POJOKSATU.ID - Viral aksi seorang pria di Desa Gunung Menyan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, yang marah-marah hingga meludahi menu MBG.

Ternyata membuka persoalan lain di balik program tersebut.

Yaitu lemahnya komunikasi dan minimnya sosialisasi antara pengelola program dan warga penerima manfaat.

Video Ape, warga sekaligus aparat desa, yang memprotes kualitas menu MBG ramai dibicarakan publik usai tersebar di media sosial.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan! Konsep Sunda Ternyata Punya Rumus Anti Bencana, Dedi Mulyadi Ungkap Semua

Dalam rekaman itu, Ape menilai menu MBG tidak layak diberikan kepada anak-anak di wilayahnya.

Ia menunjukkan isi paket yang terdiri dari nasi, potongan ikan, buah anggur, kacang, dan sayur tauge, sambil menyatakan bahwa menu tersebut “tidak layak”.

Namun setelah video viral, klarifikasi yang muncul justru mengungkap akar persoalan yang berbeda.

Kapolsek Cibungbulang Kompol Heri Hermawan menegaskan bahwa kejadian tersebut.

Baca Juga: Maag Tak Kunjung Sembuh? Waspadai Dampak Psikologis yang Bisa Berujung Depresi

Bukan murni insiden penghinaan pada program pemerintah, melainkan “kesalahpahaman dan spontanitas”.

Ape dalam video klarifikasinya menjelaskan bahwa tindakan marah-marah itu dipicu.

Karena ketidaktahuan dan kurangnya komunikasi dengan pengelola SPPG (Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi).

“Hanya sebatas selisih paham dan spontanitas,” ujarnya. Ia bahkan menegaskan tidak berniat menjelekkan program MBG, tetapi hanya meminta kualitas menu diperbaiki.

“Saya minta yang lebih bagus SPPG biar selamat semuanya. Saya selaku aparat pemerintahan desa minta ke pengelola lebih bagus,” katanya dalam video permintaan maaf.

Pertemuan yang digelar pemerintah desa mempertemukan Ape dengan pengelola dapur gizi.

Dari pertemuan itu diketahui bahwa tidak pernah ada komunikasi intens antara mereka sebelumnya. “Semua sudah klarifikasi.

Hanya karena keegoisan masing-masing, tidak pernah ngobrol. Alhamdulillah ketemu beliau, semuanya bisa bareng-bareng gimana ke depannya sinergi,” ujarnya.

Baca Juga: Sukses Berkarya Sebelum 30: Bagaimana Satu Nasihat Mengubah Haluan dan Membawa Foldyester ke Shopee

Pernyataan itu memperjelas bahwa kisruh ini lebih merupakan persoalan koordinasi dan sosialisasi, bukan konflik substansi program.

Program MBG sendiri memiliki standar menu yang disusun oleh tim gizi. Namun, standar itu tidak selalu dipahami warga.

Terlebih jika tidak ada pemberitahuan detail mengenai variasi menu, nilai gizi, atau alasan pemilihan bahan makanan tertentu.

Pria yang mendampingi Ape dalam video klarifikasi juga menyebut bahwa insiden tersebut harus menjadi pembelajaran bersama.

Baca Juga: Hubungan Gagal Berulang? Ini Tanda Mengalami Commitment Issue Tanpa Disadari!

“Mudah-mudahan apa yang disampaikan RT Ape bisa lebih baik ke depannya karena video kemarin viral. Sekarang ada miskomunikasi,” ujarnya.

Kasus ini akhirnya menjadi refleksi bagaimana program sebesar MBG memerlukan pengawasan ketat bukan hanya dari sisi teknis penyajian makanan.

Tetapi juga dari sisi komunikasi antara pemerintah, aparatur desa, dan masyarakat.

Minimnya sosialisasi bisa menimbulkan kesalahpahaman dan ketidakpercayaan publik terhadap program yang sebenarnya bertujuan baik.

Sejumlah pengamat menilai pemerintah harus memperkuat mekanisme pelaporan dan dialog langsung antara warga dan pengelola MBG.

Sebab ketika akses informasi terbatas, warga cenderung menilai berdasarkan persepsi visual semata, bukan berdasarkan kandungan gizi atau standar program.

Insiden di Pamijahan ini, meski telah selesai secara kekeluargaan, menjadi alarm bahwa komunikasi publik pada program gizi massal masih perlu ditingkatkan.

Pengelola SPPG dan perangkat desa perlu memastikan bahwa warga memahami konsep MBG.

Mulai dari standar menu, dan mekanisme evaluasinya sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang.***