POJOKSATU.id - Misteri suara dentuman yang membuat sejumlah rumah warga Bandung Raya bergetar perlahan menemukan titik terang.

Badan Geologi menyebut aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung bersamaan dengan laporan suara gemuruh dan getaran yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, hingga Lampung.

Laporan khusus Badan Geologi tertanggal 5 September 2026 mencatat, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus mulai pukul 23.07 WIB.

Aktivitas tersebut masih berlangsung hingga pukul 04.40 WIB.

Baca Juga: Foto KTP Burik? Ternyata Begini 3 Kondisi Resmi yang Bikin Foto KTP-el Kamu Boleh Diganti dukcapil!

Dari Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran, suara gemuruh bahkan masih terdengar.

Sementara itu, semburan berwarna merah menyala terlihat jelas secara terus-menerus meski tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati.

Fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava.

Aktivitas seperti ini dapat menghasilkan aliran lava dan, ketika berlangsung selama beberapa jam, termasuk fenomena yang umum dalam rangkaian erupsi lava air mancur.

Baca Juga: Daftar Harga HP Samsung 2026 Terbaru, dari Galaxy A07 hingga Galaxy Z Fold 8 Ultra

Dentuman Sampai Bikin Tembok Rumah Bergetar
Laporan aktivitas gunung api itu sejalan dengan cerita sejumlah warga Bandung yang dikejutkan suara tidak biasa pada dini hari.

Uca, warga Ciumbuleuit, mengaku mendengar suara gemuruh dan dentuman sekitar pukul 01.00 WIB.

Saat itu ia sedang bermain laptop ketika suara keras tiba-tiba terdengar.

Bukan hanya suara, bagian rumahnya juga terasa bergetar.

Baca Juga: Kejagung Sita Aset Eks Kepala BGN Rp8,43 Miliar, Ada Rolex hingga Dolar! Polemik MBG Makin Panas

Uca kemudian keluar untuk memastikan sumber suara tersebut.

Awalnya ia menduga suara itu berasal dari petir atau pesawat.

Namun, langit saat itu justru cerah dan tidak menunjukkan tanda-tanda hujan maupun petir.

"Kalau di Bandung semalam gemuruhnya berisik lama sekitar 15 menitan, kayak buldozer lewat tapi tidak nyampe-nyampe, tembok bergetar gitu aneh tapi cek BMKG tidak ada gempa, cek cuaca jam 1-an juga tidak ada hujan atau petir. Mau aku cek ke loteng atas tidak berani, cuma buka pintu depan tidak ada petir tapi tidak berhenti suaranya kayak gedebug-gedebug di atas, bulannya gede banget kuning," katanya.

Baca Juga: Kejagung Sita Aset Eks Kepala BGN Rp8,43 Miliar, Ada Rolex hingga Dolar! Polemik MBG Makin Panas

Warga Antapani, Rachmadi, juga merasakan hal serupa. Menurutnya, suara dentuman terdengar sangat keras.

"Iya kenceng banget ini suara dentuman," kata Rachmadi.

Pengalaman warga tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.

Banyak yang penasaran karena suara terdengar cukup lama dan pada beberapa lokasi disertai getaran.

Energi Akustik Erupsi Bisa Menjalar Jauh

Baca Juga: Presiden Prabowo Minta Satgas PKH Berjalan Tegas Profesional dan Transparan

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menjelaskan suara dari aktivitas gunung api memang dapat terdengar hingga jarak yang sangat jauh.

Menurut dia, erupsi dengan karakter tertentu dapat menghasilkan pelepasan energi akustik dalam jumlah besar.

Gelombang suara tersebut kemudian bisa merambat hingga ratusan kilometer.

"Jadi, kalau dari pengamatan yang kami lakukan, tidak hanya untuk Anak Krakatau, tetapi juga beberapa gunung api lainnya di Indonesia, ketika erupsi besar terjadi gitu ya, atau tidak hanya erupsi besar, erupsi dengan tipe tertentu, karena kalau tipe tuh phreatic ini memang biasanya disertai dentuman yang nyaring," kata Rita dalam konferensi pers, Sabtu 5 September 2026.

Baca Juga: 43 Ribu Anak Bangsa Diduga Keracunan MBG, Apa Pantas Program Andalan Prabowo Itu Dilanjutkan?

"Nah, ketika ini terjadi, pelepasan energi akustiknya itu bisa sangat besar, dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer," sambungnya.

Rita kemudian mengingatkan bahwa kejadian semacam ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.

Ia mengambil contoh erupsi eksplosif Gunung Kelud pada 13 Februari 2014.

Saat itu, dentuman erupsi terdengar hingga sejumlah wilayah Jawa Tengah yang letaknya jauh dari Gunung Kelud.

"Ini kami contohkan dengan erupsi eksplosif Gunung Kelud di tanggal 13 Februari 2014, ini suara dentumannya bisa terdengar di sejumlah wilayah Jawa Tengah yang jauh dari sumber erupsi. Nah erupsi di Gunung Kelud saat itu kolomnya 17 kilometer sehingga melepaskan energi akustik yang sangat besar," paparnya.

Baca Juga: Getaran dan Dentuman Erupsi Gunung Anak Krakatau Berlangsung Lama dan Berulangkali

Anak Krakatau Jadi Dugaan Kuat Sumber Dentuman
Meski mekanisme perambatan suara tersebut memungkinkan, PVMBG masih melakukan pencocokan data untuk memastikan sumber dentuman yang dirasakan warga.

Namun, aktivitas Anak Krakatau menjadi dugaan kuat karena waktu erupsi dan laporan suara di sejumlah wilayah terjadi dalam rentang yang bersamaan.

"Untuk penyebabnya tadi seperti kami sampaikan, kami memang menduga nih suara yang tadi karena berhubungan dengan erupsi Anak Krakatau yang terjadi tadi malam, dugaan kuatnya memang itu berhubungan dengan gunung api Anak Krakatau," ujarnya.

Baca Juga: Mengenal Duck Syndrome, Saat Seseorang Terlihat Baik-Baik Saja Padahal Tertekan

"Dengan mempertimbangkan kejadian Anak Krakatau tahun 2020 dan erupsi Kelud 2014, jadi kami sekali lagi ini menduga memang kemungkinan erupsi Gunung Anak Krakatau ini sebagai salah satu kemungkinan sumber suara dentuman di beberapa wilayah di Jawa Barat pada 4-5 September 2026," paparnya.

Selain energi erupsi, kondisi atmosfer juga dapat menentukan sejauh mana suara tersebut merambat. Perbedaan temperatur, arah angin, serta kecepatan angin disebut dapat memengaruhi perjalanan gelombang suara.

"Nah ini kalau kalau di literatur disebutkan bahwa perbedaan temperatur setara dan kecepatan angin memang bisa menyebabkan itu ya, tapi ini mungkin ranahnya yang untuk cuaca ini bisa dijelaskan atau bisa dibaca lebih lanjut dari institusi terkait ya," imbuh dia.

Baca Juga: Merambat Ratusan Kilometer, BMKG Duga Erupsi Gunung Anak Krakatau Terkait Suara Dentuman Bandung

Badan Geologi juga menyebut dua mekanisme yang dapat menghasilkan dentuman dari aktivitas Anak Krakatau, yakni ekspansi cepat akibat pelepasan gas serta gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam konduit atau lubang kepundan.

Status Anak Krakatau Masih Level III
Di tengah ramainya laporan dentuman, masyarakat juga perlu mengetahui bahwa status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.

Aktivitas erupsi Anak Krakatau sendiri kembali berlangsung sejak 2 Juli 2026 setelah sebelumnya mengalami jeda cukup panjang.

Gunung api tersebut kemudian terus menunjukkan seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

Baca Juga: RUU Perampasan Aset Bisa Sasar Judi Online, DPR Buka Pintu Perluasan Daftar

Sejarah Anak Krakatau juga membuat aktivitasnya menjadi perhatian serius.

Erupsi besar tahun 1883 diketahui menghasilkan tsunami, sementara pada 22 Desember 2018, aktivitas gunung api tersebut disertai longsoran tubuh gunung yang memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Namun, berdasarkan evaluasi terbaru, tubuh Anak Krakatau yang tumbuh kembali setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil.

Badan Geologi menyatakan kondisi tersebut saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Baca Juga: Tel-U Buka Fakultas Kedokteran di Bandung, Ada Beasiswa Penuh dan Asrama

Meski begitu, pemantauan tetap dilakukan secara intensif karena aktivitas dan perubahan morfologi gunung api dapat berkembang.

Potensi bahaya yang saat ini perlu diwaspadai terutama berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.

Warga Diminta Tidak Mendekat
Badan Geologi mengingatkan masyarakat dan wisatawan untuk tidak memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga: Penyebab Dentuman di Bandung Ternyata Gegara Skyquake, Ini Kata Kepala Stasiun Geofisika

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kaemungkinan awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, hingga hujan abu lebat.

Untuk warga di wilayah pantai Banten dan Lampung, Badan Geologi meminta masyarakat tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa sambil mengikuti arahan BPBD setempat.***