POJOKSATU.id - Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlangsung mulai menimbulkan kekhawatiran di sektor perumahan.

Para pengembang menilai dampaknya memang belum terasa sepenuhnya saat ini, namun ancaman yang lebih besar diperkirakan akan muncul dalam beberapa bulan mendatang apabila nilai tukar rupiah terus tertekan.

Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto mengatakan kenaikan dolar AS merupakan sinyal negatif bagi industri properti nasional.

Menurutnya, pelaku usaha masih memiliki ruang untuk menahan dampak tersebut dalam jangka pendek, tetapi kondisi bisa menjadi lebih berisiko apabila tekanan berlangsung terlalu lama.

Baca Juga: Kenaikan Jabatan Guru Kini Tak Lagi Otomatis, UKKJ 2026 Jadi Penentu Karier ASN, Pendaftaran SUDAH DIBUKA, Ini Jadwal dan Panduannya

"Yang jelas itu dampak negatif atas kondisi kita. Kalau pada batas tertentu, ya 3 sampai 6 bulan kan mungkin mereka masih bisa nahan. Tapi kalau setelah itu bakal menjadi sesuatu yang agak bahaya kan begitu," kata Joko.

Ia menjelaskan bahwa tekanan terbesar sebenarnya lebih dulu dirasakan sektor manufaktur padat karya yang memiliki pinjaman dalam dolar AS atau bergantung pada bahan baku impor.

Ketika biaya produksi meningkat, efek berantainya akan menjalar ke berbagai sektor lain, termasuk industri perumahan dan bahan bangunan.

Baca Juga: Prabowo Terima Pesan Khusus Emir Qatar, Indonesia dan Qatar Perkuat Kerja Sama Strategis

"Tapi yang jadi problem kan kalau itu termasuk kepada perusahaan manufaktur yang padat karya, yang punya pinjaman dalam dolar AS atau bahan bakunya dari luar negeri. Sehingga itu akan memberikan tekanan," lanjutnya.

Menurut Joko, sektor yang paling rentan terdampak adalah perumahan rakyat, termasuk rumah subsidi yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.

Sementara itu, segmen rumah mewah dinilai lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi.

Konsumen di kelas atas memiliki daya beli yang lebih kuat sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga maupun perubahan kondisi pasar.

Baca Juga: Kebijakan Pemerintah Terhadap Gaji ke-13 Sebagai Hak PPPK, Begini Perhitungannya Beserta Tunjangan Lainya

"Kalau komersil bisa berdampak, kalau yang tidak terdampak itu adalah mereka yang di level atas ya, rumah mewah ya. Yang tidak terdampak itu adalah level paling atas, karena mereka punya pilihan, punya daya dukung tinggi. Sedangkan kelas menengah kan tidak punya pilihan," terangnya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Andriliwan Muhammad atau yang dikenal sebagai Andre Bangsawan.

Menurut Andre, kenaikan dolar AS sebenarnya sudah mulai dirasakan oleh para kontraktor dan pelaku usaha bahan bangunan.

Baca Juga: Android 17 Resmi Diperkenalkan, Google Gemini Kini Bisa Atur Ponsel dan Susun Rencana Perjalanan Otomatis

Meski demikian, dampaknya hingga kini masih relatif terbatas karena stok material yang tersedia masih cukup banyak.

"Oh udah terasa. Sudah terasa kenaikan bahan-bahan bangunan. Tapi itu masih sebagian ya, belum terasa banget lah," kata Andre.

Ia memperkirakan tekanan yang lebih serius baru akan muncul dalam dua hingga tiga bulan mendatang apabila pemerintah tidak mampu mengendalikan gejolak nilai tukar.

"Saat ini dampaknya belum signifikan. Karena kenapa? Persediaan bahan-bahan di kami itu masih banyak, apalagi kami akan bangun 1.000 rumah gitu kan. Mungkin ini akan berdampak serius dalam 2-3 bulan akan datang. Kenaikannya bisa lebih tinggi," jelasnya.

Baca Juga: Jadwal Tayang Film Baru Juni 2026: Toy Story 5, Supergirl hingga Warkop DKI Viralin Dong Siap Ramaikan Layar

Meski menghadapi tantangan tersebut, Andre memastikan para pengembang tetap berkomitmen mendukung target pemerintah dalam program pembangunan 3 juta rumah.

Ia menilai berbagai kebijakan yang tengah disiapkan pemerintah, termasuk rencana tenor kredit pemilikan rumah hingga 40 tahun, dapat menjadi pendorong bagi masyarakat untuk tetap memiliki akses terhadap hunian yang layak.

"Tapi bagi kami, dengan kenaikan dolar itu tidak akan mempengaruhi semangat kami untuk mendukung program 3 juta rumah. Apalagi dengan adanya tenor 40 tahun. Kami berupaya untuk memenuhi program pemerintah tersebut," ujarnya.

Baca Juga: Begini Skema Proporsional THR dan Gaji ke-13 bagi PPPK dengan Masa Kerja Kurang dari Setahun!

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, sektor perumahan kini menghadapi ujian baru.

Kenaikan biaya material dan tekanan terhadap daya beli masyarakat menjadi faktor yang terus dipantau para pelaku industri agar target pembangunan hunian tetap dapat berjalan sesuai rencana.

Rumah bukan sekadar bangunan, tetapi harapan banyak keluarga untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat menjadi hal penting agar impian memiliki rumah tidak semakin jauh dari jangkauan jutaan rakyat Indonesia.***