POJOKSATU.id - Kepergian Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga, pada 31 Januari 2026.
Sontak meninggalkan duka mendalam sekaligus menutup perjalanan panjang seorang tokoh bangsa yang mengabdikan hidupnya pada militer, politik, dan pemerintahan daerah.
Jejak panjang pria kelahiran Pambusuang, Polewali Mandar, 24 September 1951 itu menjadi sorotan publik setelah kabar wafatnya mengejutkan masyarakat Sulbar.
Baca Juga: Pembayaran Gaji ASN 100 Persen Lewat SIPD RI Tuai Apresiasi Pemprov Sumsel, Ini Penjelasannya
Dikutip POJOKSATU.id dari ANTARA, Salim S. Mengga meniti karier militernya sejak lulus Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada 1974 dari kecabangan Kavaleri.
Karier panjangnya di tubuh TNI Angkatan Darat membawanya hingga menduduki jabatan strategis sebagai Pangdam XV/Pattimura.
Salah satu posisi prestisius dalam lingkup komando kewilayahan.
Baca Juga: CPNS Jalur Cumlaude vs Jalur Umum, Mana yang Lebih Besar Peluangnya?
Setelah purna tugas dari militer, ia memasuki dunia politik. Dikutip POJOKSATU.id dari Detik, Salim terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2009–2014.
Kemudian kembali memenangkan kursi untuk periode 2014–2019.
Di Senayan, ia duduk di Komisi I yang membidangi pertahanan, luar negeri, dan intelijen bidang yang dekat dengan latar belakang militernya.
Perjalanan politiknya berlanjut ke tingkat daerah. Salim mendampingi Suhardi Duka dalam Pilkada 2024 dan memenangkan kontestasi.
Dikutip POJOKSATU.id dari situs resmi Pemprov Sulbar, keduanya dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2025–2030 pada 20 Februari 2025 di Istana Negara oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai Wakil Gubernur, Salim dikenal aktif menghadiri kegiatan masyarakat dan mendorong sinergi antarlembaga.
ia pun sering memberikan pesan moral kepada masyarakat dan aparat, menunjukkan profil pemimpin yang dekat dengan publik.
Baca Juga: Pembayaran Gaji ASN 100 Persen Lewat SIPD RI Tuai Apresiasi Pemprov Sumsel, Ini Penjelasannya
Namun perjalanan panjang itu berakhir ketika ia menghembuskan napas terakhir pada subuh, 31 Januari 2026, di RS Siloam Makassar.
Kepergian mendadaknya menandai berakhirnya kiprah panjang seorang jenderal, politisi, dan pemimpin daerah yang meninggalkan jejak mendalam bagi Sulawesi Barat.***




