POJOKSATU.ID - Kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Posko Pengungsian SD 05 Pasak Palembayan, Kabupaten Agam 18 Desember 2025, meninggalkan kesan emosional.
Presiden mengaku terharu melihat warga terdampak bencana yang tengah berada dalam kondisi sulit, namun tetap menyambut kedatangannya dengan senyum dan keramahan.
Di hadapan para pengungsi, Prabowo menyampaikan rasa terima kasih sekaligus apresiasi atas ketabahan masyarakat.
Baca Juga: Beasiswa Pemerintah Brunei 2026 Dibuka, Peluang Kuliah Gratis S1–S2 untuk Mahasiswa Indonesia
Namun di balik momen haru tersebut, realitas di lapangan menunjukkan bahwa penderitaan korban bencana belum benar-benar teratasi.
Ribuan warga masih hidup dalam keterbatasan di tenda-tenda pengungsian, dengan akses yang terbatas terhadap hunian layak, sanitasi memadai, dan kepastian masa depan.
Sambutan hangat warga justru kontras dengan kondisi objektif pemulihan yang masih jauh dari kata selesai.
Baca Juga: Arahan Prabowo Mengejutkan, Bakal Beri 10 Persen Saham Freeport ke Orang Asli Papua, Ini Skemanya
Dalam pernyataannya, Prabowo menyebut kondisi di Agam mulai membaik dan menjanjikan percepatan pembangunan hunian sementara serta hunian tetap.
"Hunian sementara dapat selesai dalam waktu satu bulan agar warga tidak terus-menerus tinggal di tenda," ujarnya dikutip dari Kompas, 18 Desember 2025.
Janji tersebut kembali mengemuka sebagai narasi utama kunjungan presiden.
Namun belum disertai kepastian teknis yang jelas mengenai pendanaan, jumlah unit, dan tenggat pembangunan hunian permanen.
Sejumlah warga yang ditemui bahkan tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan keluhan langsung kepada Presiden.
Tangisan itu menjadi potret keputusasaan masyarakat yang telah berpekan-pekan hidup dalam situasi darurat.
Banyak di antara mereka kehilangan rumah, sumber penghidupan, bahkan anggota keluarga, sementara proses pemulihan berjalan lambat dan bertahap.
Prabowo juga menyampaikan apresiasi kepada TNI, Polri, BNPB, Basarnas, serta pemerintah daerah yang terlibat dalam penanganan bencana.
Namun pujian terhadap aparat dan birokrasi tak serta-merta menutup kritik atas lambannya transisi dari masa tanggap darurat menuju rehabilitasi menyeluruh.
Hingga kini, banyak pengungsi masih menggantungkan hidup pada dapur umum dan bantuan relawan.
Kunjungan presiden yang sarat simbol empati ini dinilai sebagian pihak lebih menonjolkan aspek seremonial dibanding penyelesaian akar persoalan.
Baca Juga: Pemerintah Bangun Kampung Haji Indonesia di Mekkah, Publik Pertanyakan Prioritas Pemerintah
Menyapa warga, makan di dapur umum, dan menyampaikan janji pemulihan memang penting secara politis dan psikologis.
Tetapi belum menjawab kegelisahan utama korban yaitu kapan mereka benar-benar bisa kembali hidup normal.
Kehadiran sejumlah menteri mendampingi Prabowo memperkuat kesan keseriusan pemerintah pusat.
Baca Juga: CPNS 2026 Kapan Dibuka? Ini Penjelasan Terbaru KemenPANRB dan BKN Mengenai Jadwal Resmi
Namun, tanpa langkah konkret yang terukur dan transparan, kunjungan tersebut berisiko dipersepsikan sebagai rutinitas pencitraan di tengah bencana besar.
Apalagi, data nasional mencatat ribuan korban jiwa dan ratusan ribu pengungsi di Sumatera akibat rangkaian bencana, yang menuntut respons luar biasa, bukan sekadar janji normatif.
Empati presiden memang penting, tetapi bagi korban bencana, empati tanpa percepatan pemulihan hanyalah penghiburan sementara.
Di tengah puing-puing dan tenda pengungsian, masyarakat Agam masih menunggu bukti nyata bahwa negara benar-benar hadir, bukan hanya datang, terharu, lalu pergi.***




