POJOKSATU.id, JAKARTA-- Busa yang keluar dari mulut Sutrimo (42) penjaga rumah atau Karumga rumah eks Jampidsus Febrie Adriansyah ternyata diakibatkan karena edema paru akut.

Edema paru akut adalah kondisi di mana paru-paru dipenuhi cairan hingga menyebabkan penderitanya mengalami sesak napas akut.

Demikian penjelasan Tim Ekshumasi Polda Metro Jaya terkait penyebab kematian Sutrimo di depan klinik Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Tim ekshumasi menjelaskan busa yang muncul dari mulut Sutrimo saat ditemukan tewas di depan Klinik Mordent, Kamis (23/7/2026).

Baca Juga: Polda Metro Jaya Beberkan CCTV Sebelum Meninggalnya Sutrimo Penjaga Rumah Eks Jampidsus

Ketua Tim Ekshumasi, dr Ahmad Yudianto menyampaikan, hasil ekshumasi menunjukkan busa tersebut akibat edema paru akut sebelum korban meninggal.

“Busa yang keluar dari korban ini diakibatkan karena edema paru akut,” kata Yudianto dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (30/9/2026).

Menurut Yudianto, edema paru akut adalah kondisi di mana paru-paru dipenuhi cairan hingga menyebabkan penderitanya mengalami sedak napas akut.

Kondisi ini, kata Yudianto, disebut bercampur dengan lendir dan menyebabkan keluarnya busa berwarna putih dari mulut.

Baca Juga: Periksa 27 Saksi, Polda Metro akan Umumkan Hasil Ekshumasi Jenazah Sutrimo Pekan Ini

“Itu bisa disebabkan adanya cairan pada paru-paru serta lendir dan mengakibatkan karena sulit saluran napas itu tidak lancar. Sehingga seperti dikocok, sehingga keluar busa warna putih, sebenarnya ini termasuk dalam salah satu penyebab keluarnya busa putih tersebut," ucapnya.

Yudianto juga menjelaskan kondisi Sutrimo diperparah setelah begadang setelah motornya mogok, lalu berkeliling di sekitar Kramat Pela dan terpantau tiba di sekitar Klinik Mordent pukul 05.38 WIB.

Sutrimo juga diduga mengonsumsi kopi sehingga kandungan kafein dari memicu memburuknya kondisi penyakit jantung tersebut.

"Iya begitu, karena minum kopi kan dia," ujar Yudianto.

Yudianto mengungkapkan, hasil uji toksikologi menemukan adanya kandungan kafein pada berbagai organ tubuh Sutrimo, tetapi tidak ditemukan adanya indikasi racun atau zat berbahaya lainnya di dalam tubuh Sutrimo.

"Pemeriksaan toksikologi dari organ beserta tanah yang ditemukan dan ada di sekitar pemakaman, tidak menemukan adanya kandungan pestisida, alkohol, arsen, maupun sianida. Di sisi lain, pemeriksaan menemukan adanya kafein pada berbagai organ dan jaringan tubuh," jelas Yudianto.

Selain itu, tim dokter juga mengungkap adanya kondisi kelainan sejumlah organ tubuh Sutrimo selama proses pemeriksaan forensik.

"Kelainan itu berupa lekukan pada cuping telinga kanan dan kiri, lemak abdomen yang tebal, dinding arteri koroner yang keras dan menebal, serta ditunjang dengan pemeriksaan dari histopatologi di mana menunjukkan adanya penyempitan lumen arteri pembuluh arteri sekitar 75 persen," ujarnya.

Atas dasar seluruh rangkaian pemeriksaan medis tersebut, tim dokter forensik menyimpulkan penyebab medis kematian korban mengarah pada penyakit jantung.

"Berdasarkan dari temuan serta fakta-fakta dalam proses pemeriksaan ekshumasi dan otopsi, jadi seperti yang kami simpulkan tadi bahwasanya meninggalnya almarhum Tuan Sutrimo ini karena penyakit jantung iskemik," tutur Yudianto.***