POJOKSATU.ID - Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai kritik keras.

Kali ini, sorotan datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS, Hidayat Nur Wahid yang menilai perbaikan program MBG justru berisiko melenceng dari tujuan utamanya.

Kritik itu muncul setelah Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, mengusulkan agar sopir mobil pengangkut MBG mengenakan kostum Power Rangers demi menarik perhatian anak-anak.

Baca Juga: Diduga Korsleting Listrik, Kebakaran Rental Mobil dan Bengkel di Depok Bikin Pemilik Merugi Sebesar Rp1,5 M

Bagi HNW, usulan tersebut bukan solusi, melainkan simbol kegagalan pemerintah memahami esensi program.

Ia menegaskan, masalah utama MBG bukan pada tampilan visual atau gimmick hiburan.

Melainkan pada kualitas gizi, keselamatan distribusi, serta kesiapan sumber daya manusia yang terlibat.

Baca Juga: Cerita Ruko Terra Drone yang Menelan 22 Korban Jiwa, Ternyata Tak Pernah Dilakukan Perawatan Rutin Selama Penyewaan

“Jangan kemudian disederhanakan hanya dengan pakaian, tapi kemudian ternyata tidak dibekali bekal menjadi sopir,” ujar Hidayat, dikutip dari Tirto, 17 Desember 2025.

Pernyataan tersebut menyinggung langsung insiden serius yang terjadi di SDN Kalibaru 01, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis 11 Desember 2025.

Dalam kejadian itu, mobil pengangkut MBG menabrak puluhan siswa dan seorang guru, menyebabkan belasan korban harus dilarikan ke rumah sakit.

Baca Juga: Ramai Bantuan Malaysia Disorot, Tito Tegaskan Nilainya Kecil Dibanding Anggaran pemerintah Indonesia

Insiden ini menjadi bukti nyata, menurut HNW, bahwa persoalan keselamatan masih jauh dari kata beres.

Ia menyayangkan respons yang muncul justru terkesan dangkal.

Bukannya membenahi sistem distribusi, kualitas kendaraan, serta kompetensi sopir, wacana yang berkembang malah soal kostum dan hiburan visual.

“Terjadilah kasus di Jakarta Utara, sopirnya bahkan cadangan dan kemudian menghadirkan penabrakan. Ini bukan soal baju, ini soal nyawa,” tegasnya.

HNW menilai, penggunaan kostum Power Rangers tidak akan memberikan dampak berarti apabila menu makanan masih monoton.

Baca Juga: Terungkap Lahan 93 Ribu Hektare yang Dikaitkan dengan Prabowo Ternyata Konsesi Negara, Ini Datanya

"Kualitas gizi tidak terstandar, dan pekerja di lapangan tidak dibekali pelatihan memadai," ujarnya dikutip dari Tirto, 17 Desember 2025.

Ia menekankan bahwa MBG seharusnya menjadi instrumen strategis untuk menekan angka stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, serta memutus mata rantai kemiskinan.

Namun, di lapangan, ia melihat indikasi kuat bahwa program tersebut dijalankan secara tergesa-gesa tanpa evaluasi menyeluruh.

Baca Juga: TPG Tak Kunjung Cair Jelang Tutup Tahun, Guru Resah dan Mulai Pertanyakan Kepastian Pembayaran

Bahkan, dari hasil kunjungannya ke sejumlah daerah, termasuk Yogyakarta, HNW mengaku menerima banyak keluhan dari masyarakat.

“Anak-anak berharap menunya bervariasi, bergizi, dan benar-benar bisa dinikmati. Kalau makanannya tidak disukai, tujuan program ini akan gagal total,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap armada kendaraan MBG.

Baca Juga: Menjelang Pergantian Tahun TPG Masih Belum Cair, Guru Diminta Bersabar atau Ada Opsi Lain?

Menurutnya, kendaraan distribusi seharusnya melalui pemeriksaan ketat, mulai dari kondisi rem, kelayakan mesin, hingga jam kerja sopir agar tidak kelelahan.

“Jangan sampai rem blong, jangan sampai sopirnya tidak siap, lalu murid yang jadi korban. Ini program negara, bukan proyek main-main,” kata HNW.

Lebih jauh, ia menilai program MBG kini berada di persimpangan berbahaya.

Jika pemerintah terus menutup mata terhadap kritik dan hanya fokus pada pencitraan, maka MBG berpotensi berubah dari program kesejahteraan menjadi sumber masalah baru.

HNW menegaskan, Jangan hanya tampilan luar. Jangan hanya baju sopir.

"Yang menentukan keberhasilan MBG itu kualitas makanan, keselamatan anak-anak, dan profesionalisme pelaksananya,” pungkas Hidayat.***