POJOKSATU.id, BANDUNG—Gubernur Dedi Mulyadi menuai kontroversi usai mengganti nama RSUD Al Ihsan milik Pemprov Jabar menjadi Welas Asih.
Sebenarnya tidak kali ini saja Dedi menuai kontroversi yang berkaitan dengan Islam, pada Agustus 2023, Dedi juga jadi sorotan publik karena sembah sungkem ke kereta kencana dengan berbagai prosesinya.
Saat itu Dedi Mulyadi yang mengenakan baju putih dan ikat kepala putih menggelar prosesi ketika melepas Kereta Ki Jaga Rasa untuk membawa bendera pusaka saat Upacara HUT ke-78 RI di Istana Merdeka, Jakarta.
Baca Juga: Buni Yani Anggap Dedi Mulyadi Alergi Berbau Islam, Selain RSUD Al Ihsan, Ada Kasus Kereta Kencana
Berikut deretan kontroversi Dedi Mulyadi selain kasus vasektomi dan barak militer bagi siswa SMA nakal di Jawa Barat.
1.Pengikut Sunda Wiwitan
Dalam sebuah video singkat yang diunggah di kanal YouTube Percaya Gak Percaya, Dedi secara terbuka mengakui dirinya sebagai pengikut ajaran Sunda Wiwitan, khususnya dalam aspek etika lingkungan.
“Saya ini dari sisi etika lingkungan pengikut ajaran Sunda Wiwitan, yaitu ajaran yang mengajarkan mata air harus dijaga, pohon harus ditanam, gunung tidak boleh ditambang, rumah harus julang ngapak. Kan itu ajaran leluhur saya dari sisi lingkungan,” ungkap Dedi dalam video tersebut.
Baca Juga: Bonek Bonita
2.Sungkem Kereta Kencana
Kereta Ki Jaga Rasa merupakan kereta kencana milik Dedi Mulyadi yang biasa disimpan di kediamannya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang.
Diketahui video Dedi sembah sungkem kereta ini adalah kejadian pada Agustus 2023, ketika hendak melepas Kereta Ki Jaga Rasa untuk membawa bendera pusaka saat Upacara HUT ke-78 RI di Istana Merdeka, Jakarta.
Politikus Partai Ummat Buni Yani mengunggah video lawas Dedi Mulyadi yang sedang sembah sungkem kepada Kereta Kencana Ki Jaga Rasa.
"Kalau Dedi Mulyadi alergi dengan hal-hal yang berbau Islam ya memang begitulah adanya. Fakta berbicara sendiri," kata Buni Yani dikutip dari akun Facebook pribadinya, Rabu (9/7/2025).
Baca Juga: KPK Umumkan Lima Tersangka Kasus Mesin BRILink atau EDC BRI, Kerugian Negara Ditaksir Rp744 Miliar
3.Ganti Nama RSUD Al Ihsan
Perubahan nama RSUD Al-Ihsan ini memang menimbulkan polemik dan penolakan berbagai pihak, karena Dedi dinilai merubah sejarah pembentukan rumah sakit.
Aliansi Pergerakan Islam Jawa Barat (API Jabar) yang menilai Dedi menafikan sejarah pendirian RS Al-Ihsan adalah buah karya para ulama dan tokoh masyarakat yang berusaha membangun sinergi seluruh unsur umat Islam di Jawa Barat.
Ketua API Jabar Ustaz Asep Syaripuddin (UAS) menyebutkan Yayasan Al-Ihsan didirikan pada 15 Januari 1993 oleh enam tokoh penting Jawa Barat yang mewakili unsur ulama, tokoh dan pemerintah yaitu HM Ukman Sutaryan, HM A Sampoerna, H Agus Muhyidin, KH R Totoh Abdul Fatal, KH Ahmad Syahid dan H Muhammad Soleh.
Yayasan ini kemudian mendirikan Rumah Sakit Islam Al-Ihsan sebagai salah satu amal usahanya.
Peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit dilakukan pada 11 Maret 1993. Rumah sakit ini mulai beroperasi pada 12 November 1995.***




