POJOKSATU.id - Isu ribuan langkah yang terekam di smartwatch milik kopilot ATR 42-500, Farhan Gunawan, sempat mengguncang publik.

Memicu spekulasi bahwa sang kopilot masih bergerak setelah pesawat dinyatakan jatuh di lereng Gunung Bulusaraung.

Data aktivitas lebih dari 13 ribu langkah itu beredar luas hingga membuat keluarga dan masyarakat berharap ada tanda kehidupan.

Baca Juga: Universitas Gunadarma, dari PPIK hingga Kampus Unggul Berbasis Teknologi Global

Drama ini memuncak ketika informasi tersebut viral di media sosial.

Banyak yang menduga smartwatch mencatat langkah korban setelah kecelakaan, sehingga lokasi dan pergerakannya bisa dilacak.

Namun gelombang euforia itu dipatahkan oleh fakta resmi dari Basarnas.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menegaskan bahwa data ribuan langkah tersebut bukan berasal dari aktivitas pascakecelakaan.

Baca Juga: Cara Mudah Membuat Video AI untuk Pemula, Cukup Pakai Teks atau Gambar

Melainkan rekaman lama yang tersinkronisasi ulang ketika perangkat ditemukan oleh tim SAR dan kembali terhubung.

"Kami dibantu oleh Polda Sulawesi Selatan dan Tim Siber. Setelah dikonfirmasi, ternyata itu adalah rekaman beberapa bulan yang lalu pada saat yang bersangkutan jalan-jalan di Yogyakarta," ujar Syafii dikutip pojoksatu.id dari suara.com 20/1/2026

Penjelasan ini sekaligus mematahkan dugaan bahwa smartwatch merekam aktivitas terbaru korban.

Baca Juga: Tahun 2026 Sistem Kinerja Guru Berubah Total, Guru Negeri hingga Swasta Wajib Bersiap Akhir Januari Ini

Fenomena sinkronisasi otomatis antara perangkat smartwatch dan ponsel disebut sebagai penyebab data tersebut tampak seperti baru.

Basarnas juga mengungkapkan bahwa fokus utama tim tetap pada pencarian dan evakuasi korban, tanpa bergantung pada spekulasi dari data elektronik yang belum terverifikasi.

Polda Sulsel melalui unit sibernya turut memastikan bahwa tidak ada sinyal pergerakan baru yang berasal dari perangkat milik sang kopilot.

Viralnya informasi yang belum terkonfirmasi ini memperlihatkan betapa cepatnya publik terpancing oleh data teknologi tanpa pemahaman teknis.

Baca Juga: Universitas Gunadarma, dari PPIK hingga Kampus Unggul Berbasis Teknologi Global

Pada akhirnya fakta tegas yang disampaikan otoritas membuktikan bahwa ribuan langkah yang sempat menghebohkan negeri hanyalah rekaman lama.

Yang tidak terkait dengan kondisi setelah jatuhnya pesawat.***