POJOKSATU.ID - Dualisme kepengurusan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi sorotan publik.
Di tengah polemik internal yang belum menemukan titik terang, Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofan justru memilih berkeliling pesantren di Jawa Timur.
Langkah ini menuai tanda tanya, apakah menjadi upaya konsolidasi atau justru memperdalam fragmentasi di internal organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Baca Juga: Terungkap! Ribuan KTP Warga Tanjung Morawa Disembunyikan Pegawai Honorer Sejak 2020
Zulfa memulai rangkaian kunjungannya dengan menyambangi kediaman Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya.
Dalam keterangannya, Zulfa menyebut kunjungan tersebut sebagai bentuk silaturahmi dan musyawarah yang diklaim sesuai dengan adab jam’iyyah NU.
Namun, di tengah konflik kepengurusan yang masih mengambang, langkah tersebut dinilai sebagian kalangan sebagai upaya mencari legitimasi personal.
“Silaturahmi dan musyawarah dengan Rais Aam merupakan bagian dari adab jam’iyyah NU,” ujar Zulfa, dikutip dari Inilah.com, 19 Desember 2025.
Pernyataan ini terdengar normatif, namun tidak menjawab kegelisahan warga NU soal arah penyelesaian konflik struktural yang hingga kini belum diselesaikan secara transparan.
Setelah dari Surabaya, Zulfa melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, untuk sowan kepada KH Nurul Huda Djazuli.
Baca Juga: Terungkap! Fakta-Fakta OTT KPK yang Menjerat Bupati Bekasi hingga Kantor Pemkab Disegel
Rombongan PBNU kemudian menutup rangkaian kunjungan dengan mendatangi Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, di kediaman KH Kafabihi Mahrus.
Seluruh agenda tersebut dikemas dalam narasi penguatan ukhuwah ulama dan menjaga keutuhan jam’iyyah.
Namun, di balik rangkaian sowan tersebut, muncul kritik bahwa PBNU seolah lebih sibuk membangun citra ketimbang menyelesaikan konflik kepemimpinan yang nyata.
Dualisme kepengurusan yang terjadi dinilai telah mengganggu fokus NU dalam merespons persoalan umat dan kebangsaan.
Beberapa pengamat menilai, sowan ke pesantren besar memang memiliki nilai historis dan kultural dalam tradisi NU.
Baca Juga: Ramai Kritik Penanganan Bencana Sumatera, Sekkab Teddy Akhirnya Angkat Bicara
Namun, ketika dilakukan di tengah konflik internal yang akut, langkah itu justru berpotensi dibaca sebagai manuver politik internal.
Terlebih, tidak ada penjelasan terbuka mengenai peta jalan penyelesaian dualisme yang kini membelit PBNU.
Zulfa sendiri menegaskan bahwa sowan kepada para masyaikh adalah upaya menjaga tradisi NU yang berakar pada adab dan persatuan ulama.
Baca Juga: TMT Mulai Januari 2026, Segini Besaran Gaji 280 PPPK Paruh Waktu Seluma yang Baru Dilantik
“NU dibangun dengan adab, persatuan, dan khidmah,” ujarnya.
Sayangnya, narasi persatuan tersebut dinilai kontradiktif dengan realitas organisasi yang tengah terbelah.
Kritik juga mengarah pada minimnya komunikasi terbuka PBNU kepada publik terkait konflik yang terjadi.
Baca Juga: Pajak Tekor, Menkeu Purbaya Buka Fakta: Dampak Perlambatan Ekonomi Sebelum Saya Menjabat
Warga NU di akar rumput dinilai lebih membutuhkan kepastian arah organisasi, bukan sekadar simbol persatuan yang ditampilkan lewat kunjungan seremonial.
Konflik internal PBNU berisiko menggerus kepercayaan publik terhadap NU sebagai organisasi keumatan yang selama ini dikenal solid.
Jika tidak segera diselesaikan secara jujur dan terbuka, dualisme ini dikhawatirkan akan meninggalkan luka panjang dalam sejarah organisasi.***




