POJOKSATU.ID - Kekacauan distribusi bantuan di Aceh kembali mencuat setelah sebuah video memperlihatkan sekelompok pria.

Dua di antaranya mengenakan seragam loreng lengkap dengan baret dan atribut Bulan Bintang, menaiki kapal bantuan dan meminta jatah logistik.

Video tersebut cepat beredar di media sosial dan memicu kemarahan publik, lantaran kejadian itu terjadi di tengah situasi darurat saat warga masih menunggu bantuan.

Dalam rekaman yang viral itu, tampak sekelompok orang menggunakan kapal kayu kecil untuk merapat ke kapal besar yang membawa logistik bencana.

Baca Juga: Viral! 9 Hektare Hutan Kerinci Hilang Dirambah Pembalak Liar, Pengawasan Dipertanyakan!

Tanpa terlihat ada proses pemeriksaan resmi, beberapa dari mereka langsung naik ke dek kapal dan berbicara dengan petugas.

Suasana tampak kacau, seolah distribusi bantuan tidak memiliki pengamanan ketat.

Identitas dua pria berseragam loreng makin memantik kecurigaan publik.

Di lengan baju mereka terlihat atribut Bulan Bintang dan logo Burak Singa, simbol yang sensitif dan kerap dikaitkan dengan kelompok tertentu di Aceh.

Baca Juga: Puluhan Pasangan Jadi Korban, Pemilik WO Ayu Puspita Digerebek dan Diseret ke Polres Jaktim, Diduga Gelapkan Dana Rp15 Miliar

Dalam video lain, seorang anggota TNI yang mengawal kapal tampak berbicara lewat ponsel dan menyebut nama “panglima wilayah Idi Cut, Aceh Timur”.

Sementara pria loreng mengaku naik ke kapal setelah “mendapat perintah dari staf khusus Mualem”.

Klaim itu sontak menimbulkan tanda tanya besar. Apakah ada pihak tertentu yang memanfaatkan status darurat untuk menekan distribusi bantuan?

Gubernur Aceh Muzakir Manaf akhirnya angkat bicara. Namun reaksinya justru menambah kebingungan publik.

“Saya tidak ada laporan. Kalau ada sudah jelas akan kita tindak,” ujar Mualem, seolah tak mengetahui apa-apa terkait tindakan orang yang mengaku “anak buahnya”.

Respons itu memancing kritik, sebab aksi tersebut terjadi di wilayah yang berada dalam kondisi bencana besar, seharusnya berada di bawah koordinasi langsung pemerintah provinsi.

Terkait isu penguasaan bahan pangan oleh pihak-pihak tertentu, Mualem hanya memberi imbauan normatif.

“Dalam membantu masyarakat jangan ambil kesempatan di air keruh,” katanya, dikutip dari Detik, 8 Desember 2025.

Baca Juga: Pemkot Bandung Salurkan Rp2 Miliar untuk Korban Bencana Sumatera, Solidaritas Jabar Terus Mengalir

Pernyataan itu dinilai tidak cukup tegas di tengah kekacauan distribusi bantuan yang terus dipertanyakan warga.

Situasi ini menambah daftar problem serius dalam penanganan bencana di Aceh, penjarahan bantuan, distribusi tidak merata, informasi simpang siur.

Hingga munculnya “aktor-aktor tak jelas” yang mengaku bagian dari otoritas tertentu.

Warga mengaku tidak kaget dengan video tersebut.

Pasalnya, sejumlah titik pengungsian memang mengeluhkan lambatnya bantuan dan dugaan adanya pihak yang mencoba mengambil jatah bantuan di tengah situasi kritis.

Baca Juga: Masinton Akui Pemerintah Kocar-Kacir, 80 Persen Pegawai Jadi Korban, Warga Terlantar!

Minimnya kejelasan dari pemerintah membuat publik semakin resah.

Apalagi klaim “perintah staf khusus gubernur” dibiarkan menggantung tanpa klarifikasi tegas.

Sementara itu, pengamanan distribusi bantuan terus dipertanyakan, terutama setelah munculnya pihak berseragam yang bukan bagian dari struktur resmi.

Aksi yang terekam dalam video ini dipandang sebagai simbol kacaunya koordinasi dan lemahnya kontrol pemerintah daerah terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan situasi darurat.

Di tengah penderitaan ribuan warga, moralitas sebagian pihak diuji dan seperti terlihat dalam rekaman itu, banyak yang gagal.***