POJOKSATU.id- Sebuah rapat silaturahim para alim ulama PBNU di Jakarta pada Minggu malam (23/11/2025) menegaskan bahwa isu pemakzulan Ketua Umum PBNU.

Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya, diredam secara tegas oleh para kiai.

Alih-alih konflik tajam, hasil rapat justru berisi konsensus “100 persen”, kepemimpinan Gus Yahya tetap bertahan hingga satu periode penuh.

Baca Juga: Hanya Berlaku Setahun! BKN Stop'PPPK Paruh Waktu Permanen, Zudan Arif Bongkar Alasannya!

Tanpa pengunduran diri maupun tekanan pemakzulan.

Menurut Katib Aam PBNU, KH Ahmad Said Asrori.

Sekitar 50 kiai dari berbagai wilayah berkumpul dan sepakat agar kepengurusan berjalan normal hingga muktamar berikutnya, yang direncanakan sekitar tahun 2026.

Baca Juga: Gaji PPPK Bakal Disejajarkan Dengan PNS, Pemerintah Siapkan Skema Pensiun Baru Masih Dibicarakan

Dia menegaskan bahwa tidak ada pemaksaan mundur atau pemberhentian ketum sebelum masa khidmah usai.

Para ulama juga menyerukan agar konflik internal PBNU disikapi dengan “tafakur” dan mujahadah perenungan diri serta perjuangan melawan hawa nafsu demi kebaikan bersama.

Usulan untuk menggelar silaturahim lebih besar pun dilontarkan, dengan melibatkan ulama dari berbagai daerah untuk membahas “islah”, yakni perbaikan internal organisasi.

Baca Juga: Ringkasan Materi Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ekologi dan Keanekaragaman Indonesia Bab 6 Semester 2 Kurikulum Merdeka, Sesuai Tujuan Pembelajaran!

Di sisi lain, Gus Yahya menegaskan dirinya tidak berniat mundur dari jabatan.

Ia menyatakan masa amanah yang diberikan oleh Muktamar ke-34 harus dijalankan secara penuh.

Dia juga menyebut bahwa hingga saat ini belum menerima surat apapun terkait desakan agar mundur, termasuk dokumen risalah Syuriyah PBNU yang ramai di publik.

Mekanisme pergantian kepengurusan, menurut para kiai, hanya bisa dilakukan melalui Muktamar NU, lembaga tertinggi dalam struktur organisasi.

Hal ini sesuai dengan aturan yang terdapat dalam AD/ART PBNU, jadi tidak bisa diganti melalui rapat biasa.

Baca Juga: Ringkasan Materi Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ekologi dan Keanekaragaman Indonesia Bab 6 Semester 2 Kurikulum Merdeka, Sesuai Tujuan Pembelajaran!

Dari sisi ulama, pertemuan ini bukan sekadar pengesahan status quo.

Ada semacam pesan moral pentingnya menjaga persatuan, menghindari konflik publik, dan menyelesaikan masalah lewat musyawarah internal.

Sikap ulama ini bisa diartikan sebagai upaya meredam dinamika internal NU yang sempat mencuat melalui risalah Syuriyah PBNU yang menekan Gus Yahya mundur.

Baca Juga: Gus Fawait Bikin Gebrakan! 22 Ribu Guru Ngaji dan Pendidik Agama Diguyur Insentif Tanpa Potongan

Keputusan “tidak ada pemakzulan” memperlihatkan bahwa para kiai lebih memilih stabilitas organisasi ketimbang pergantian mendadak.

Penekanan pada aturan AD/ART menunjukkan bahwa isu ini dipandang bukan sekadar persoalan individu.

Melainkan masalah kelembagaan yang harus diselesaikan dengan dasar regulasi organisasi.

Baca Juga: Gus Fawait Bikin Gebrakan! 22 Ribu Guru Ngaji dan Pendidik Agama Diguyur Insentif Tanpa Potongan

Meski begitu, usulan islah lebih besar memberi sinyal bahwa polemik belum sepenuhnya tuntas.

Pertemuan lintas ulama menjadi jalan untuk meredam potensi konflik lanjutan dan membangun kembali konsolidasi NU secara kolektif.

Secara publik, keputusan ini juga bisa memberi rasa tenang kepada warga NU bahwa kepengurusan PBNU tidak akan tiba-tiba berubah.

Serta kepemimpinan Gus Yahya mendapat dukungan dari para kiai senior.***