POJOKSATU.id – Tidak banyak yang tahu bahwa Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono pernah mengawali karier jauh dari gemerlap jabatan publik yang kini melekat padanya.
Sebelum duduk di kursi Deputi Gubernur Bank Indonesia, Thomas justru memulai langkah profesionalnya dari ruang redaksi Majalah Tempo pada era 1990-an.
Saat itu, Thomas hanyalah wartawan magang.
Baca Juga: UTU Buka Penerimaan Mahasiswa Baru 2026-2027, Sediakan 2.770 Kursi dan Tambah 3 Prodi Baru
Ia menelusuri isu, memeriksa data, dan bekerja layaknya jurnalis muda pada umumnya.
mengejar narasumber dan menelusuri fakta.
Dari pengalaman itulah ia belajar melihat persoalan dari berbagai sisi kemampuan yang kelak berperan besar dalam perjalanan profesionalnya.
Baca Juga: UTU Buka Penerimaan Mahasiswa Baru 2026-2027, Sediakan 2.770 Kursi dan Tambah 3 Prodi Baru
Setelah masa magang, Thomas beralih ke dunia keuangan.
Ia bergabung sebagai analis di Wheelock NatWest Securities di Hong Kong, menangani riset pasar dan laporan ekonomi Asia.
Perpindahan ini membuka jalan panjang baginya menuju berbagai posisi strategis.
Termasuk saat memegang jabatan penting di Arsari Group sebagai deputy CEO hingga CEO.
Rekam jejaknya di sektor korporasi menjadi modal kuat ketika dipercaya masuk ke pemerintahan.
Pada 2024, Thomas diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Di posisi tersebut ia terlibat dalam penyusunan kebijakan fiskal, sinkronisasi APBN, hingga strategi stabilitas ekonomi nasional.
Kini, penunjukannya sebagai Deputi Gubernur BI menutup satu putaran perjalanan karier yang unik.
Baca Juga: Beredar Nama 23 Prajurit TNI AL Korps Marinir Tertimbun Longsor Cisarua, Tertinggi Pangkat Serka
Dari dunia jurnalistik, pasar global, korporasi, hingga kebijakan fiskal Thomas membawa pengalaman lintas sektor yang jarang dimiliki pejabat bank sentral.
Meski pengangkatannya sempat menuai sorotan publik karena hubungan keluarga dengan Presiden Prabowo Subianto
Rekam jejak profesionalnya membuat Thomas menjadi figur yang tidak bisa dianggap sebelah mata.
Ia membawa kombinasi pengalaman lapangan, analisis global, dan kemampuan teknokratis yang dibutuhkan BI di tengah dinamika ekonomi dunia.***




