POJOKSATU.ID - Aksi unjuk rasa di dua titik utama Ibu Kota, yakni kawasan Monumen Nasional (Monas) dan Senayan.

Senin 3 November 2025, menimbulkan efek domino pada lalu lintas Jakarta Pusat.

Sejak pagi, arus kendaraan di sekitar lokasi mengalami kepadatan parah hingga sempat lumpuh total pada jam sibuk.

Ratusan personel kepolisian tampak berjaga di sejumlah ruas jalan.

Baca Juga: Style Hijab Sesuai Bentuk Wajah: Panduan Biar Penampilan Gak Salah Gaya

Pengendara motor maupun mobil terpaksa menepi, sebagian bahkan memutar balik mencari rute lain.

Bagi warga yang tak mengetahui situasi, kemacetan hari ini terasa seperti “jebakan macet Senin pagi”.

Kepadatan mulai terasa sekitar pukul 07.30 WIB di kawasan Medan Merdeka Barat, MH Thamrin, dan Sudirman.

Polisi menutup sebagian akses menuju Monas dan Senayan karena adanya massa aksi dari dua kelompok berbeda.

Baca Juga: Ajang Tangsel Open 2025 Hadirkan 1.200 Pelajar Bertalenta di Cabang Renang

Menurut pantauan petugas di lapangan, antrean kendaraan mengular hingga Bundaran HI dan sebagian ruas Jalan Gatot Subroto.

Kendaraan dari arah Slipi menuju Senayan terpantau nyaris tak bergerak.

Aksi pertama digelar oleh Tim Advokasi Jamsos Indonesia (TAJI) di sekitar Monas.

Mereka menuntut pemerintah memperbaiki kebijakan jaminan sosial.

Sementara aksi kedua dilakukan oleh Aliansi Perjuangan Keadilan Rakyat Tanimbar (APKRT) di kawasan Senayan.

Tepatnya di depan kantor Inpex Corporation, menyoroti transparansi proyek migas di Maluku.

Kedua aksi ini membuat arus lalu lintas Jakarta Pusat terdampak cukup serius.

Beberapa jalan yang sempat ditutup total di antaranya:

Baca Juga: Ajang Tangsel Open 2025 Hadirkan 1.200 Pelajar Bertalenta di Cabang Renang

Jalan Medan Merdeka Barat (arah Harmoni – Monas).

Jalan Medan Merdeka Selatan.

Jalan Asia-Afrika – Senayan.

Jalan Gatot Subroto (depan DPR/MPR).

Baca Juga: CPNS 2026 Fokus Formasi Digital dan Kesehatan, Pemerintah Terapkan Sistem Zero Growth ASN

Sebagian ruas Jalan Jenderal Sudirman arah GBK.

Akibatnya, antrean panjang kendaraan tak terhindarkan.

Beberapa sopir ojek online mengeluh karena orderan sulit diantarkan.

“Biasanya 15 menit, sekarang bisa satu jam cuma buat muter arah,” ujar Budi, pengemudi ojek online, dikutip dari Liputan6, Senin 3 November 2025.

Pihak Dinas Perhubungan DKI Jakarta bersama Satlantas menerapkan rekayasa lalu lintas untuk mengurai kepadatan.

Berikut jalur alternatif yang disarankan polisi bagi warga Jakarta:

Pengendara dari arah Slipi menuju Senayan disarankan melewati Jalan Palmerah Utara – Pejompongan – Bendungan Hilir.

Arah dari Gambir menuju Harmoni dialihkan ke Jalan Abdul Muis – Tanah Abang II.

Untuk kendaraan dari Sudirman arah Monas, disarankan memutar melalui Dukuh Atas – Kebon Sirih.

Baca Juga: DLH Pandeglang Siap Tambah Tong Sampah di Jalan Protokol, Antisipasi pertambahan Sampah Akhir Tahun

Pengendara dari Semanggi menuju Monas, bisa melewati Jl. KH Mas Mansyur – Cideng Barat.

Sementara dari arah Blok M menuju DPR/MPR, disarankan lewat Senopati – Gunawarman – Asia Afrika sisi timur.

Kepadatan lalu lintas juga berdampak pada aktivitas perkantoran di kawasan Sudirman – Thamrin – Senayan.

Beberapa perkantoran dilaporkan menerapkan work from café (WFC).

Baca Juga: Onad Ajukan Surat Rehabilitasi ke BNN, Hasil Assesment Menunggu dari BNNP

Menyesuaikan jam masuk agar karyawan tidak terjebak di tengah aksi.

Arus lalu lintas yang padat dan beberapa jalan yang ditutup membuat sebagian pedagang kaki lima memilih menutup lapaknya lebih awal.

Biasanya kawasan tersebut menjadi titik ramai bagi para pekerja dan wisatawan.

Namun kali ini jumlah pembeli menurun drastis karena banyak orang enggan melintas akibat kemacetan dan pengalihan arus kendaraan.

Namun, kondisi berbeda justru dirasakan sebagian pedagang lain yang berjualan di sekitar area Senayan.

Para penjual minuman dan makanan ringan justru menikmati peningkatan omzet.

Banyak petugas keamanan, jurnalis, dan peserta aksi yang membeli air mineral, kopi, serta makanan cepat saji untuk mengisi tenaga di tengah panasnya cuaca.

Bagi mereka, situasi padat seperti ini menjadi momentum untuk meraup keuntungan lebih besar.

Fenomena ini menggambarkan dua sisi dari dinamika aksi massa di Jakarta.

Baca Juga: PPAT Awards 2025, Wujud Kolaborasi Solid Antara Kantor Pertanahan dan PPAT

Di satu sisi menimbulkan hambatan ekonomi bagi sebagian pelaku usaha kecil.

Namun di sisi lain membuka peluang bagi sektor informal yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap situasi di lapangan.***