POJOKSATU.id, PADANG LAWAS - Salah satu peninggalan sejarah jaman Hindu-Buddha di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) terletak di Desa Bahal, Kabupaten Padang Lawas (Palas) Utara, yaitu Candi Biaro Bahal atau Candi Portibi.
Candi ini merupakan situs purbakala di Padang Lawas, dan cukup dikenal di Sumut khususnya kawasan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), situs ini memiliki ciri-ciri bangunan candi Hindu dan Buddha, serta menjadi komplek percandian terbesar di Sumatera bagian Utara.
Dikutip melalui Disbudpar Sumut, bentuk Candi Bahal mengacu pada bentuk dan fungsi bangunan untuk tempat beribadah, pusat pengajaran agama, serta menyimpan abu jenazah para raja.
Selain itu, candi ini juga digunakan untuk tempat pemujaan atau persemayaman dewa dan petirtaan (pemandian), serta gapura.
Candi Portibi sudah ada sejak ribuan tahun lalu, sekitar abad ke-11. Candi Bahal memiliki corak Buddha dan menjadi peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Utara.
Sekeliling bangunan ini terdapat patung yang diukir dari batu pasir. Masing-masing candi dikelilingi tembok bata setebal 1 meter dan setinggi 1 meter. Pintu gerbang terletak di sisi timur dan memanjang ke luar dengan tinggi dinding 60 cm di kedua sisinya. Di tengah masing-masing daerah berdiri candi utama dengan pintu masuknya menghadap gerbang.
Situs Padang Lawas sering dikaitkan dengan data sejarah tentang sebuah kerajaan atau wilayah yang bernama Pannai atau Pane. Tetapi sampai saat ini masih ada perdebatan mengenai kerajaan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara telah di mengusulkan Candi Bahal dalam daftar kawasan destinasi objek wisata dan usulan pembangunan zona pengembangan ke Kementrian Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata.
Tahun 2023, sebagai bentuk pelestarian budaya, perayaan Waisak akan digelar di Candi Bahal oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sumut, pada 4 Juni 2023. (TIK/pojoksatu)
BACA JUGA: Apresiasi Perayaan Waisak di Candi Bahal, Edy Rahmayadi: Lestarikan Budaya di Sumut




