POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Entah di Kabupaten Purwakarta ini ada pemimpinnya atau tidak, tidak hanya dipelosok pedesaan di tengah kotapun jalan tampak berlubang dan hal itu sangat membahayakan bagi para pengendara pengguna jalan yang melintas.

Atau menunggu hingga ada korban terlebih dahulu baru jalan itu akan diperbaiki, seperti beberapa waktu lalu kejadian di daerah ciganea ketika ada korban baru jalannya diperbaiki.

Banyak warga hanya bisa mengelus dada, melihat kondisi infrastruktur fasilitas umum yang sudah mulai rusak dan perlu perbaikan atau kemungkinan terbaikan pemimpin daerahnya, sementara beberapa malam lalu Bupatinya tengah asyik-asyikan bejoget menyaksikan konser salah satu group musik.

Kondisi jalan yang rusak berlubang ini diperparah oleh ada beberapa warga yang memanfaatkan dengan menimbun jalan berlubang tersebut dengan bahan seadanya (brangkal), sambil meminta sumbangan kepada para pengendara yang lewat (ngencleng) hal itu sangat membahayakan karena berada di jalan utama kota purwakarta.

Seperti yang terjadi di Jalan utama menuju kota Purwakarta, atau tepatnya di perempatan combro banyak badan jalan yang berlubang kemudian ditimbun oleh berbagai ‘brangkal’ oleh masyarakat, kemudian sambil meminta sumbangan kepada para pengguna jalan.

“Ini membahayakan, seharusnya bupati peka. Harusnya bupati setiap pagi keliling, melihat-lihat situasi lingkungan sekitar minimalny di perkotaan,” kata Deni (37) warga yang melintas di perempatan parcom, Senin (27/02).

Sebelumnya juga diberitakan, seorang pengantin pria yang juga anggota DPRD Purwakarta membuat kritikan sederhana tapi cukup keras, dengan cara berjongkok ditengah jalan yang berlubang yang digenangi air sambil mengenakan pakaian pengantin adat sunda.

Baca Juga : Kritik Keras Buat Bupati Purwakarta Dari Pengantin Pria, ‘Masih Banyak Jalan Yang Berlubang, Sebelum Menuju Lubang Yang Bisa Berjalan’

Kejadian pengantin pria mengkritik itu terjadi di wilayah kecamatan maniis, saat dirinya akan menuju ke rumah mempelai wanita bersama keluarga besarnya dengan cara berjalan kaki (ngabesan).

Terbaru, jalan berlubang ternyata terjadi juga di pusat kota purwakarta, seolah wilayah ini tidak ada pemimpin yang peka terhadap kondisi yang membahayakan masyarakatnya, tapi lebih asik joget-joget menyaksikan konser daripada membenahi infrastruktur yang mulai amburadul. (Ade Winanto / pojoksatu)