POJOKSATU.ID – Belum lama ini kasus ledakan amunisi di Garut, Jawa Barat kian menarik perhatian publik.
Seperti diketahui, sebanyak 13 orang termasuk warga sipil telah tewas usai terkena ledakan tersebut.
Berdasarkan informasi dihimpun, penyebab warga tewas dalam insiden itu tidak lain lantaran tengah mengutip sisa amunisi yang diledakkan.
Baca Juga: Tak Habis-habis, SMK CBM Purwokerto Kian Ramai Disorot Usai Gelar Wisuda Kelulusan Bak Universitas
Namun, tudingan terhadap korban yang diklaim sebagai pemulung sisa amunisi justru dibantah oleh pihak keluarga.
Sebagaimana dikutip Pojoksatu.id dari akun media sosial platform X milik @Heraloebss pada Selasa (13/5/2025).
Dalam unggahannya, terlihat salah satu keluarga korban memberikan keterangan langsung kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Di mana, dirinya menuturkan dengan jelas bahwa keluarganya yang tewas bukan karena kelalaian semata.
Melainkan, keluarganya yang tewas itu tidak lain lantaran terlibat dengan aparat TNI dalam memusnahkan amunisi tersebut.
“Saya minta pertanggungjawaban, karena bapak saya di situ bukan sebagai orang-orang pikirin,” jelasnya.
Baca Juga: Bela Sang Adik Gegara Podcast Debi Sagita, Fadly Faisal : yang Kena Fuji Lagi, Fuji Lagi
“Bapak saya bukan pemulung, bapak saya di situ (tempat kejadian) kerja sama tentara,” lanjut keluarga korban.
Diketahui, kasus ini juga turut ditanggapi langsung oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Lola Nelria Oktavia.
Yang mana, Lola mewakili DPR minta tegas agar aparat penegak hukum yang melakukan penyelidikan bekerja dengan transparan.
Baca Juga: World Capital Tower Tunjuk Ecocare Cleaning untuk Tingkatkan Standar Kebersihan Gedung
“TNI dan Polri diharapkan dapat memberikan transparansi dalam penanganan kasus ini,” ucap anggota DPR Komisi III, Lola Nelria Oktavia.
“Sekaligus memperbaiki sistem keamanan dalam pengelolaan amunisi. Jangan sampai kejadian serupa terulang atau terjadi di tempat lain,” jelasnya yang dilansir dari portal Pojoksatu.id.
Lola juga menuturkan bahwa pihak kepolsian seharusnya sudah mempertimbangkan dampak dalam pemusnahan amunisi tersebut.
Sebab, proses pemusnahan amunisi ini disinyalir sudah sering di lakukan pada Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Terlebih lagi, anggota DPR itu menyebutkan bahwa jarak kantor antara TKP dengan Polres Garut tidak terlalu jauh.
“Jarak dengan Polres juga sekitar 3 jam. Jadi, seharusnya sudah ada pertimbangan yang matang,” tuturnya.
Baca Juga: SPMB 2025 Kota Depok Segera Dibuka! Simak Panduan Lengkap & Daftar 20 SMA Terbaik untuk Referensi
“Termasuk dalam hal pengalaman penyelenggaraan kegiatan yang mempertimbangkan keamanan dan keselamatan masyarakat,” imbuhnya.
Lola juga mengimbau kepada beberapa pihak, terkhusus keluarga korban untuk menunggu hasil investigasi para penyelidik.
Tidak lain, hal ini untuk mengetahui sebab-akibat ledakan amunisi itu terjadi yang berakhir memakan korban jiwa.
“Mari kita tunggu hasil investigasi resmi untuk memastikan keadilan bagi para korban. Tidak perlu ada spekulasi yang terlalu dini atas peristiwa ini,” tandasnya. ***



