POJOKSATU.id — Pelantikan Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada 28 Januari 2026 langsung menyedot perhatian publik.

Sosok yang selama ini dikenal sebagai motor investasi nasional itu kini memegang mandat baru mengawal agenda besar pemerintah menuju pemanfaatan energi nuklir.

DEN periode baru, yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Baca Juga: Mantan Hakim Agung Sebut Gugatan CMNP terhadap Hary Tanoe Memiliki Dasar Hukum

Menempatkan Bahlil dalam posisi strategis untuk menentukan arah kebijakan energi Indonesia.

Dalam pernyataannya Bahlil menegaskan bahwa program reaktor nuklir bukan lagi sekadar wacana, melainkan sudah masuk tahap kerja yang lebih konkret.

"(Kami) sudah kerja dengan membangun beberapa tahapan RUEN (Rencana Umum Energi Nasional) sampai dengan bagaimana membangun berbagai kebijakan,"

Baca Juga: Curah Hujan Tinggi di Bogor, Kali Bekasi Meluap Rendam Sejumlah Wilayah Bekasi

"termasuk di dalamnya adalah pembangunan energi baru dan terbarukan, dan juga adalah mendorong untuk pakai tenaga nuklir," kata Bahlil dikutip pojoksatu.id dari republika 28/1/2026.

Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah telah membuka pintu menuju era baru energi nasional.

Lebih jauh Bahlil mengungkap bahwa desain besar pengembangan nuklir sudah hampir rampung dan tinggal menunggu penguatan regulasi.

Baca Juga: Mantan Hakim Agung Sebut Gugatan CMNP terhadap Hary Tanoe Memiliki Dasar Hukum

"Roadmap-nya sudah selesai dan sekarang tahapan sudah mulai membangun untuk bagaimana kita bekerja sama dengan negara mana,"

"dan organisasinya sudah hampir rampung selesai juga. Butuh Perpres, lagi dalam proses," ungkap Bahlil dikutip pojoksatu.id dari cnbcIndonesia 28/1/2026.

Dengan mandat baru ini, Bahlil tidak hanya mengurus hilirisasi dan investasi.

Tetapi kini menjadi figur kunci dalam percepatan energi bersih yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo.

Publik pun menyoroti peran strategis ini karena pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) selama bertahun-tahun hanya berhenti pada tahap kajian.

Baca Juga: Curah Hujan Tinggi di Bogor, Kali Bekasi Meluap Rendam Sejumlah Wilayah Bekasi

Kini dengan roadmap yang diklaim selesai dan kebutuhan Perpres yang sedang diproses, babak baru energi Indonesia tampak semakin nyata.

Jika terealisasi Indonesia dapat memasuki era ketahanan energi modern dengan dukungan teknologi nuklir.

Sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah panjang sektor energi nasional.***