POJOKSATU.id - Pemerintah mulai serius menyiapkan pengganti LPG subsidi 3 kilogram (kg).

Lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah tengah mengembangkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) 3 kg yang diberi nama CNG Merah Putih.

Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG sekaligus memanfaatkan cadangan gas bumi domestik yang jauh lebih melimpah.

Baca Juga: Fredik Rysa Samuel Dipertemukan dengan Korban Pemukulan Jagakarsa, Menciut Minta Maaf

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa sekitar 80 persen kebutuhan LPG nasional hingga kini masih berasal dari impor.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena bahan baku LPG berupa gas C3 dan C4 relatif terbatas di Indonesia, sedangkan cadangan gas C1 dan C2 justru sangat besar.

"Kita dorong sekarang CNG. CNG itu gasnya pakai C1 C2 dan itu melimpah di Indonesia.

Kita kemarin baru dapat temuan giant di ENI di Kalimantan Timur 5 TCF plus 2 TCF terus kondensat-nya itu kurang lebih sekitar 200.000 barel ekuivalen ya. Itu di 2028-2029 produksinya itu bisa mencapai 3.000 Mmscfd," terang Bahlil, dikutip Senin (6/7/2026).

Baca Juga: Beasiswa Mahaghora 2026 Resmi Dibuka, Kuliah D4-S1 Gratis hingga 8 Semester, Ini Syarat, Benefit, Jadwal Seleksi, dan Cara Daftarnya

Uji Coba Tabung CNG 3 Kg Masuk Tahap Ketiga
Bahlil mengatakan pemerintah kini telah memasuki tahap ketiga uji coba penggunaan tabung CNG berkapasitas 3 kilogram.

Sementara itu, tabung CNG berukuran 12 kilogram dan 50 kilogram sebenarnya sudah lebih dulu digunakan di sektor komersial, seperti dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), hotel, hingga restoran.

Menurutnya, teknologi CNG bukanlah sesuatu yang baru.

Baca Juga: Respons Cepat AMT Cegah Kebakaran Mobil Tangki Meluas, Pertamina Pastikan Muatan BBM Aman

Pemerintah hanya memperluas pemanfaatannya agar bisa digunakan masyarakat penerima subsidi energi.

"Ini bukan barang baru, muncul tiba-tiba dari Fakfak datang, tidak. Ini sudah sudah ada ini.

Cuman untuk rakyat kita di bawah yang dikenakan subsidi itu adalah harus pakai tabung yang 3 kilo.

Tekanannya itu 200 sampai 250 bar. Nah ini yang kita sekarang lagi uji coba," ujarnya.

Baca Juga: Telkom Tuntaskan Streamlining 10 Entitas, Langkah Besar Menuju Strategic Holding hingga 2030

Belasan Prototype Mulai Dibuat
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan pemerintah sedang memproses sekitar 15 unit prototype tabung CNG Merah Putih.

Prototype tersebut akan menjalani serangkaian pengujian sebelum nantinya diedarkan kepada masyarakat. Pemerintah menargetkan implementasi program ini dapat dimulai pada tahun 2026.

"Oh, Pak Menteri kan mengumumkan kemarin tabung Merah Putih. Jadi bulan Juli ini sedang dibuat prototype untuk diuji. Jadi diuji itu.

Baca Juga: Aturan Resmi Seragam Sekolah Jenjang SD, SMP, SMA Sederajat Tahun Ajaran 2026-2027, Lengkap Warna, Jadwal Pemakaian, Atribut hingga Modelnya

Belasan lah mungkin sekitar 15 (tabung). Satu tahap lagi sudah bisa di-implement, di-edarkan tahun ini," kata Laode saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta.

Tabung Lebih Ringan Berkat Material Komposit
Salah satu perbedaan utama CNG Merah Putih dengan tabung LPG konvensional terletak pada materialnya.

Tabung baru ini menggunakan teknologi Tipe 4 berbahan komposit sehingga bobotnya jauh lebih ringan dibandingkan tabung logam biasa.

Menurut Laode, inovasi tersebut sengaja dipilih agar lebih mudah digunakan masyarakat, terutama ibu rumah tangga.

Baca Juga: Tinggalkan Cara Lama, PP Kahyangan Jember Sukses Tingkatkan Nilai Jual Kopi Robusta dengan Metode Cerdik Ini

"Jadi ini saya ingin jelaskan sekali lagi ya bahwa material tabung ini itu sudah sampai ke tipe 4.

Tipe 1 semua logam, tipe 2 sudah mulai ada campuran yang meringankan sampai dengan tipe 3 tapi masih berat (bobotnya).

Oleh karena itu kita harus membuat yang lebih ringan agar emak-emak nanti nggak merasa oh ini kok penggantinya berat, enggak," kata Laode.

Tahap Awal Masih Impor dari China
Untuk tahap awal, pemerintah masih mendatangkan tabung CNG Tipe 4 dari China.

Baca Juga: Mendikdasmen Tegaskan Belum Ada Keputusan Kantin Sekolah Kelola Program MBG

Tabung tersebut akan menjalani pengujian di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), terutama untuk memastikan aspek keselamatan, termasuk ketahanan tabung terhadap tekanan tinggi serta keamanan katup (valve).

"Saat ini dari China aja. Kita uji di Lemigas, kan dia kan harus ada uji tekanan, dan seperti itu yang paling penting safety dari valve dan tabungnya seperti apa. Kan di China itu penggabungan antara tabung sama valve-nya," lanjut Laode.

Harga Disamakan dengan LPG Subsidi
Pemerintah memastikan harga jual CNG Merah Putih akan disamakan dengan harga LPG subsidi 3 kilogram yang berlaku saat ini.

Meski harga untuk masyarakat tetap sama, pemerintah memperkirakan penggunaan CNG mampu menurunkan beban subsidi energi hingga sekitar 30 persen.

Baca Juga: Farhan Sedih 90 Calon Siswa Didiskualifikasi SPMB, Modusnya KK hingga Sertifikat Palsu

"Sama dengan harganya sama. Sekarang simulasinya masih disamakan, dengan disamakan pun subsidi bisa turun sampai dengan 30%.

Kalau jumlahnya masif kan kita punya bargaining untuk minta mereka bangun di sini," ungkap Laode.

Diprioritaskan di Kota Besar Pulau Jawa
Pelaksanaan program konversi menuju CNG Merah Putih akan dilakukan secara bertahap.

Pada tahap awal, pemerintah memprioritaskan kota-kota besar di Pulau Jawa yang telah memiliki jaringan pipa gas sehingga pasokan gas bumi lebih mudah tersedia.

Kementerian ESDM juga telah berkoordinasi dengan SKK Migas untuk memastikan ketersediaan pasokan gas ketika program mulai berjalan.

"Iya, kita prioritaskan dulu yang dari pipa lah. Makanya uji cobanya kan Pak Menteri sudah sampaikan di kota-kota besar di Pulau Jawa dulu yang memang jalur gas dari pipanya lebih banyak.

Kita sudah bahas sama SKK Migas once itu jalan nanti gasnya bisa tersedia," pungkasnya. ***