POJOKSATU.id - Kondisi udara di sekitar tempat tinggal penting diperhatikan, terutama ketika polusi meningkat, terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), atau suatu wilayah terdampak erupsi gunung berapi.

Dengan mengetahui kondisi udara terkini, masyarakat bisa mempertimbangkan kembali aktivitas di luar rumah.

Nah, pengecekan ini sekarang dapat dilakukan dengan mudah hanya melalui HP.

Ada beberapa layanan yang bisa digunakan untuk melihat kondisi udara, mulai dari Google Maps, aplikasi IQAir AirVisual, hingga informasi yang disediakan BMKG.

Baca Juga: Hadiah Juara OSN 2026 Disorot, Kemendikdasmen Cari Skema Tambahan Anggaran

Pantau Kualitas Udara Melalui Google Maps
Google Maps tidak hanya berguna untuk mencari lokasi dan menentukan rute perjalanan.

Di wilayah tertentu, aplikasi ini juga menyediakan informasi Air Quality atau Kualitas Udara.

Untuk melihatnya, buka Google Maps melalui HP maupun laptop.

Setelah itu, tentukan wilayah yang ingin diperiksa pada peta.

Ketuk ikon Layers atau Lapisan yang berada di bagian kanan atas, kemudian pilih Air Quality atau Kualitas Udara.

Baca Juga: Rangkuman Materi TKA Matematika SMA, Bab Penting Kuasai Barisan dan Deret Aritmetika hingga Penerapan Geometri

Jika informasi tersedia untuk wilayah tersebut, kondisi kualitas udara akan langsung ditampilkan pada peta.

Data yang muncul di Google Maps dapat bersumber dari stasiun pemantauan maupun pemodelan kualitas udara.

Cek AQI dan PM2.5 dengan IQAir
Pilihan lainnya adalah menggunakan aplikasi IQAir AirVisual.

Layanan ini dapat membantu pengguna melihat kondisi udara di lokasi tertentu, termasuk nilai AQI dan konsentrasi PM2.5.

Caranya, unduh kemudian buka aplikasi IQAir AirVisual.

Baca Juga: Biaya Perang Amerika Serikat Melawan Iran Capai Rp 1.763 Miliar

Bila diperlukan, aktifkan izin lokasi atau GPS agar aplikasi dapat menyesuaikan informasi dengan posisi pengguna.

Selanjutnya pilih lokasi yang ingin dipantau dan perhatikan nilai AQI serta informasi polutan yang tersedia.

Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur peta untuk mengetahui kondisi udara di wilayah lainnya.

Jadi, tidak hanya lokasi tempat tinggal yang bisa dipantau, ya.

Informasi PM2.5 Bisa Dipantau dari BMKG
Masyarakat Indonesia juga mempunyai pilihan untuk memeriksa kondisi partikulat udara melalui informasi yang disediakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Baca Juga: Simak Aturan Baru PIP 2026, TK Mulai Dapat Bantuan, Sekolah Bisa Usulkan Penerima, Ini Besarannya

BMKG menyediakan informasi konsentrasi PM2.5 di sejumlah wilayah Indonesia.

Data tersebut dapat menjadi gambaran mengenai kondisi partikulat dan kategori kualitas udara yang sedang ditampilkan.

Pengguna cukup membuka situs pemantauan kualitas udara BMKG, kemudian memilih atau mencari kota yang ingin dipantau.

Setelah itu, perhatikan angka konsentrasi PM2.5 serta kategori kualitas udara yang ditampilkan.

Baca Juga: AHM Best Student 2026 Regional Jawa Barat Lahirkan Pelajar Terbaik, Siap Melaju ke Tingkat Nasional

Jangan Bingung dengan AQI dan PM2.5
Saat mengecek kualitas udara, pengguna mungkin menemukan istilah AQI dan PM2.5.

AQI atau Air Quality Index merupakan indeks yang menggambarkan tingkat kualitas udara sekaligus potensi dampaknya terhadap kesehatan.

Semakin tinggi angka AQI, semakin tinggi pula tingkat polusi udara di suatu lokasi.

Kategori AQI umumnya menunjukkan tingkatan kondisi udara, mulai dari kualitas yang baik hingga kondisi yang berbahaya.

Sementara itu, PM2.5 adalah partikel udara berukuran sangat kecil dengan diameter hingga sekitar 2,5 mikrometer.

Baca Juga: BNPB Usulkan Penambahan Dana Siap Pakai Tahun 2026 Rp 5,67 Triliun ke Kemenkeu

Ukurannya yang kecil membuat partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Karena itu, konsentrasi PM2.5 menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan kualitas udara.

Abu Vulkanik Juga Bisa Memengaruhi Kualitas Udara
Kondisi udara tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas perkotaan dan karhutla.

Aktivitas gunung api juga dapat membuat kualitas udara berubah.

Baca Juga: BINUS Bandung Perkuat Talenta AI Indonesia melalui Program Artificial Intelligence bagi Generasi Muda

Abu vulkanik tersusun dari partikel batuan yang sangat halus.

Partikel berukuran kecil, terutama yang masuk dalam rentang PM10, dapat melewati hidung dan tenggorokan hingga mencapai paru-paru.

Sementara partikel yang lebih besar biasanya tidak mencapai paru-paru, tetapi tetap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan.

Paparan abu vulkanik dalam jangka pendek juga dapat menimbulkan gangguan pada hidung, tenggorokan, saluran pernapasan, kulit, dan mata.

Baca Juga: Rangkuman Materi TKA Matematika SMA, Mulai Simak Trigonometri dan Perbandingan Sudut untuk Raih Nilai Maksimal

Kondisi ini perlu menjadi perhatian lebih bagi orang yang memiliki penyakit kronis pada paru-paru atau jantung.

Cek Sebelum Beraktivitas di Luar Rumah
Mengetahui kualitas udara secara berkala bisa menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan kewaspadaan.

Informasi dari Google Maps, IQAir, maupun BMKG dapat membantu masyarakat melihat kondisi udara sebelum menentukan aktivitas luar ruangan.

Terlebih ketika terjadi peningkatan polusi, karhutla, atau erupsi gunung berapi, kebiasaan mengecek kondisi udara dapat membantu kita mengambil keputusan dengan lebih bijak.***