POJOKSATU.ID - Kunjungan anggota DPR RI ke ruang perawatan korban ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Mengungkap kondisi memilukan puluhan siswa yang masih dalam perawatan serta empat di antaranya harus menjalani operasi serius.
Insiden ini kembali menegaskan bahwa lingkungan sekolah tempat seharusnya aman kini menjadi lokasi krisis keamanan yang mendalam.
Kondisi Korban dan Tindakan Medis
Menurut pernyataan resmi, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan bahwa empat korban kondisi luka-parah di ledakan SMAN 72 telah dijadwalkan untuk operasi segera di rumah sakit di Jakarta.
Baca Juga: Fisioterapi dan Terapi Okupasi Ditanggung BPJS, Ini Syarat dan Prosedurnya
Korban mengalami luka serius di area rahang, kepala, dan wajah.
Selain empat yang dioperasi, ada puluhan lainnya yang masih dalam rawat inap. Sekitar 20 orang diperkirakan masih dirawat intensif dan ±60 korban telah masuk RS sejak awal kejadian.
Bahkan data terbaru dari KPAI menyebut bahwa hingga hari Sabtu ada 14 siswa yang masih dirawat, dengan jumlah operasi naik menjadi tujuh orang.
Baca Juga: Fenomena Quiet Quitting, Tanda Generasi Muda Tak Mau Lagi Hidup untuk Bekerja
Rumah sakit yang ditugaskan menangani korban antara lain RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan RS lainnya di Jakarta.
Kunjungan DPR sebagai Respons Cepat
Kehadiran anggota DPR RI ke rumah sakit bukan sekadar bentuk perhatian politik, namun juga sinyal bahwa isu keamanan sekolah dan penanganan korban menjadi prioritas nasional.
Dalam kunjungan tersebut, Dasco menyampaikan harapan agar proses penyidikan berjalan cepat dan korban segera pulih.
Baca Juga: Pejabat BKN Ungkap Pesan Penting saat Pelantikan PPPK Paruh Waktu, Ini Maknanya
Komisi X DPR RI melalui Ketua nya Hetifah Sjaifudian juga turun suara, meminta aparat keamanan mengusut tuntas ledakan ini dan memastikan lingkungan sekolah kembali aman.
Dampak dan Tantangan Keamanan Sekolah
Insiden ledakan di SMAN 72 merupakan alpa besar dalam konteks keamanan pendidikan.
Penanganan korban fisik dan trauma psikologis siswa, Sekolah harus menyediakan pendampingan intensif.
Baca Juga: Tetap Tenang di Tengah Drama? Berikut Cara Buat Kamu Manjaga Energi Emosional di Tengah Media Sosial
Pengawasan lingkungan sekolah, termasuk masjid sekolah dan ruang ibadah yang seharusnya aman.
Proses penyidikan yang transparan dan cepat agar publik tetap percaya kepada institusi, DPR RI dan KPAI menekankan hal ini.
Apa yang Harus Dilakukan Sekarang?
Beberapa langkah strategis agar insiden serupa tak terulang:
Audit keamanan sekolah khususnya ruang ibadah dan area publik dalam sekolah.
Baca Juga: RS Islam Jakarta Cempaka Putih Buka Lowongan Supervisor dan Manajer, Cek Syarat Lengkapnya!
Pendampingan korban baik dari sisi medis, fisik maupun psikologis, Siswa yang menjalani operasi memerlukan pemulihan jangka panjang.
Transparansi proses hukum publik perlu mendapat info resmi agar rumor tak berkembang.
Peningkatan protokol darurat sekolah keselamatan siswa harus jadi prioritas nyata, bukan sekadar retorika.
Kunjungan DPR RI menegaskan bahwa tragedi di SMAN 72 bukan sekadar insiden lokal, tetapi alarm nasional bagi sistem pendidikan dan keamanan sekolah.
Baca Juga: KDM Dukung Optimalisasi Jalur KRL Nambo–Citayam, Target Tambah 200 Ribu Penumpang per Hari
Empat korban operasi, puluhan lainnya dirawat—ini angka yang berbicara bahwa ada tugas besar menanti penyembuhan, pengamanan, dan pemulihan kepercayaan.
Semua pihak—pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat harus bergerak bersama agar anak-anak kembali ke ruang kelas yang benar-benar aman.***




