POJOKSATU.id - Fenomena bola api yang melintas di langit Lampung pada malam 4 April 2026 masih menyisakan rasa penasaran publik.
Banyak warga awalnya mengira cahaya terang tersebut adalah meteor.
Namun, fakta di balik peristiwa itu ternyata jauh lebih kompleks dan berkaitan dengan aktivitas luar angkasa global.
Baca Juga: Langit Lampung Dibelah Cahaya Misterius, Ini Kronologi Lengkap yang Terungkap
Berdasarkan analisis sejumlah video dan data orbit, objek tersebut diduga kuat merupakan bagian dari roket Long March 3B (CZ-3B R/B) milik China yang kembali masuk ke atmosfer Bumi.
Fenomena ini terjadi sekitar pukul 20.00 WIB di wilayah Lampung Tengah.
Warga melihat benda bercahaya melintas dari arah utara ke selatan dan tampak pecah menjadi beberapa bagian saat bergerak di langit.
Baca Juga: Inovasi Unand, Kamera Digital Bisa Deteksi Kematangan Sawit dari Jarak 23 Meter
Perjalanan benda ini sebenarnya dimulai dari ribuan kilometer jauhnya, tepatnya dari Xichang Satellite Launch Center di China.
Roket Long March 3B digunakan untuk meluncurkan satelit ke orbit tinggi.
Setelah misi selesai, bagian roket yang tidak terpakai akan tetap mengorbit sebagai sampah antariksa.
Baca Juga: Inovasi Unand, Kamera Digital Bisa Deteksi Kematangan Sawit dari Jarak 23 Meter
Seiring waktu, orbitnya menurun akibat gesekan atmosfer hingga akhirnya kembali masuk ke Bumi.
Saat proses inilah, benda tersebut terbakar dan terlihat seperti bola api dari permukaan.
Dikutip Pojoksatu.id dari laporan The Aerospace Corporation, fenomena re-entry roket memang sering terlihat seperti meteor.
Namun memiliki ciri khas berupa gerakan lebih lambat dan pecah menjadi beberapa bagian.
Jalur lintasan CZ-3B R/B pada tanggal kejadian juga tercatat melintasi wilayah Sumatera hingga Jawa, sebelum diperkirakan jatuh di perairan Samudra Hindia.
Baca Juga: Inovasi Unand, Kamera Digital Bisa Deteksi Kematangan Sawit dari Jarak 23 Meter
Fenomena yang sempat viral ini sekaligus menjadi pengingat bahwa langit Indonesia bukan hanya dilalui benda alami seperti meteor.
Tetapi juga menjadi jalur lintasan sampah antariksa dari berbagai negara.***




