POJOKSATU.id, Pandeglang – Tim dosen Departemen PSP FPIK-IPB University, terdiri dari Yopi Novita, Wazir Mawardi, Sugeng H. Wisudo, Budhi H. Iskandar, Vita R. Kurniawati, dan Dwi Putra Yuwandana, melaksanakan pelatihan untuk nelayan di Desa Cikiruhwetan, Kabupaten Pandeglang, Selasa (7/8/2024).
Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung TPI Cikeusik dan dihadiri oleh 30 peserta, yang mencakup nelayan, istri nelayan, serta petugas PPI Cikeusik.
Pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif untuk membentuk Desa Nelayan Mandiri di Desa Cikiruhwetan dan mendukung rencana strategis Pemerintah Daerah Provinsi Banten untuk menciptakan Pelabuhan Perikanan Banten Selatan Terpadu.
Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, memperbaiki kinerja pembangunan kelautan dan perikanan, serta menata kawasan kumuh.
Baca Juga: Tragis, Manajemen Ajukan Permohonan ke 63 Perusahan untuk Jadi Sponsor PSMS, Hasilnya? Nihil
Pelatihan kali ini mencakup tiga materi utama yaitu:
• Pengoperasian Alat Tangkap Berwawasan Lingkungan
Disampaikan oleh Wazir Mawardi, materi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran nelayan tentang pentingnya menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan.
Penggunaan alat yang sesuai diharapkan dapat menjaga keberlanjutan sumber daya ikan dan melindungi lingkungan.
• Manajemen Usaha Perikanan
Sugeng H. Wisudo memaparkan strategi manajemen usaha perikanan yang efektif untuk menjadikan nelayan sebagai sentra pertumbuhan ekonomi pesisir.
Materi ini diharapkan dapat membantu nelayan dalam meningkatkan kinerja usaha perikanan mereka.
• Upaya Mitigasi Risiko
Budhi H. Iskandar membahas langkah-langkah mitigasi risiko untuk mendukung Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Materi ini sangat penting mengingat nelayan di Desa Cikiruhwetan beroperasi di perairan Samudera Hindia, yang dikenal dengan ombak besar dan kondisi berisiko tinggi.
Diskusi dalam pelatihan ini dimoderatori oleh Vita R. Kurniawati.
Acara dimulai dengan sambutan dari Sekretaris Desa Cikiruhwetan, Bapak Riki Repangga, yang menyampaikan, "Kesadaran nelayan akan pentingnya keselamatan di lingkungan kerja masih sangat minim. Beberapa kecelakaan laut, termasuk yang mengakibatkan kematian akibat tenggelam, terjadi karena tidak adanya penggunaan life jacket yang sesuai, meskipun bantuan life jacket telah diberikan sebelumnya."
Baca Juga: Dicap Lamban Merekrut Pemain Asing, Ini Alasan Manajemen PSMS
Pelatihan dibuka oleh Kepala Kantor Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten Wilayah Selatan, Bapak Imam Budiono, SE.
Dalam sambutannya, Bapak Imam Budiono menekankan, "Nelayan Desa Cikiruhwetan perlu meningkatkan kemampuan dalam penangkapan ikan yang efektif dan efisien serta tanggap bencana. Potensi kelautan dan perikanan di Banten sangat besar, dan keberadaan PPI Cikeusik harus dimanfaatkan secara optimal."
Di akhir acara, Yopi Novita, selaku Ketua Tim Dosen PSP IPB University, menyerahkan bantuan alat penyelamatan diri (APD), termasuk life jacket dan life ring, kepada petugas PPI Cikeusik.
"Bantuan ini bertujuan untuk mitigasi risiko LAKALAUT, mengingat wilayah kerja nelayan di perairan selatan Jawa sangat berisiko dengan ombak besar," ujar Yopi Novita.
Kepala KCD Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten Wilayah Selatan berharap agar kegiatan pelatihan ini dapat berlanjut, sehingga tujuan pembentukan nelayan mandiri dapat tercapai.
Nelayan mandiri adalah mereka yang bertanggung jawab terhadap diri, keluarga, dan lingkungannya.
Bersamaan dengan pelatihan, Dwi Putra Yuwandana melakukan pemotretan wilayah pelabuhan menggunakan drone.
Pemetaan ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan lahan yang dapat digunakan oleh pemerintah sebagai acuan untuk pengembangan pelabuhan di masa depan.***




