POJOKSATU.id – Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ulta Levenia Nababan mengenai rangkaian erupsi gunung api di Indonesia memicu perdebatan di ruang publik.

Melalui unggahan pribadinya pada 7 September 2026, Ulta mempertanyakan apakah rentetan bencana alam yang terjadi berdekatan sepenuhnya merupakan fenomena natural.

Ia kemudian mengaitkannya dengan High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP), fasilitas riset ionosfer di Alaska, sembari menegaskan bahwa pandangan tersebut merupakan pemikiran pribadinya.

Baca Juga: Doli Baca Gerak AHY sebagai Kode Pilpres 2029, Demokrat Hari Ini Justru Bilang 'Bukan Soal 2029'

“HAARP atau beruntun bencana alam ini mungkin memang terjadi secara natural, memang kejadian alam yang harus kita terima,” tulis Ulta dalam unggahannya.

Ia kemudian mengatakan dirinya skeptis terhadap penjelasan yang dianggap terlalu “biasa” dan membuka kemungkinan lain yang menurutnya dapat dikategorikan sebagai teori konspirasi.

Pernyataan itu sontak menarik perhatian karena datang dari seorang pejabat di lingkungan KSP, meski Ulta sendiri secara eksplisit menyebutnya sebagai pemikiran pribadi.

 

Enam gunung erupsi berdekatan, apakah aneh?

Pertanyaan Ulta muncul di tengah meningkatnya aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia.

Namun, fakta bahwa beberapa gunung api aktif mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan tidak dengan sendirinya menjadi bukti adanya satu penyebab eksternal yang sama.

Badan Geologi menjelaskan bahwa Indonesia memang berada pada zona tektonik aktif. Interaksi lempeng-lempeng besar di kawasan Indonesia membentuk jalur magmatik dan gunung api, sehingga aktivitas vulkanik merupakan bagian dari dinamika geologi wilayah ini.

Baca Juga: Galaxy S26 FE Resmi Masuk Indonesia, Fitur AI Flagship Dibawa ke Harga Lebih Rasional

Badan Geologi juga menjelaskan bahwa proses penunjaman atau subduksi dapat menyebabkan pelelehan batuan di kedalaman. Material tersebut kemudian bergerak ke atas dan membentuk sistem magmatik serta gunung api.

Dengan kondisi geologi seperti itu, Indonesia memang memiliki banyak gunung api aktif dan aktivitas beberapa gunung dapat berlangsung dalam waktu yang berdekatan.

 

Data pemantauan justru menunjukkan proses vulkanik

Contoh paling jelas terlihat pada perkembangan Gunung Anak Krakatau.

Dalam laporan Badan Geologi, peningkatan aktivitas Anak Krakatau dikaitkan dengan perubahan kegempaan vulkanik dan indikasi dinamika magma di bagian dangkal gunung api.

Bahkan pada perkembangan September 2026, Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus Anak Krakatau selama sekitar 25 jam, disusul beberapa erupsi Strombolian.

Badan Geologi menyebut probabilitas letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi dan bahaya dapat berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat maupun aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.

Baca Juga: Digeber 3.300 Kilometer Lintasi 6 Pulau, Seberapa Tangguh MAXi Yamaha untuk Touring?

Artinya, untuk kasus Anak Krakatau saja terdapat rangkaian indikator vulkanologi yang dapat diamati langsung melalui sistem pemantauan.

 

Lalu apa hubungannya dengan HAARP?

Di sinilah pernyataan Ulta mulai menjadi kontroversial.

HAARP memang merupakan fasilitas penelitian ionosfer di Alaska. Namun, tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan fasilitas tersebut dapat mengendalikan aktivitas magma atau memicu erupsi gunung api.

Laporan yang mengulas kontroversi tersebut menyebut HAARP bekerja pada ionosfer, sementara proses erupsi gunung api berlangsung dalam sistem geologi dan magma yang jauh berbeda.

Klaim bahwa HAARP dapat memicu gunung meletus juga dinilai tidak didukung mekanisme ilmiah yang kredibel.

Karena itu, menghubungkan rangkaian erupsi gunung api di Indonesia dengan HAARP tidak dapat diposisikan sebagai fakta hanya berdasarkan kemunculan sejumlah erupsi dalam waktu yang berdekatan.

Baca Juga: Rumah Jabatan Gubernur Kalteng Viral karena Tampilan Mewah, Anggaran Penataan Ternyata Pernah Tembus Rp13 Miliar

 

“Skeptis” boleh, tetapi klaim tetap membutuhkan bukti

Ulta sendiri mengatakan dirinya skeptis dan mengakui pandangannya dapat dianggap sebagai teori konspirasi.

Sikap skeptis pada dasarnya bukan persoalan.

Dalam sains, mempertanyakan suatu penjelasan justru diperlukan.

Masalahnya muncul ketika hipotesis alternatif diperlakukan seolah-olah memiliki bobot yang sama dengan penjelasan yang telah didukung data, padahal bukti yang mendukungnya belum tersedia.

Untuk menyatakan HAARP berhubungan dengan erupsi gunung api, misalnya, dibutuhkan bukti yang jauh lebih konkret: mekanisme fisika yang masuk akal, data observasi, hubungan kausal yang dapat diuji dan hasil penelitian independen.

Baca Juga: Anak Krakatau Menurun, 3 Hal Ini Masih Jadi Perhatian Pemerintah

Tanpa itu, hubungan tersebut masih berada pada level dugaan.

 

Indonesia memang sedang menghadapi dinamika vulkanik

Di sisi lain, bukan berarti masyarakat harus mengabaikan fenomena erupsi beruntun.

Justru aktivitas gunung api yang meningkat perlu dipantau secara serius.

Badan Geologi menegaskan Indonesia merupakan wilayah dengan dinamika geologi tinggi dan memiliki banyak gunung api aktif.

Gunung api dapat mengalami perubahan aktivitas tanpa harus menunggu adanya satu “pemicu” dari luar.

Baca Juga: Said Iqbal Sebut IQ Prabkwo 170 Setara Einstein, Klaim Baca 50 Buku Sehari

Pada Anak Krakatau, misalnya, data pemantauan menunjukkan perubahan kegempaan, deformasi dan aktivitas erupsi yang menjadi dasar evaluasi tingkat aktivitas gunung.

Dengan kata lain, alam sendiri sudah memiliki cukup banyak mekanisme untuk menjelaskan mengapa wilayah Indonesia sering mengalami aktivitas vulkanik.

 

Bahaya sebenarnya ada pada salah membaca informasi

Pernyataan seperti ini menjadi sensitif karena disampaikan ketika masyarakat sedang menghadapi sejumlah bencana alam.

Dalam situasi seperti itu, publik membutuhkan informasi yang bisa membantu mengambil keputusan: apakah harus mengungsi, radius aman berapa, bagaimana kondisi abu vulkanik, dan apa yang harus dilakukan ketika aktivitas gunung meningkat.

Badan Geologi secara konsisten menggunakan data pemantauan dan evaluasi vulkanologi untuk menentukan status gunung api dan rekomendasi keselamatan.

Pada Anak Krakatau, misalnya, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas.

Karena itu, perdebatan mengenai teori konspirasi berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan yang jauh lebih mendesak: bagaimana masyarakat memahami tanda-tanda bahaya dan mengikuti informasi resmi ketika gunung api aktif.

Baca Juga: Anak Krakatau Menurun, 3 Hal Ini Masih Jadi Perhatian Pemerintah

 

Pernyataan pejabat membuat standar pembuktian semakin penting

Karena Ulta merupakan Tenaga Ahli Utama KSP, pernyataannya memiliki bobot publik yang berbeda dibandingkan unggahan warga biasa.

Memang, ia telah menandai unggahannya sebagai pemikiran pribadi.

Tetapi publik tetap memiliki alasan untuk meminta penjelasan lebih lanjut ketika seorang pejabat negara mengaitkan bencana alam dengan proyek asing.

Bukan karena seorang pejabat tidak boleh berspekulasi.

Baca Juga: Puisi 'Sontoloyo' Fadli Zon 2018 Kembali Disorot, Kini Ia Justru Duduk di Kabinet Prabowo

Melainkan karena jabatan publik menuntut kehati-hatian dalam membedakan hipotesis pribadi, fakta ilmiah dan informasi yang telah diverifikasi.

Dan dalam kasus ini, penjelasan resmi Badan Geologi jauh lebih konkret: aktivitas gunung api dipantau melalui indikator vulkanik, dan Indonesia memang berada pada sistem geologi yang sangat aktif.

 

Yang dibutuhkan sekarang bukan teori baru

Rangkaian erupsi memang layak dipertanyakan dan diteliti.

Tetapi jawaban terhadap fenomena tersebut harus datang dari data.

Apakah ada hubungan antaraktivitas beberapa gunung api? Itu merupakan pertanyaan ilmiah yang sah.

Apakah ada mekanisme eksternal yang memengaruhi sistem vulkanik? Itu juga dapat diteliti.

Namun, mengubah pertanyaan menjadi kesimpulan tentang campur tangan HAARP tanpa bukti adalah lompatan yang terlalu jauh.

Masyarakat Indonesia saat ini jauh lebih membutuhkan informasi yang dapat dipakai untuk melindungi diri daripada teori yang belum terbukti.

Apalagi Badan Geologi masih mencatat aktivitas vulkanik Anak Krakatau berlangsung dinamis dan probabilitas erupsi berikutnya masih tinggi.

Baca Juga: Febiona Purban Korban Keracunan MBG Bolak-balik Rumah Sakit, BGN Belum Yakin Hilang Ingatan

Jadi, persoalan paling serius bukan apakah seseorang boleh curiga terhadap teori tertentu.

Persoalannya adalah apakah kecurigaan itu memiliki bukti yang cukup untuk dibawa ke ruang publik.

Dalam urusan bencana, perbedaan antara “saya curiga” dan “ini terbukti” bukan sekadar pilihan kata.

Itu menyangkut keselamatan masyarakat.