POJOKSATU.ID - Kasus penganiayaan brutal menimpa seorang pegawai bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Bandar Lampung.
Korban bernama Hendra Winata (24) harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami luka serius di bagian kepala akibat dipukul menggunakan gagang sapu.
"Peristiwa kekerasan tersebut terjadi di kawasan Rajabasa, Bandar Lampung, pada Minggu (4/1/2026), "tulis akun Instagram @liputan6, Rabu 7 Januari 2026, seperti dikutip pojoksatu.id.
Baca Juga: Ini Dia Gudang Strategis di Jakarta, Solusi Bisnis di Tengah Persaingan Ketat
Insiden ini diduga dipicu oleh cekcok sepele terkait hilangnya sebuah speaker di rumah indekos tempat korban tinggal.
Terduga pelaku penganiayaan diketahui berinisial DE, yang disebut-sebut merupakan anak dari seorang purnawirawan Polri.
Fakta tersebut langsung menyedot perhatian publik, terutama terkait harapan penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa bermula saat Hendra mempertanyakan keberadaan speaker miliknya yang hilang.
Korban sebelumnya sempat melihat speaker tersebut dibawa oleh DE. Merasa tidak ada kejelasan, Hendra kemudian mencoba menyelesaikan persoalan tersebut secara baik-baik.
Korban mendatangi rumah ayah DE dengan maksud mencari solusi secara kekeluargaan.
Namun, niat tersebut justru berujung petaka. Adu mulut antara keduanya tak terhindarkan dan situasi dengan cepat memanas.
Dalam kondisi emosi, DE diduga mengambil gagang sapu dan memukulkannya ke arah kepala Hendra.
Pukulan keras tersebut membuat korban tersungkur dan mengalami luka parah di kepala hingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Kondisi korban sempat mengkhawatirkan lantaran mengalami pendarahan di bagian kepala.
Hingga kini, Hendra masih dalam pemantauan medis akibat luka yang dideritanya.
Kasus ini telah resmi dilaporkan ke Polsek Kedaton oleh pihak korban. Laporan tersebut mencakup dugaan tindak pidana penganiayaan berat.
Aparat kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk memeriksa saksi-saksi yang mengetahui kejadian tersebut.
Pihak keluarga korban berharap agar proses hukum berjalan secara profesional dan transparan.
Mereka menegaskan tidak ingin ada perlakuan khusus hanya karena latar belakang keluarga terduga pelaku.
Baca Juga: LOWONGAN KERJA, Nutrifood Buka Management Trainee 2026, Peluang Emas Calon Pemimpin Industri Sehat
Kasus ini menambah daftar panjang insiden kekerasan yang dipicu persoalan sepele namun berujung serius.
Masyarakat diimbau untuk menyelesaikan konflik secara bijak dan tidak menggunakan kekerasan, terlebih yang dapat mengancam keselamatan nyawa orang lain.***




