pandemi.
Perlambatan ini berdampak langsung pada serapan tenaga kerja, terutama di sektor manufaktur, industri rumah tangga, dan jasa.
Dalam kesempatan berbeda yang dikutip Tirto, Purbaya menilai perlambatan tersebut bukan hanya disebabkan faktor global.
Melainkan juga karena adanya “salah urus” kebijakan di dalam negeri yang membuat geliat ekonomi tidak cukup kuat mendorong terciptanya lapangan kerja baru.
Baca Juga: Demi TPP 13 dan 14 ASN Tetap Cair, Pemprov Kepri Tancap Gas Kejar Pendapatan PAD di 2026
“Pertumbuhan ekonomi lambat bukan hanya faktor global, tapi salah urus di dalam negeri,” ujarnya.
Situasi inilah yang menurutnya menyebabkan lebih banyak masyarakat memilih menjadi pekerja migran.
Negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, hingga kawasan Timur Tengah masih menjadi tujuan utama.
Karena menawarkan upah yang relatif lebih tinggi serta kebutuhan tenaga kerja yang besar di sektor perawatan, konstruksi, jasa, dan perhotelan.
Namun, Purbaya menekankan bahwa fenomena ini tidak boleh dianggap solusi jangka panjang.
Ia menilai Indonesia seharusnya mampu memberikan kesejahteraan yang layak kepada warganya tanpa mereka harus mencari nafkah di luar negeri.
Dalam wawancara yang disiarkan Kumparan, ia menegaskan.
Baca Juga: Jadwal PPG Guru Tertentu Tahap 5 Bikin Kaget Skema Cepat 15 Hari, Belajar Mandiri Cuma Seminggu
“Target kita bukan memindahkan orang ke sana supaya hidup enak, tapi membuat Indonesia kayak Amerika sejahteranya. "
"Di sini juga bisa hidup lebih enak tanpa harus ke luar negeri.”
Purbaya juga menyebut perlunya transformasi ekonomi yang lebih agresif agar kualitas hidup meningkat dan lapangan kerja bertambah secara signifikan.
Salah satu indikator yang ia angkat adalah kebutuhan pertumbuhan ekonomi minimal 6,7 persen agar serapan tenaga kerja dapat stabil.
Angka tersebut jauh di atas performa ekonomi Indonesia dalam beberapa kuartal terakhir.
Baca Juga: Jadwal PPG Guru Tertentu Tahap 5 Bikin Kaget Skema Cepat 15 Hari, Belajar Mandiri Cuma Seminggu
Selain mengakui adanya kegagalan, Purbaya menyoroti perlunya langkah konkret untuk memperbaiki kondisi.
Pemerintah, menurutnya, harus mempercepat penciptaan lapangan kerja melalui program vokasi, investasi padat karya, hingga kebijakan fiskal yang lebih efektif.
Dalam laporan TV One, ia menyinggung rencana program vokasi baru pada sektor las, konstruksi, hingga hospitality, yang ditargetkan mulai menyerap tenaga kerja secara optimal tahun depan.
Baca Juga: Demi TPP 13 dan 14 ASN Tetap Cair, Pemprov Kepri Tancap Gas Kejar Pendapatan PAD di 2026
Poin lain yang menarik dari pernyataan Purbaya adalah kekhawatiran soal “aliran keluar” tenaga kerja terampil.
Ia menilai jika terlalu banyak tenaga kerja berkualitas memilih bekerja di luar negeri, Indonesia bisa menghadapi risiko jangka panjang berupa hilangnya potensi produktivitas.
“Kalau kita biarkan tenaga kerja terus mengalir ke luar negeri, itu merugikan jangka panjang,”
Baca Juga: Heboh Jalan DI Panjaitan Diduga Disulap Jadi Parkir Mobil Dinas, Kemenag DKI Akhirnya Buka Suara
Kata Purbaya dalam rapat dengan DPR.
Pernyataan-pernyataan terbuka Purbaya menambah warna baru dalam diskusi ekonomi nasional.
Ia tidak hanya memberikan kritik, tetapi juga gambaran realistis tentang kondisi ketenagakerjaan yang perlu segera dibenahi.
Di tengah upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi, isu penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan, hingga perbaikan kebijakan struktural kini semakin mendapat sorotan.
Purbaya berharap dalam 10 tahun mendatang, Indonesia mampu mencapai tingkat kesejahteraan yang membuat masyarakat tak lagi terpaksa bekerja di luar negeri untuk mencukupi kebutuhan.
Mimpi itu masih jauh, namun menurutnya bukan mustahil jika reformasi kebijakan dilakukan secara berkelanjutan dan tepat sasaran.***




