POJOKSATU.ID - Industri air minum dalam kemasan (AMDK) seperti AQUA kembali menjadi sorotan setelah muncul pergumulan.

publik terkait praktik pengambilan air tanah dalam (akuifer) untuk produksi

Isu ini mengangkat sisi negatif dari klaim “mata air pegunungan” yang selama ini melekat pada merek tersebut

Menimbulkan kekhawatiran soal keberlanjutan sumber daya air serta dampak lingkungan di wilayah operasional.

Baca Juga: KJP Plus 2025 Anggaran Fantastis Rp2 Triliun dan Pertarungan Prioritas Pendidikan DKI

 

Fakta & isi negatif yang terkuak

1. Pengambilan dari sumur bor/akuifer dalam

Meski AQUA dalam pernyataannya menyebut menggunakan “air pegunungan”, sejumlah investigasi menemukan bahwa sumber pengambilan.

Baca Juga: Razia ASN Digelar Acak, Pegawai Nongkrong Saat Jam Kerja Terancam SP

Adalah sumur bor di kedalaman sekitar 60–140 meter.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah yang diklaim sebagai “mata air pegunungan murni” benar-benar sesuai dengan eksekusi di lapangan.

2. Regulasi dan evaluasi izin yang sedang diuji ulang

Baca Juga: Program Pemutihan BPJS, Solusi Sosial atau Beban Keuangan Negara?

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan akan melakukan evaluasi ulang.

Terhadap izin pengambilan air tanah oleh AQUA terkait polemik tersebut.

Meski perusahaan menyatakan telah memiliki izin (SIPA) dan mematuhi regulasi.

Fakta bahwa evaluasi ulang dianggap perlu menunjukkan celah dalam pengawasan atau persepsi publik.

Baca Juga: Roy Suryo dan Deretan Kontroversi Panjang Dari Dewa Panci hingga Isu Ijazah Palsu Jokowi

3. Kekhawatiran dampak lingkungan

Pengambilan air dari akuifer dalam berisiko terhadap ekosistem air tanah dan potensi kerusakan fisik seperti pergeseran atau amblesan tanah jika pengelolaan tidak tepat.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa.

Baca Juga: KJP Plus 2025 Gerbang Kesetaraan Pendidikan dan Investasi Sosial Jakarta

Jika pengambilan melebihi debit aman, maka “kualitas dan kuantitas air bisa menurun, bahkan merusak lingkungan sekitar”.

Sebuah studi di Kabupaten Subang terhadap AMDK menyebut bahwa eksploitasi air tanah.

Dan pembangunan pabrik dalam skala besar dapat menimbulkan dampak negatif terhadap fisik-kimia, biologi dan komponen sosial ekonomi setempat.

Baca Juga: KJP Plus 2025 Gerbang Kesetaraan Pendidikan dan Investasi Sosial Jakarta

 

Mengapa hal ini bermasalah

Klaim yang menyesatkan konsumen Konsumen membeli produk dengan asumsi bahwa asal air.

Adalah mata air pegunungan alami, tapi kenyataan berupa sumur bor dalam bisa dianggap memudar-nyamankan janji tersebut.

 Risiko keberlanjutan sumber daya air Jika pengambilan dilakukan secara agresif tanpa pemantauan yang tepat

Potensi menurunnya muka air tanah atau rusaknya fungsi akuifer terjadi yang pada akhirnya berdampak ke masyarakat setempat.

Ketidakjelasan transparansi dan kepercayaan publik Pernyataan perusahaan bahwa dewasa ini “tidak bersinggungan dengan air masyarakat”.

Baca Juga: Gelar Pahlawan Nasional Soeharto Ditolak, Ada Syarat Tidak Cacat Moral atau Sosial, Fadli Zon Tetap Bilang Sudah Penuhi Syarat

Harus dipertimbangkan dalam konteks pengawasan eksternal dan bukti lapangan yang nyata.

Dampak lingkungan yang tak terlihat langsung Amblesan atau perubahan kondisi.

hidrogeologi bisa muncul dalam jangka panjang dan sering kali tidak langsung disadari oleh pengguna air masyarakat.

Baca Juga: Mahfud MD Sindir Budi Arie! Pengkhianatan Etika Politik dan Manuver Kekuasaan

AQUA mengaku menggunakan air dari akuifer dalam dengan kedalaman 60-140 meter. 

Pemerintah mencatat telah menerbitkan ± 4.700 izin pengusahaan air tanah hingga Oktober 2025 di seluruh Indonesia. 

Penelitian menyebut bahwa di lokasi pabrik AMDK di Desa Darmaga & Pasawahan, Kecamatan Cisalak, Kab. Subang.

Baca Juga: Tinawati Andra Soni Dorong Kader Posyandu Banten Terus Berinovasi

eksploitasi air tanah menimbulkan potensi dampak negatif fisik-kimia dan sosial-ekonomi. 

Peneliti BRIN menyatakan bahwa pengambilan yang melebihi kapasitas izin bisa memicu amblesan atau pergeseran tanah. 

Meskipun AQUA telah mengeluarkan klarifikasi bahwa seluruh praktik sudah sesuai regulasi.

Realitas di lapangan serta persepsi konsumen menunjukkan adanya gap antara klaim pemasaran dan pelaksanaan operasional.

Kritik tidak hanya tertuju pada kualitas produk maupun keamanan konsumsi, tetapi lebih pada aspek lingkungan, keberlanjutan dan kejujuran komunikasi.

Dalam konteks ini, perusahaan besar seperti AQUA dipandang memiliki tanggung-jawab lebih besar untuk transparan dan memastikan bahwa sumber air.

Baca Juga: Mahfud MD Sindir Budi Arie! Pengkhianatan Etika Politik dan Manuver Kekuasaan

Yang dieksploitasi tidak mengorbankan kepentingan masyarakat maupun ekosistem di sekitarnya.***