POJOKSATU.ID - Di layar televisi, angka-angka ekonomi terlihat menenangkan.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut inflasi Oktober 2025 hanya 0,28% month-to-month, atau 2,86% year-on-year.
Artinya, harga-harga barang di Indonesia dianggap stabil dan terkendali.
Baca Juga: Kadisdik Depok Ajak Satuan Pendidikan Terapkan Budaya Kerja Cerdas Lewat Tertib Arsip
Tapi di pasar tradisional, cerita berbeda terdengar dari mulut pedagang dan pembeli.
Inilah kontras klasik yang sering terjadi statistik bicara dingin, rakyat bicara pedas.
Harga Cabai Bikin Panas, Tapi Tak Goyahkan Data
Oktober menjadi bulan pedas bagi dapur rumah tangga.
Harga cabai merah dan cabai rawit naik hingga 15–20% di beberapa daerah.
Baca Juga: Kadisdik Depok Ajak Satuan Pendidikan Terapkan Budaya Kerja Cerdas Lewat Tertib Arsip
Kenaikan disebabkan cuaca ekstrem dan keterlambatan pasokan dari sentra produksi, terutama Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Namun di sisi lain, penurunan harga beras, minyak goreng, dan daging ayam cukup besar hingga berhasil menahan lonjakan inflasi secara keseluruhan.
Itulah sebabnya BPS mencatat inflasi nasional tetap rendah.
Baca Juga: Stasiun Tanah Abang Kini Megah, Pertanda Era Baru Transportasi Publik Zaman Prabowo
Meskipun cabai bikin pedas di meja makan, dalam hitungan statistik nasional, efeknya tidak terlalu besar karena tertutup oleh komoditas lain yang harganya turun.
Emas Naik, Tapi Tidak Semua Orang Beli
Selain cabai, emas perhiasan juga menjadi penyumbang inflasi tertinggi pada Oktober 2025.
Harga emas melonjak karena gejolak global dan tingginya permintaan investasi.
Baca Juga: Parah Moral Para Nakes Ini, Ngintip Bidan Pakai Kamera Tersembunyi Di Kamar Yang Ada Di Puskesmas
Namun efeknya hanya terasa di kalangan menengah ke atas yang aktif berinvestasi.
Kenaikan harga emas memang mencatat inflasi di kertas, tapi tidak dirasakan langsung oleh mayoritas rakyat kecil.
Inilah alasan kenapa inflasi bisa tetap rendah meski komoditas ini naik tajam.
Di Pasar, Inflasi Itu Soal Rasa
Bagi masyarakat, inflasi bukan angka, tapi rasa rasa beratnya belanja mingguan, rasa cemas melihat harga naik.
Maka wajar jika ketika BPS mengumumkan inflasi turun, sebagian rakyat mengernyitkan dahi.
Kondisi ini menggambarkan jurang persepsi antara data nasional dan realita lokal.
Inflasi nasional diukur dari rata-rata harga di seluruh wilayah, sedangkan rakyat hanya merasakan harga di pasar terdekatnya.
Jurus Pemerintah Menjaga Pasokan, Bukan Hanya Statistik
Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memang aktif melakukan operasi pasar dan subsidi transportasi bahan pangan.
Langkah itu membantu menekan lonjakan harga di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Namun tantangan muncul di wilayah non-sentra ekonomi.
Biaya logistik antar-pulau masih tinggi, dan distribusi pasokan tidak selalu lancar.
Ke depan, pengendalian inflasi tidak cukup lewat angka makro.
Baca Juga: Sejarah Baru Terukir, Ansor Tangsel Sukses Gelar Susbalan Angkatan Pertama
Perlu penguatan distribusi, ketahanan pangan, dan monitoring langsung di daerah agar kebijakan benar-benar menyentuh rakyat.
Inflasi Rendah, Tapi Daya Beli Masih Lemah
Meski inflasi terlihat jinak, daya beli masyarakat masih belum sepenuhnya pulih.
Menurut survei Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sedikit menurun dibanding kuartal sebelumnya.
Baca Juga: KAI Untung dari KRL, Tapi Rugi di Whoosh Triliunan, Dua Wajah Bisnis Kereta Nasional
Masyarakat menahan belanja barang non-pokok karena khawatir harga akan naik lagi di akhir tahun.
Kondisi ini membuat ekonomi terasa stagnan di level mikro harga terkendali, tapi pendapatan tak ikut naik.
Inflasi Aman, Tapi Dapur Tetap Harus Dijaga
Statistik boleh tenang, tapi dapur rakyat tetap harus dijaga.
Baca Juga: BI Borong Surat Utang, Impor Naik Tanda Ekonomi Indonesia Sedang Panas atau Justru Mulai Tertekan?
Inflasi rendah memang prestasi, tapi stabilitas harga harus dirasakan sampai ke meja makan, bukan hanya di grafik BPS.
Cabai boleh naik, emas bisa melambung, tapi tugas pemerintah belum selesai: memastikan harga pangan strategis tetap terjangkau bagi masyarakat kecil.
Karena di negeri dengan 270 juta perut, inflasi bukan sekadar angka tapi urusan nasi, cabai, dan minyak goreng.***




