POJOKSATU.id - Nilai tukar rupiah kembali jadi sorotan publik setelah sempat menyentuh level sekitar Rp16.955 per dolar AS, mendekati titik psikologis Rp17 ribu.
Di media sosial, kepanikan menyeruak. Banyak yang khawatir pelemahan ini akan membawa efek domino ke harga kebutuhan pokok dan biaya impor.
Dalam kepanikan ini pemerintah justru mengirim sinyal berbeda.
Baca Juga: Sidak Berujung Panas! Kunjungan Komisi III DPRD Bekasi ke Babelan Diwarnai Cekcok soal Sampah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil menenangkan, menyebut pelemahan rupiah saat ini bukan gambaran fundamental ekonomi Indonesia.
Melainkan tekanan sentimen global yang sifatnya sementara.
Purbaya menegaskan bahwa investor asing masih melihat Indonesia sebagai pasar yang kuat.
Baca Juga: Disimpan di Lahan Pribadi, Aset Pemkot Bekasi Terancam Tanpa Kepastian Hukum
Ia menunjuk pada satu indikator penting yang menjadi sorotan IHSG yang berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Menurutnya, capaian itu tidak mungkin terjadi tanpa dukungan arus modal masuk yang signifikan.
Purbaya bahkan menyampaikan pernyataan tegas yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Baca Juga: Sidak Berujung Panas! Kunjungan Komisi III DPRD Bekasi ke Babelan Diwarnai Cekcok soal Sampah
"IHSG All Time High, kan? Kalau indeks naik, pasti ada aliran asing masuk ke situ juga. Nggak mungkin masuk sendiri yang bisa mendorong ke level seperti itu."
"Jadi, ini tinggal tunggu waktu saja rupiahnya menguat." ujarnya dikutip Pojoksatu.id dari antaranews 19/1/2026.
Pernyataan ini memberi gambaran bahwa pemerintah melihat fase pelemahan rupiah sebagai kondisi yang tidak perlu dibesar-besarkan.
Tekanan dolar disebut berasal dari ketidakpastian global mulai dari kebijakan tarif Amerika hingga arah suku bunga The Fed yang juga memengaruhi banyak negara lain.
Jaid bukan hanya Indonesia.
Baca Juga: Sidak Berujung Panas! Kunjungan Komisi III DPRD Bekasi ke Babelan Diwarnai Cekcok soal Sampah
Meski begitu, sejumlah analis pasar menilai pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan masih akan bergantung pada sentimen global.
Tetapi dengan IHSG yang menguat dan aliran modal yang terus masuk, ada peluang nyata rupiah kembali stabil.***




