POJOKSATU.Id-Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen hadir di SDN Batulayang, Cianjur. Kehadiran tersebut ditujukan untuk mendampingi anak-anak korban bencana. Bencana angin puting beliung meninggalkan trauma pada siswa.
DWP memberikan dukungan psikologis melalui kegiatan ramah anak Pendampingan dilakukan agar siswa kembali merasa aman. Selain itu, bantuan perlengkapan sekolah turut disalurkan.
Kegiatan ini menjadi wujud solidaritas bagi warga sekolah. Anak-anak diharapkan kembali bersemangat mengikuti pembelajaran.
Sebagai wujud kepedulian terhadap korban bencana angin puting beliung di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar kegiatan sosial bertajuk DWP Peduli: Menguatkan Solidaritas, Menebar Manfaat bagi Pendidikan. Kegiatan tersebut berlangsung di SDN Batulayang, Kabupaten Cianjur, pada Sabtu (31/1).
Penasihat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa kehadiran DWP di sekolah tersebut merupakan bentuk empati dan dukungan moral kepada masyarakat, khususnya anak-anak yang masih merasakan dampak psikologis pascabencana.
Menurutnya, anak-anak yang mengalami trauma membutuhkan pendampingan serta penguatan secara terus-menerus agar kembali merasa aman dan berani menjalani aktivitas sehari-hari, terutama dalam proses belajar di sekolah.
“Anak-anak harus tetap memiliki semangat untuk bersekolah. Rasa trauma perlu dipulihkan secara bertahap agar tidak berkembang menjadi ketakutan berkepanjangan. Kita ingin menumbuhkan keyakinan bahwa semua ini dapat dilalui bersama,” ujar Masmidah.
Dalam kegiatan tersebut, DWP Kemendikdasmen menyalurkan bantuan berupa perlengkapan sekolah bagi para siswa serta bantuan material bagi keluarga yang terdampak bencana. Bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan.
Kepala SDN Batulayang, Siti Badriah, mengapresiasi perhatian dan dukungan yang diberikan DWP Kemendikdasmen kepada sekolahnya. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan dorongan moral bagi seluruh warga sekolah, terutama siswa yang masih berupaya memulihkan kondisi psikologis mereka.
“Bencana angin puting beliung yang terjadi di wilayah kami meninggalkan dampak cukup besar, terutama bagi anak-anak. Banyak dari mereka mengalami ketakutan, kecemasan, kehilangan rasa aman, bahkan semangat belajar yang menurun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 22 Oktober 2025, sekitar pukul 15.00 WIB, disertai hujan lebat, angin kencang, serta pemadaman listrik.
Meski saat kejadian guru dan siswa sudah berada di rumah masing-masing, kerusakan yang ditimbulkan cukup signifikan. Sejumlah rumah siswa mengalami kerusakan ringan hingga berat, serta menyisakan trauma yang masih dirasakan hingga kini.
“Bagi anak usia sekolah dasar, bencana merupakan pengalaman yang sulit dipahami. Mereka memerlukan waktu, pendampingan, serta perhatian khusus agar kondisi mental dan emosionalnya dapat pulih secara bertahap,” tambahnya.
Selain penyaluran bantuan, kegiatan tersebut juga diisi dengan sesi trauma healing bagi siswa korban bencana. Salah satu aktivitas yang dilakukan adalah menggambar rumah impian sebagai media untuk mengekspresikan perasaan, membangun kembali rasa aman, serta menumbuhkan harapan pascabencana.
Anak-anak tampak antusias menggambar dan menceritakan hasil karyanya di hadapan Masmidah.
“Saya ingin punya rumah yang ada kolam renangnya, saya ingin punya rumah yang ada kendaraannya,” ucap salah satu siswa saat membacakan hasil gambarnya.
Mendengar langsung harapan para siswa, Masmidah memberikan motivasi agar mereka tetap berani bermimpi dan tidak menyerah pada keadaan.
“Saya mendoakan semoga cita-cita adik-adik dapat terwujud dan kalian tumbuh menjadi generasi yang kuat serta berprestasi di masa depan,” tuturnya.



