POJOKSATU.id, JAKARTA— Presiden kedua RI Soeharto dikenal hobi memancing. Bahkan ada rumor berkembang ada peran Marinir TNI AL di bawah laut ketika Pak Harto sering dapat ikan besar saat mancing.
Dalam otobiografinya, Pak Harto menyampaikan, sering meluangkan waktu liburnya di laut.
"Kalau hari libur kadang-kadang saya pergi ke laut atau Tapos," kata Pak Harto seperti tertulis di otobiografinya Soeharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya.
Banyak cerita-cerita menarik dan rumor yang berkembang terkait hobi Pak Harto memancing ini.
Baca Juga: Kalkulasi Politik Yusril Ihza Mahendra, Prabowo Menang Pilpres 2024, Ini Analisa Ujang Komarudin
Mantan Menteri Penerangan Harmoko mengaku punya cerita menarik tentang hobi memancing Pak Harto ini.
Saat itu, akhir 1987 dia memancing bersama Pak Harto dan pejabat lainnya seperti Fuad Hasan, Bustanul Arifin, serta Ismail Saleh.
Saat itu berkembang rumor tentang sebab di balik kehebatan Pak Harto mendapat ikan besar saat memancing.
"Pak ini ada cerita yang berkembang di masyarakat. Katanya jika bapak memancing, di bawah ada marinir yang menyediakan ikan untuk dipasangi umpan pancing," tanya Harmoko seperti diceritakannya dalam buku Pak Harto : The Untold Stories.
"Lihat saja nanti," kata Pak Harto.
Ternyata, ujar Harmoko, rumor itu tidak benar. Presiden Soeharto sering mendapat ikan besar karena kesabarannya dan memang pandai memancing, bukan karena ada Marinir TNI AL.
Sementara itu mantan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim, juga berbagi cerita mengenai hobi mancing ikan di laut Pak Harto ini.
Dalam bukunya Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi, Emil Salim menceritakan pengalamannya memancing bersama Pak Harto.
Kejadiannya Maret 1978, mereka berangkat memancing di Teluk Jakarta. Mereka berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok.
Kepada Emil Salim, Pak Harto mengaku kecewa dengan kotornya Teluk Jakarta.
"Cobalah lihat. Air laut dijejali sampah dan kotoran. Pembangunan baru berjalan 10 tahun tetapi sampah dan limbah sudah membunuh ikan-ikan di laut. Bagaimana nanti kalau kita mulai membangun industri. Akan musnahkan kehidupan di laut kita," kata Pak Harto dikutip Emil Salim.
Mungkin karena itulah, Pak Harto kerap mencoba wilayah lain di luar Teluk Jakarta untuk memancing. Pak Harto sering memancing di kawasan Ujung Kulon serta Pelabuhan Ratu.
Sebuah majalah edisi lawas, 3 Februari 2008 pernah memuat ulasan tentang Pak Harto.
Dalam salah satu ulasannya, ada sebuah cukilan kisah tentang kegiatan mancing Pak Harto. Cukilan berita tersebut tentang kawan mancing Presiden kedua tersebut.
Disebutkan bahwa kawan mancing penguasa rezim Orde Baru itu adalah seorang lelaki pemilik kedai sea food yang ada di Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara.
Husni Wirajaya demikian nama lelaki kawan setia Pak Harto yang selalu menemaninya memancing itu.
Pak Husni ini selain jago memancing, juga pintar meracik hidangan makanan berbahan ikan.
Pak Husni sendiri mulai mengenal Pak Harto sekitar tahun 1980. Sejak itulah, Pak Husni jadi karibnya Pak Harto.
Kemana pun Pak Harto memancing, Pak Husni selalu diajak serta menemani. Lewat Pak Husni pula, Pak Harto berguru ilmu memancing.
Bisa dikatakan Pak Husni yang biasa dipanggil Pak Kwik itu adalah guru memancingnya Pak Harto. Pak Husni atau Pak Kwik pulalah yang biasanya memasak hasil pancingan Pak Harto.***




