POJOKSATU.id - Dua dekade lalu, Jakarta pernah menaruh harapan besar pada proyek monorel.

Pada 2004, Presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan peletakan tiang pancang pertama yang digadang-gadang sebagai simbol modernisasi transportasi Ibu Kota.

Jakarta saat itu membayangkan masa depan baru kereta melayang yang mengurai kemacetan, menghubungkan pusat bisnis.

Baca Juga: Dana JHT Tak Kunjung Masuk Meski Lewat 5 Hari Kerja, Ini Penjelasan BPJS Ketenagakerjaan

Serta menandai langkah besar menuju kota metropolitan berkelas dunia.

Namun, harapan itu perlahan memudar. Yang tersisa justru deretan tiang besar berwarna hijau yang berdiri membelah Jalan HR Rasuna Said dan kawasan Asia Afrika diam, berdebu, dan tak pernah benar-benar menjalankan fungsi awalnya.

Tiang itu berubah menjadi saksi bisu dari gagalnya koordinasi pemerintah dan investor dalam mewujudkan sistem transportasi massal yang dijanjikan.

Baca Juga: Fundamental Kokoh, Bank Mandiri Bagikan Dividen Interim Rp9,3 Triliun

Proyek yang awalnya dikelola PT Jakarta Monorail ini terhenti akibat masalah pendanaan dan persyaratan teknis yang tak kunjung terpenuhi.

Pemerintah daerah pada masa-masa setelahnya silih berganti mencoba menghidupkan kembali proyek itu, namun semuanya kandas.

Bahkan di era Joko Widodo sebagai Gubernur DKI, upaya revitalisasi tetap tak menemukan titik cerah.

Baca Juga: Dana JHT Tak Kunjung Masuk Meski Lewat 5 Hari Kerja, Ini Penjelasan BPJS Ketenagakerjaan

Pada tahun-tahun berikutnya, kritik semakin keras. Mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama pernah menyebut proyek tersebut sebagai “monumen penipuan,”.

Merujuk pada tiang yang berdiri tanpa kejelasan.

Warga Jakarta pun sudah lama menganggap struktur itu sebagai simbol kegagalan tata kelola proyek publik.

Kini, setelah lebih dari 20 tahun mangkrak, pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah Gubernur Pramono Anung akhirnya mengambil keputusan tegas.

Dengan membongkar seluruh tiang monorel yang berdiri di sepanjang Rasuna Said.

Baca Juga: Dana JHT Tak Kunjung Masuk Meski Lewat 5 Hari Kerja, Ini Penjelasan BPJS Ketenagakerjaan

Keputusan ini diambil dengan pertimbangan estetika kota, keamanan, hingga penataan ulang koridor jalan yang menjadi salah satu pusat perkantoran terbesar di Indonesia.

Pembongkaran dilakukan secara bertahap dengan metode pengangkatan menggunakan crane dan pemotongan struktur.

Pemerintah memastikan proses berlangsung tanpa menutup jalan secara penuh, namun rekayasa lalu lintas tetap diberlakukan pada jam-jam tertentu.

Baca Juga: Kesejahteraan Guru Honorer 2026, Tambahan Insentif Rp100 Ribu, Apakah Cukup? Simak Penjelasannya

Keputusan ini sekaligus menutup bab panjang perjalanan proyek yang pernah disebut sebagai “mimpi modernisasi Jakarta”.

Dari peresmian penuh optimisme pada era Megawati hingga pembongkaran di masa Pramono Anung.

Monorel Jakarta adalah pengingat keras bahwa perencanaan transportasi tidak boleh dilakukan setengah hati.

Baca Juga: Dana JHT Tak Kunjung Masuk Meski Lewat 5 Hari Kerja, Ini Penjelasan BPJS Ketenagakerjaan

Kini, warga Jakarta bisa membayangkan kembali wajah Rasuna Said tanpa rangka besi yang menghiasi langit jalan.

Pembongkaran ini menjadi awal baru penataan ruang kota, sekaligus penutup dari sebuah ironi sejarah***