POJOKSATU.id - Salah satu saksi bisu sejarah adalah Museum Zwinger yang berada di Kota Dresden, Jerman.
Di museum itu Presiden Soeharto harus berhadapan dengan demonstran tanpa pengawalan ketat dari Pasukan Pengamanan Presiden atau Paspampres.
Peristiwa itu terjadi pada 5 April 1995 saat Soeharto melakukan kunjungan kerja ke Jerman.
Letnan Kolonel TNI (Purnawirawan) I Gusti Nyoman Suweden menjadi saksi betapa dekatnya jarak Soeharto dengan para demonstran yang diperkirakan berjumlah 100-150 orang tersebut.
Baca Juga: Sukses Gelar Meet & Green EXO di Jakarta, Felicya Angelista : Kalian Super Baik dan Ramah
Suweden mengaku itu adalah kejadian paling krusial yang pernah dialaminya saat menjadi pengawal pribadi Presiden Soeharto.
Ia masih ingat betul ketika itu dia berdiri persis di sebelah kiri mendiang Tien Soeharto. Sang presiden berada di sisi kanan Tien sambil tak melepas memegangi tangan istrinya.
Syafri Syamsuddin mengapit Soeharto di bagian kanan baris paling depan berjalan seorang diri pengawal Soeharto lainnya, sedangkan di belakang ada ajudan bersama pengawal khusus.
Pelajar yang mendemo Soeharto di Jerman itu menuntut soal pembebasan Timor Timur.
Soeharto saat itu tetap terlihat tenang meskipun terkejut karena seolah-olah berhadapan langsung dengan demonstran.
Pada saat itu, Letnan Jenderal TNI Jasril Jakub menjabat sebagai Komandan Paspampres.
Letnan Jendral TNI (Purn) Jasril Jakub adalah seorang tokoh militer, yang berasal dari Putra Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat.
Akibat peristiwa itu, sepulangnya Soeharto pulang ke Tanah air, Letnan Jenderal TNI Jasril Jakub pun dicopot dari jabatan sebagai Komandan Paspampres.
Baca Juga: Pendaftaran CPNS 2023 akan Dibuka! Berikut Jadwal dan Sebaran Formasinya
Selain dipercaya sebagai Komandan Paspampres di masa Orde Baru, ia juga dipercaya sebagai Sekretaris Militer Presiden pada masa jabatan Presiden BJ. Habibie.
Jasril Jakub merupakan alumnus Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1965 dan berasal dari kecabangan Corps Polisi Militer (CPM).
Pada Februari 1998, Jasril Jakub mendapatkan tanda kehormatan Bintang Dharma.
Baca Juga: Darurat Sampah, Pemkot Bandung Jajaki Berbagai Alternatif TPA Darurat
Jasril Jakub dinilai telah gagal menjaga dan memastikan pengamanan terhadap presiden, akhirnya, Pada tahun 1995, Posisi Jasril Jakub ditugaskan kepada Brigadir Jenderal TNI Sirajuddin Paioyoi.
Namun tak berlangsung lama jabatan itu diberikan kepada Mayor Jenderal Sugiono.
Sugiono pun menjabat sebagai Komandan Paspampres terhitung sejak 1995-1997.
Letnan Jenderal TNI (Purn) Sugiono lahir di Cilacap, Jawa Tengah pada 10 September 1948.
Baca Juga: Raih Pemain Terbaik Piala AFF U23 2023, Arkhan Fikri Pulang Kampung ke Sumut Hanya Disambut Keluarga
Ia merupakan anak angkat dari Pahlawan Revolusi, Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman.
Sebagai perwira infanteri, Sugiono pernah menduduki berbagai macam jabatan mulai dari menjadi komandan pleton, kompi hingga batalyon serta perwira staf, khususnya di lingkungan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).
Pada 2 Januari 1986, Sugiono dilantik menjadi Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 501/Bajra Yudha. Selama penugasannya di Madiun ini, ia berpangkat letnan kolonel dan menjabat hingga 7 Juni 1988.
Pada 1992, Sugiono tercatat mulai menjabat sebagai Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17/Kujang I yang bermarkas di kawasan Cijantung, Jakarta.
Berpangkat kolonel, ia mempimpin brigade yang berada dibawah Kostrad tersebut selama kurang lebih setahun hingga akhirnya digantikan oleh Letnan Kolonel Infanteri Susilo Bambang Yudhoyono
Pada 1993, ia dimutasikan menjadi salah satu Ajudan Presiden Soeharto yang berasal dari TNI Angkatan Daratmenggantikan Wiranto yang mendapatkan promosi sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer Jaya.
Baca Juga: Pertama di Indonesia, Microlibrary Alun-alun Bandung Usung Literasi Antikorupsi
Kurang lebih dua tahun lamanya ia menjadi ajudan presiden hingga akhirnya mendapatkan promosi jabatan menjadi Komandan Paspampres.
Ia dilantik menjadi Komandan Paspampres pada 14 Juli 1995, ia pun mendapat kenaikan pangkat menjadi mayor jenderal
Paspampres bertugas untuk menjadi pengawal dan pasukan pengamanan memang harus siap risiko karena kami harus melindungi jangan sampai terjadi apa-apa dengan presiden. ***




