POJOKSATU.id, JAKARTA-- Pendiri Jaringan Nusantara, Aam S, menegaskan bahwa tuduhan SBY terlibat dalam kasus ijazah Jokowi hanyalah spekulasi kosong yang sengaja diciptakan untuk menyudutkan sosok SBY.
Aam S memberikan pembelaan keras terhadap Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang belakangan diseret dalam polemik dugaan ijazah palsu mantan Presiden Jokowi.
Menurutnya, mengkaitkan SBY dengan isu ijazah Jokowi adalah langkah yang tidak memiliki dasar empiris. Ia menyebut hal ini sebagai bentuk serangan yang terstruktur.
“Tidak ada satu pun bukti objektif yang menunjukkan keterlibatan SBY dalam desain, orkestrasi, atau penyebaran isu dugaan ijazah Jokowi,” katanya, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: Bawa-bawa Nama NU Laporkan Pandji, PBNU Tegaskan Angkatan Muda Itu Bukan Bagian Kami
“Tuduhan ini murni fitnah politik yang dikonstruksi untuk kepentingan tertentu,” kata Aam lagi.
Sebagai seorang negarawan, SBY dikenal memiliki rekam jejak yang konsisten dalam menjaga etika kekuasaan.
Selama dua periode menjabat, ia tidak pernah menggunakan isu personal sebagai alat politik terhadap lawan maupun penerusnya.
Sikap ini menunjukkan bahwa SBY selalu mengedepankan jalur institusional dan menghindari politik personal, sebuah konsistensi yang menurut Aam menjadi ciri khas kepemimpinannya.
Aam menilai, mencuatnya kembali isu ijazah Jokowi pasca-kekuasaan justru mencerminkan krisis narasi dan konflik internal di sejumlah kelompok politik.
Dalam kondisi tersebut, figur besar seperti SBY sering dijadikan sasaran untuk mengalihkan perhatian publik.
Baca Juga: Pengembalian Uang Korupsi Kuota Haji Tembus Rp 100 Miliar, KPK Imbau Travel Lain Kooperatif
Pola ini, menurut Aam, adalah pola klasik politik Indonesia: ketika konflik substantif tidak terselesaikan, dibangun isu simbolik dengan menyeret nama besar agar kegaduhan meningkat.
Terkait upaya mengaitkan SBY melalui figur Roy Suryo, Aam menegaskan hal itu keliru.
Roy yang kini berdiri sebagai individu dan tidak memiliki hubungan struktural atau politis dengan Partai Demokrat maupun SBY, bahkan menyatakan secara terbuka bahwa SBY tidak terlibat dalam isu ijazah Jokowi.
Dengan demikian, narasi keterlibatan SBY menurut Aam otomatis gugur secara logika dan fakta.
Dalam beberapa waktu terakhir, menurut Aam, serangan terhadap SBY bersifat sistematis. Bukan sekadar kritik, melainkan upaya membangun persepsi negatif melalui framing berulang di media sosial dan ruang publik.
Isu ijazah Jokowi hanyalah pintu masuk; target utamanya adalah delegitimasi moral SBY sebagai tokoh bangsa yang masih memiliki pengaruh simbolik.
Aam juga menekankan bahwa posisi SBY yang menjaga jarak dari hiruk-pikuk politik praktis justru membuatnya rentan diserang.
“Beliau tidak menyerang siapa pun. Namun justru karena sikap itu, beliau dijadikan sasaran untuk dilemahkan secara reputasional,” ujar Aam.
Ia mengingatkan masyarakat agar bijak membedakan kritik berbasis data dengan tuduhan tanpa dasar.
Demokrasi tidak akan sehat jika ruang publik dipenuhi spekulasi dan fitnah yang dikemas seolah fakta. Kritik harus berbasis verifikasi; jika tidak, yang rusak bukan hanya individu, tetapi kualitas demokrasi itu sendiri.
Aam mengajak publik bersikap rasional dan tidak terjebak dalam narasi adu domba antar tokoh bangsa. Menurutnya, publik harus cerdas memilah mana informasi dan mana manipulasi.***




